Karena tanpa sebuah rencana. Naren dan Bintang pergi tanpa perlengkapan apapun.
Kini Bintang duduk di salah satu kursi yang tersusun rapi disamping loket. Sedangkan Naren sibuk mengantri untuk membeli tiket.
Antrian loketnya sangat panjang. Sudah hampir setengah jam Naren berdiri disana. Namun, antrian belum bergerak juga.
Bintang berusaha memanggil Naren dari kursinya. Namun, Naren tidak menyadari panggilannya. Akhirnya, Bintang berusaha menghubungi ponsel Naren.
Bintang bisa melihat Naren mengangkat teleponnya. Kini, pandangan Naren beralih pada Bintang. Mereka saling bertatapan.
"Mau gantian gak?" Tanya Bintang lewat telepon
Bintang dapat melihat bagaimana ekspresi herannya. "Apaan?" Tanya Naren balik.
"Antriannya. Gue aja yang ngantri. Udah hampir setengah jam lu berdiri" Jelas Bintang.
Bintang melihat Naren menengokkan kepalanya kebelakang. Menyadari bahwa dirinya diapit oleh laki laki, lalu dia berkata "Gausah"
"Gapapa" Timpal Bintang.
"Duduk aja" Ujar Naren yang kemudian mematikan teleponnya.
★☆☆☆★
Setelah lama menunggu, akhirnya Naren datang membawa 2 tiket. "Ayo" Kata Naren.
Bintang bangkit dengan senang. Mereka berjalan memasuki stasiun dan menunggu di gerbong no 3.
"Keretanya datang dari arah mana?" Tanya Bintang penasaran.
"Dari arah kanan" Jawab Naren
Bintang mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian, kereta muncul. Semua orang yang menunggu di gerbong 3 bersiap-siap.
Mereka tampak berlari mengikuti datangnya kereta.
Tanpa instruksi, Naren menggenggam tangan Bintang kemudian ikut berlari menyusul penumpang lain. Bintang yang tak tahu apa-apa, hanya tersenyum dan ikut berlari.
Naren membantu Bintang masuk ke dalam kereta, para penumpang lain terus berdesak desakan di depan pintu.
"Cari tempat duduk" Kata Naren dan berjalan menyelusuri setiap gerbong.
"Naren!"Panggil Bintang gembira sembari menunjuk bangku kosong yang ditemukannya.
Naren mengangguk meng-iyakan, dia berjalan menghampiri Bintang yang kini tengah duduk sembari tersenyum tidak jelas.
Naren tersenyum kaku ke arah Bintang. Kemudian duduk di sampingnya.
Beberapa orang menyusul dan mengisi kekosongan kursi di hadapan Naren dan Bintang.
Kereta mulai melaju dan sejauh ini belum ada yang berani memulai pembicaraan.
Bahkan, lorong-lorong kereta yang kini dipenuhi oleh manusia tak beruntung pun tidak mengubah kondisi apapun. Malah membuat udara semakin pengap dan panas.
"Mas, bisa geser sedikit ga?" Pinta seorang ibu dengan nada lembutnya. Ya meskipun sebenarnya terlihat sedikit memaksa. Karena tanpa persetujuan Naren pun, si ibu telah duduk menyelinap.
KAMU SEDANG MEMBACA
DECEMBER
Teen FictionKarena kamu tidak tahu alasan tuhan melibatkan kita dalam skenario rumit ini
