Chapter 16

216 20 0
                                        

"Gimana dong, Vin?"

"Kamu bilang sama orang tua kamu aja dulu, kalo emang orang tua kamu setuju. Ya nanti aku anterin kamu bikin visa sama paspornya."

"Tapi, kamu ngebolehin?"

"Ya kenapa enggak? Kamu liburan kan di sana?"

"Tapi pasti seluruh liburan aku ya sama Dion. Aku gak tau apa-apa di sana."

"Ya, aku sih boleh aja. Terserah kamunya gimana."

"Aku pikir-pikir dulu, deh."

Aku sangat ingin pergi ke Los Angeles bukan hanya karena Dion, tetapi memang dari dulu aku ingin ke sana. Aku takkan bisa ke sana kalau tidak bersama Dion yang sudah paham dengan budaya dan kehidupan di sana. Ya Allah, tolong aku. Aku bertawakal harus bagaimana.

Saat mama dan papa sudah pulang, aku langsung menghampiri mereka, tetapi aku belum bisa menceritakan apa yang barusan terjadi karena bibirku masih terbata-bata.

"Apa sih? Kamu tenangin dulu baru cerita" ujar mama.

"Coba Davin kamu ceritain Diana kenapa" bujuk papa.

Aku, mama, papa, dan Davin duduk di sofa ruang tamu.

"Jadi gini, Om, Tan. Kan Diana sama Dion udah putus, nah barusan ada paket dari Amerika, dari Dion. Dion itu ngasih Diana tiket ke Los Angeles buat tanggal 9 April sampai 14 April. Diana mau ke sana, tapi dia masih bingung karena suasananya lagi kayak gini. Dia minta saran dari om sama tante secepatnya karena harus bikin paspor dan visa dulu"

Mama dan papa terdiam, suasana sangat hening.

"Kalo papa sih terserah kamunya aja, kalo kamu niatnya liburan ke sana ya liburan aja."

"Tapikan di sana kamu sendiri, kamu gak ngerti apa-apa. Kalo sama Dion, kan kamu udah putus sama dia." sambung mama.

"Loh? Emang kenapa kalo udah putus? Kan masih temenan."

Papa dan mama malah saling bantah-membantah.

"Ya terserah sih gimana. Kalo mama sih bilang gak usah, kalo emang maksa ke sana ya minta temenin, sama mama gitu."

Lah, mama malah kode.

"Ye, itumah mama yang mau jalan-jalan juga." ledek papa.

"Hehe."

Mama sama papa debat. Mama menyarankanku untuk tidak pergi, sedangkan papa menyarankanku untuk pergi. Entahlah, aku lelah mendengarnya, masih 3 bulan juga. Nanti saja aku mengambil keputusannya. Kan kata Davin gak boleh mengambil keputusan dalam keadaan marah, sedih, panik atau bingung. Jadi jalanin dulu aja.

Satu sisi aku merasa tidak enak dengan Davin jika aku pergi, artinya aku masih peduli dengan Dion dan tidak sepenuhnya sayang dengannya. Namun, satu sisi lain aku sangat tidak enak kepada Dion yang sudah rela menabung selama 5 bulan hanya untuk membelikanku tiket pulang pergi ke Los Angeles dan sudah mempunyai rencana apa yang kami akan lakukan selama aku di sana. Mengapa semuanya mempunyai pilihan yang sama-sama sulit untuk dipilih. Ya, hidup itu memang pilihan. Sekali kita salah di satu pilihan, mungkin masih ada kesempatan untuk membenarkan kesalahan itu. Aku berharap kali ini aku tidak salah untuk menentukan pilihan.

The DifferenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang