12 |bubur.

53 9 2
                                        

"Ron, udah baikan?" Tanya kak Jane lembut.

Baron hanya menggeleng lemas.

"Berobat yuk" ajak Kak Jane sembari memegang kening Baron.

"Ketemu Naren di jalan gak?" Tanya Baron pelan.

"Gak. Emang Naren belum pulang?" Tanya kak Jane balik.

Lagi lagi Baron membalas dengan gelengan.

Kemudian kak Jane segera merogoh ponsel dan menghubungi Naren.

★☆☆☆★

Naren berdiri di depan rumah sakit. Menghela napas panjang dan menikmati udara sejuk malam ini.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Kak Jane. Tanpa berfikir panjang, Naren segera menerima panggilannya.

"Halo. Assalamualaikum, kak" ucap Naren.

"Waalaikumsalam ko tumben belum pulang, ren?"

"Iya kak. Ini Naren lagi di rumah sakit"

"Di rumah sakit?" Ucap kak Jane setengah berteriak.

"Iya kak"

"Halo" kini Baron yang angkat bicara. Sepertinya dia panik ketika kak Jane berteriak.

"Ron, maaf ya. Buburnya gak sampe rumah" ucap Naren ketika menyadari suara Baron di balik telepon.

"Lu ngapain di rumah sakit? Jatoh pas beli bubur buat gua?" tanya Baron parau

"Daryl kecelakaan, ron." jelas Naren.

"Ya ampun, terus gimana keadaanya?"

"Operasinya belum kelar. Ntar gua kabarin lagi"

"Oke. Terus lu pulang gak malem ini?"

"Baju gua basah, Ron. Ini gua pake baju rumah sakit" keluh Naren

"Ntar gua pesen grab. Kirim alamat rumah sakitnya"

"Oke. Matiin teleponnya"

Sambungan terputus...

Naren segera mengirim alamat rumah sakit kepada Baron. Kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Dia berjalan menuju motornya dan mengambil kotak bubur yang mulai menggigil.

★☆☆☆★

Suara tangisan kembali terdengar di telinga Naren. Dia kembali duduk di samping Bintang dengan kotak bubur yang malang.

Naren's flashback on

"Kakinya masih sakit?" tanya ibu lembut.

Aku mengangguk dan terus menangis.

"Anak laki-laki itu gak boleh cengeng. Jadi, Naren gak boleh nangis lagi ya"ujar Ibu sembari mengoleskan obat merah pada lututku.

DECEMBERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang