"Lah Ren, emang lu ada jadwal masuk sekarang?" Tanya Baron pelan saat menyadari Naren sudah rapih dan mandi.
"Mau cari makan"
Baron tertawa mendengarnya. "Kaya kaga ada makanan aja di rumah"timpalnya.
Naren tertawa kecil kemudian keluar dari rumah menggunakan skateboard.
"Gua pergi ya" teriak Naren
"Jangan lupa balik"balas Baron berteriak
★☆☆☆★
Jam 07.00 pagi. Bintang duduk di halte.
"Bi, lu masuk kuliah ga?"
"Masuk"
"Lu gapapa kan?"
"Gue lagi nunggu bus"
"Belum ada kabar dari Daryl?"
"Belum lon"
"Gue aja deh yang nganter lu ke kampus ya?"
"Gausah. Bentar lagi juga busnya dateng"
"Udah. Tunggu ya, gue otw"
"Makasih ya lon"
Bintang memutuskan panggilan dari Ilona.
Tak lama kemudian, Ilona datang dan segera mengantar Bintang ke kampus.
"Maaf ya gue jadi ngerepotin lu pagi-pagi. Padahal lu gak ada jadwal pagi hari ini"
Kata Bintang sesampainya di kampus.
"Apaan si. Santai aja kali. Gue juga sekalian mau beli sarapan,kok" balas Ilona
"Yaudah gua masuk ya" Ucap Bintang
Ilona mengangguk dan kemudian menyalakan motornya
"Daaah" pamit Ilona sembari melambaikan tangannya.
Bintang tersenyum dan membalas lambaiannya.
★☆☆☆★
Naren menggerakkan kakinya ke tanah sesekali. Dia berkeliling di antara para penjual yang berjajar. Entah makanan apa yang dicarinya pagi ini.
Di lain tempat, Ilona memarkirkan motornya. Dan kemudian berjalan mencari makanan.
Alih-alih mencari makanan. Mata Ilona malah tertuju pada pria yang bermain skateboard didepanya.
Jantung Ilona berdegup kencang ketika pria itu menoleh kebelakang kemudian menghentikan skateboardnya dan berjalan mendekati gerobak nasi bakar pak ijo
"Dia kan yang waktu itu di perpus" batin Ilona.
Dia sengaja menghampiri gerobak "nasi bakar pak Ijo"
"Bang pesen satu ya" kata Ilona
"Iya mba" timpal pak Ijo
"Mas pesen tiga ya? Pedes semua mas?" Tanya pak Ijo pada Naren
"Iya" jawab Naren
"Tapi titip disini dulu ya pak. Saya mau keliling lagi"
"Oh iya mas"
Naren pun berjalan keluar.
"Eh sebentar"
Langkah Naren terhenti. Dia menengok ke arah suara.
"Inget gue gak?" tanya Ilona tiba-tiba
Naren menatap Ilona lama. Dia berpikir keras.
"Cewe yang waktu itu duduk di bangku gua ya?" tanya Naren memastikan
Ilona mengangguk
"Btw lu tinggal deket sini?" Tanya Ilona.
Naren mengangguk.
"Mba, ini nasi bakarnya" kata Pak Ijo tiba-tiba.
"Oh ini uangnya pak. Makasih"balas Ilona kemudian lanjut berbicara dengan Naren.
"Lu suka main skateboard, ya?" Tanya Ilona sambil berjalan.
"Lumayan" jawab Naren kemudian berjalan sembari menuntun skateboardnya.
"Dari kapan bisa main skateboard?"tanya Ilona lagi
"SD"
"Udah lama berarti"
"Iya"
"Gue juga punya temen yang bisa maen skateboard. Tapi dia pelit banget."
"Hmmm"
"Gue jadi pengen coba make"
Naren menengok kearah Ilona. "Pake aja" timpal Naren sembari memberikan skateboardnya pada Ilona.
"Tapi gue gabisa makenya hehe" kekeh Ilona
"Oh yaudah" kata Naren acuh
Ilona mengangguk dan tersenyum pasrah.
"Lu sibuk gak?" Tanya Ilona
Naren hanya menggeleng.
"Ga ada jadwal masuk hari ini?"
"Ga ada"
"Gue minta ajarin main skateboard, boleh gak?" tanya Ilona ragu.
Tidak ada jawaban. Naren terus berjalan.
"Tapi kalo lu...." Ucap Ilona terpotong
"Coba" kata Naren sembari menggeletakan skateboardnya di tanah.
"Bisa naik sepeda gak?" Tanya Naren
Ilona tersenyum dan mengangguk
"Coba naik" titah Naren
Ilona menaikkan kaki kanannya.
"Coba gerakin" titah Naren lagi.
Ilona mulai menggerakkan kaki kirinya dengan cepat. Skateboardnya berjalan kencang. Kemudian dia meletakkan kaki kirinya diatas skatebord.M merentangkan kedua tangannya untuk menjaga keseimbangan.
Naren memperhatikannya dari belakang sambil sedikit berlari.
Tiba-tiba Ilona kehilangan keseimbangannya. "Aaaa" teriaknya
Dengan sigap, Naren segera memegang tangan Ilona.
Ilona menghela nafas panjang.
"Pelan pelan aja kayuh skateboardnya"kata Naren. Dia melepas genggamannya.
"Coba lagi ya?" Pinta Ilona
Naren tersenyum kecil kemudian mengangguk.
Hayo loh
.
Buat kalian yang baca dan suka sama ceritanya ..
Jangan lupa di vote ya.
Dan buat kalian yang gasuka bisa tulis kritik dan saran di kolom komentar
.
Cyaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
DECEMBER
Novela JuvenilKarena kamu tidak tahu alasan tuhan melibatkan kita dalam skenario rumit ini
