9. ... Dia Jadi Milikku

422 31 2
                                        

     Sebuah perjuangan cinta untuk menyatukan hubungan mereka telah berhasil didapatkan. Dan malam ini, Ayşu dan Sancar pulang ke rumah Sancar. Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu dan duduk di sofa bersama. Berdua.
   “Sancar,” sahut Ayşu melirih.
    Sancar menoleh pada Ayşu. Tersenyum tipis pada gadis itu.
   Ayşu menundukkan kepala. “Terima kasih ... karena kau telah menerimaku masuk ke dalam hatimu. Jujur, kali ini aku bahagia, amat bahagia, Sancar. Entah apa yang akan kulakukan untuk membalas semua kebahagiaan ini padamu dan juga pada Tuhan yang telah memberiku kebahagiaan ini yang amat berharga untukku. Ya, aku juga bersyukur akan hal ini. Tapi, aku tidak tahu cara membalasnya karena saking bersyukurnya.”
    “Awalnya aku juga bingung akan bagaimana caranya menerimamu ke dalam hatiku. Karena alasan sebelumnya aku membencimu dulu, bahkan sama sekali aku tidak ingin memandang atau pun menyentuhmu,” lirih Sancar yang membuat gadis itu menoleh padanya.
    Ayşu terdiam saat mengingat masa-masanya dengan Sancar, yang saat itu Sancar masih membenci dirinya.
   Ayşu mengingat itu, di mana saat itu Anka membuat kacau suasana.
.
.
.

“Siapa dia? Apa dia ...”
  Ayşu menundukkan kepalanya. “Dia ...”
  Belum sempat menjelaskan tiba-tiba saja Anka berdiri dan berseru; “Ya! Dia kekasihku, aku kekasihnya!” Omong kosong dari Anka membuat Ayşu semakin takut.
   “Apa?” gumam Sancar memekik.
   “Itu benar!” seru Anka. Ia pun tiba-tiba mengingat bahwa Sancar dan dirinya pernah bertemu satu bar tujuh tahun lalu. “Dan kita juga saling bertemu. Ada baiknya kautanyakan pada wanita itu tentang pribadinya.”
   “Ayşu,” sahut Sancar menoleh pada Ayşu. Namun, Anka dan bodyguard-nya berdiri dan menghampiri mereka berdua dengan pincang. Ayşu diam menggigit bibir, menatap lurus, berkaca-kaca pada pria yang ia sayangi. Oh, Sancar! Dia bohong!
    “Dan ya, apa kau tahu, Tuan? Dia mantan istriku juga! Dia selalu melayaniku dengan baik! Dia itu model majalah dewasa yang suka berpose naked, dan diumbar di majalah dewasa. Apa kau kekasihnya juga? Apa dia melayanimu dengan baik? Dia pelacur. Jadi, wajarlah seperti itu!” Lagi-lagi Anka berbicara omong kosong yang membuat Sancar berapi-api, apalagi saat ia menyebutku dengan sebutan kata ‘Pelacur’ yang amarahnya tak mampu dibendung lagi. Para bodyguard itu tertawa, sementara Ayşu diam menahan isak tangis karena menuding dengan sebutan ‘mantan istri’ padahal sama sekali ia belum menikah. Demi apa dia berkata seperti itu!
    “Jaga omonganmu, bangsat!” Kali ini Sancar berbicara kasar dengan mantan kekasihku.
   “Kenapa?” Anka mengerutkan dahi, menunjukkan senyuman sinisnya. “Kau tidak percaya padaku? Lihatlah, Tuan! Lihat dia! Buka matamu! Dari awal kau juga jijik, kan? Namun, dia pandai membuatmu jatuh cinta! Aku tahu kau mencintainya!”
   Sancar emosi, hendak menghajar pria itu lagi. Namun, aku mencegahnya. Hal ini dapat menjadi masalah besar. “Hentikan! Cukup!”
   “Kenapa? Kau malu? Katakan saja padanya, bahwa aku adalah kekasihnya dulu.” Anka tersenyum sengit, melirik Sancar beberapa detik. “Apa dia tidak pernah menceritakan tentangku padanya, Ayşu?”
   Ayşu terdiam. Sancar amat kecewa padaku.
  “Tidak.” Terpaksa Ayşu menjawab jujur.
  “Nah, berarti itu sudah terbukti untukku. Aku umumkan pada kalian semua, bahwa Ayşu masih mencintaiku! Ha-ha-ha!” Anka tertawa puas.
   Silakan, Anka, lakukan semaumu. Tertawalah. Kau membuatku hancur dengan omong kosong dan fitnahmu telah membuatku jatuh ke jurang, Ayşu berkata dalam hati.
   Anka dan para bodyguard-nya pergi meninggalkan mereka dengan tawa rianya. Ya Tuhan, gara-gara mereka telah membuat suasana semakin hancur.
   “Sancar,” sahut Ayşu.
   Sancar diam. Memaku.
   “Apa kau kecewa padaku? Maafkan aku, tadi—”
   “Ya! Aku kecewa padamu! Kaubuat aku semakin membencimu! Aku semakin jijik padamu!” bentak Sancar. Hati mereka sama-sama hancur.
    “Memang benar Anka mantan kekasihku. Tapi, ini bukan seperti yang kaupikirkan. Kumohon, Sancar ....”
   “Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?”
   “Aku malu.” Ayşu menundukkan kepala.
   “Kau malu menceritakan tentang mantan kekasihmu, tapi kau sama sekali tidak ada malunya saat menceritakan pekerjaanmu itu padaku! Katakan, apa maksudmu itu? Hah!”
   “Sancar ...” lirih Ayşu tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
   “Kau ini siapa? Katakan padaku! Kau membuatku hancur, Ayşu!”
   “Sancar, kumohon jangan percaya kata-katanya. Tolong ....”
   “Dugaanku benar ternyata.”
   “Sancar, kumohon ....” Ayşu memegang lengan pria itu, tapi si pria menepisnya lembut. Semakin hancur saat Sancar menjauh beberapa langkah darinya.
   “Aku mulai jijik denganmu, Ayşu. Dengar, aku hanya penyanyi jalanan biasa. Lantas mengapa aku harus bertemu denganmu? Bertemu dengan wanita model majalah dewasa yang membuatku jijik menatapnya, karena yang kutahu, wanita seperti itu selalu menggoda dan melayani banyak pria bermain di ranjang! Tetapi aku berpikir kau tidak seperti itu karena aku amat mencintaimu, kau hanya mengecewakanku dan membuatku berdemikian.”
   Ayşu semakin terpaku, berteriak histeris. “Kau adalah cinta dan nyanyianku, Sancar! My resound! Suaramu bagaikan nada yang selalu berdengung di telinga, kau bagaikan lagu yang membuatku hanyut terus mengikutimu sampai saat ini. Aku mencintaimu!”
   “Apa yang dikatakan Anjingmu itu benar, aku memang mencintaimu! Hatiku terbuka saat kita tidak bertemu setengah tahun. Lalu apa yang kaulakukan ini membuatku hilang perasaan terhadapmu. Kau ingat? Kau mengatakan bahwa kau ini takdirku, kau sendiri yang mengatakannya. Namun, pada akhirnya kau sendirilah yang menelan omonganmu.”
  “Sancar ...”
  “Pulanglah, sekarang kau aman. Jangan temui aku lagi. Jika kita bertemu, maka kita semakin menjauh.” Itulah kata-kata terakhir yang Sancar ucapkan pada Ayşu pelan, lembut sekali. Perlahan-lahan Sancar meninggalkannya.
  Ayşu terduduk lemas, berteriak histeris menyebut nama pria itu dan ingin meminta kesempatan darinya. Ia mengabaikan pakaiannya yang robek. Namun, Sancar sama sekali tidak menggubris. Semakin hancur dibuatnya.
.
.
.
    Usai mengingatnya, Ayşu tersenyum. “Buktinya, sekarang kau justru menyukai sentuhanku, ciumanku untukmu. Pokoknya, kau hari ini langsung membalasnya.
   Mereka berdua tertawa sejenak. Suasana hening.
  “Tapi aku menyukainya, Sancar. Sangat menyukainya, apalagi ini semua darimu, rasanya aku ingin terbang setinggi langit dan aku—” Belum sempat Ayşu menjelaskan semuanya, Sancar langsung mengecup bibir gadis itu sejenak.
   Cup!
  Sancar kembali menatap mata gadis itu seusai menciumnya. “Jangan tinggalkan aku lagi, ya?”
   Ayşu tersenyum. Mengangguk cepat. “Jika aku melakukan demikian, jauhi aku. Tidak apa-apa. Karena ini juga adalah hukumanku.”
  Mereka saling tersenyum, tertawa sejenak, kemudian bertatap mata. Mereka berdua kembali berciuman bibir, dari awalnya lembut hingga semakin panas. Gairah cinta mereka tidak akan berhenti saling menyalur.

Resound (Reupload)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang