Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Khusus hari ini, Naren sengaja untuk pulang lebih awal. Karena Baron pasti akan membutuhkannya di rumah.
Dia berjalan menuju parkiran kampus dan mencoba menghubungi ponsel Baron.
Teleponnya tersambung.
"Halo" ujar Baron.
Suaranya masih saja terdengar lemah sejak tadi pagi.
"Masih sakit?" tanya Naren
"Demamnya belum mau turun"
"Berarti belum baikan dari tadi pagi?"
"Iya. Malah tambah parah kayaknya"
"Mau makan bubur?" tanya Naren
"Hmm, iya. Tapi setengahnya aja"
"Yaudah ntar pulang gua beliin. Matiin teleponnya"
Tanpa basa-basi, dia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera mengeluarkan motornya.
☆☆☆★
Tidak jauh dari kampus, Naren menghentikan motornya dan turun memesan setengah porsi bubur di dekat halte.
"Naren" panggil seseorang. Itu suara Bintang.
Naren hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil.
Dan tanpa sadar hal itu membuat Bintang merasa lega. Naren ternyata sama sekali tidak marah padanya.
Namun, dia memutuskan untuk tetap duduk di halte dan tidak menghampiri Naren. Bintang takut kejadian tadi pagi akan terulang lagi. Jadi, dia akan berusaha menjaga sikapnya mulai saat ini.
Sore ini, udara terasa sangat sejuk. Langit pun terlihat sedikit gelap. Sepertinya hujan akan turun.
Naren berjalan mendekati halte dengan membawa jas hujan. Sepertinya Naren menyadari cuaca sore ini.
"Gak pulang?" tanya Naren tiba-tiba.
"Lagi tunggu Daryl jemput" jawab Bintang hati-hati.
Naren hanya mengangguk dan menyibukkan dirinya dengan jas hujan.
Tiba-tiba ponsel Bintang berdering. Itu panggilan masuk dari Tante Rita, Bunda Daryl.
Bintang segera menerimanya.
"Assalamualaikum, bunda" ucap Bintang
"Bintang" Isak Tante Rita.
"Bunda kenapa?" Tanya Bintang panik.
Naren mendengar itu menghentikan kegiatannya.
Tubuh Bintang lunglai, jantungnya berdetak tak karuan. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya kosong, menahan tangisanya.
"Ada apa?" tanya Naren ikut panik. Bintang tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan.
"Bintang" ujar Naren sembari mengguncangkan tubuh Bintang.
"Daryl, ren" Tangis Bintang tumpah. Dia mengenggam lengan Naren kuat. Naren mengerutkan keningnya.
"Anter gue, ren" ujar Bintang yang masih menangis. Tetesan hujan mulai membasahi jalan.
Naren mengangguk mantap. Dia melepas jas hujannya dan memakaikannya untuk Bintang. Mereka pun pergi di tengah hujan.
★☆☆☆★
Bintang berlari di lorong rumah sakit. Tangisan membanjiri wajahnya.
Dari belakang, Naren berjalan mengikutinya. Pakaiannya sudah basah kuyup karena kehujanan.
Setibanya di depan ruang operasi, Bintang melihat Tante Rita terduduk lemas di lantai. Bintang segera mendekatinya.
"Bundaa" panggil Bintang dan langsung memeluk erat tubuh Tante Rita. Mereka berdua menangis tersedu-sedu.
Naren yang melihat hal itu hanya berdiri memandanginya.
Kemudian dia pergi untuk meminjam baju rumah sakit dan mengganti pakaiannya yang basah.
"Ini pasti gara-gara Bintang kan? Daryl kecelakaan itu gara-gara Bintang, bun" Ujar Bintang menangis. Air matanya terus mengalir di matanya.
"Gak sayang. Ini semua udah diatur sama Tuhan. Yang harus kita lakuin sekarang hanya berdoa supaya operasi Daryl lancar" ucap Tante Rita menenangkan. Tangannya membelai rambut Bintang halus dan kembali memeluknya.
Tak lama kemudian, Naren kembali dengan pakaian rumah sakit. Kemudian disusul dengan kedatangan pria yang lengkap dengan setelan jasnya. Pria itu adalah ayah Daryl. Tante Rita segera berlari dan memeluk suaminya.
Lagi-lagi Naren hanya diam berdiri. Dia terus memandangi Bintang yang terus menangis di samping pintu operasi.
Seseorang memegang lengan Naren pelan. Itu Tante Rita.
"Iya Tante?" Tanya Nare pelan.
"Tante titip Bintang sebentar ya, sayang?" Pintanya.
"Iya Tante" jawab Naren.
Kemudian Tante Rita berjalan mendekati Bintang. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi yang jelas Bintang terlihat mengangguk dan menyetujuinya.
Kemudian Tante Rita dan suaminya pergi meninggalkan Bintang dan Naren berdua.
Sepertinya mereka akan mengurusi biaya rumah sakit atau mengambil beberapa perlengkapan di rumah. Pikir Naren.
Naren berjalan dan duduk di salah satu kursi di sana. Matanya terus memandangi Bintang yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
Kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya. Air matanya tidak pernah berhenti mengalir dari matanya.
Naren bangkit dari kursinya. Berjalan dan menarik Bintang kedalam pelukannya. Tangis Bintang pecah.
Bintang membalas pelukan Naren. Tanganya mengenggam erat pakaian rumah sakit yang Naren kenakan😂
"Mau duduk?" tawar Naren me lepas pelukannya
Bintang menyeka air matanya dan mengangguk pelan.
Mereka berjalan dan duduk di kursi.
"Gue takut, ren" kata Bintang pelan
"Tapi, gua gak takut" balas Naren
Bintang menatap Naren heran. Sedangkan Naren mengangkat kedua alisnya menunggu apa yang akan diucapkan gadis cengeng itu.
Namun nihil. Bintang tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa.
"Tanya 'kenapa' dong" titah Naren datar.
Dengan patuhnya Bintang bertanya "Kenapa?"
"Karena gua yakin Daryl pasti baik-baik aja" ucap Naren yakin.
Bintang tersenyum haru, air matanya kembali menggumpal di pelupuk matanya.
"Jangan nangis lagi" kata Naren menepuk bahu Bintang pelan.
Namun, Isak tangis kembali menggema di telinga Naren. Bahkan kali ini Bintang menangis lebih kencang dari sebelumnya.
Ck
Naren bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan Bintang sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
DECEMBER
Teen FictionKarena kamu tidak tahu alasan tuhan melibatkan kita dalam skenario rumit ini
