Modus
Ainun menyusuri koridor sekolah yg masih sepi.
Ia berangkat pagi sekali, karena ia tidak ingin melihat dua pasangan itu, ya fany dan haris rasanya masih sesak ketika melihat mereka berdua.
Ainun berjalan dengan kaki yg masih sakit.
Sesampainya diruang kelas ainun duduk dan menenggelamkan wajahnya dibalik lengannya.
Setelah beberapa menit ainun tertidur dan tak terasa bahwa bel sudah berbunyi.
Ainun masih tertidur lelap, fany yg disampingnya tidak ingin membangunkan ainun karena ia tau ainun masih dalam kondisi yg kurang fit.
Bu mida kini sedang menjelaskan pelajaran biologi tentang sistem pencernaan.
Ketika bu mida melihat sekeliling muridnya dilihatnya ainun yg tertidur.
Bu mida melemparkan kapur kepada ainun, dan ainun bangun dengan wajah terkejut.
"Kamu kenapa tidur dikelas?" Omel bu mida.
"Bu ainun sedang sakit, dia habis kecelakaan kemarin, izinkan dia istirahat di uks bu" kata bayu sang ketua kelas.
"Kamu sakit nak haduhh maafin ibu ya, yasudah bayu antarkan ainun keuks" kata bu mida dengan raut wajah bersalah karena telah melempar kapur kpd ainun.
Ainun hanya pasrah ketika ia harus ke uks, dan diantar oleh bayu.
"Ai kamu kalo sakit nggak usah berangkat" kata bayu
"Nanti aku ketinggalan pelajaran bay"
"Tapi kan...
"Udah jgn banyak ngomong bay kepalaku pusing"
Akhirnya bayu diam.
Sesampainya diuks ainun menyuruh bayu untuk kembali ke kelas.
Ainun berbaring dikasur uks yg nyaman.
Ia mulai memejamkan matanya, namun tiba-tiba ada suara seseorang masuk kedalam uks.
"Ai kamu nggak papa?" Tanya haris tiba-tiba.
Ainun hanya diam, rasa amarahnya ia tahan.
"Maaf ai, aku salah, kamu sakit ini semua karenaku. Kenapa kamu tidak bilang jika kamu menyukai ku? Dan kamu harus ingat semua sikapku kepadamu hanya sebatas adik kaka tidak lebih. Aku tahu kamu suka kaka dari fany, dia menjelaskan semuanya" Kata haris agar ainun tidak berharap lgi.
'Haruskah engkau berbicara seperti itu? Rasanya sakit tajam menusuk dilubuk hati. Apa aku salah jatuh hati padamu? Bodoh sekali aku ini jatuh hati kepada manusia tidak berperasaan seperti dia' batin ainun menangis.
"Iya aku maafkan ka, lagian aku nggak papa ko nih aku udah sehat" kata ainun pura-pura tegar, namun matanya tidak bisa berbohong bahwa kelopak matanya sebentar lagi meneteskan butiran bening itu.
Haris melihat perempuan dihadapannya ini merasa ikut merasakan apa yg ainun rasakan. Ya rasa sakit yg tidak berwujud.
Haris memeluk ainun, memberikan ketegaran kepada ainun. Ainun terisak menangis didekapan haris.
Haris membiarkan ainun menumpahkan duka laranya walau harus rela berkorban seragamnya basah karena ainun.
Haris membelai lembut rambut ainun yg tergeras.
Haris melepaskan pelukannya dan menangkup pipi ainun dengan tangannya.
"Kenapa kamu menangis? Jgn menangis karenaku, aku ini manusia bodoh yg tidak bisa merasakan sesorang yg sedang jatuh hati padaku. Kamu berhak bahagia walau tidak denganku" kata haris tersenyum.
"Sebenarnya kaka kesini mau ngapain?" Tanya ainun dengan polosnya melupakan rasa sakitnya.
Haris menggaruk tengkuknya yg tidak gatal.
"Oh ya lupa kaka mau ngambil obat merah untuk temen kaka yg berdarah lututnya... yaudah kaka mau kekelas dulu ya" kata haris panik dan langsung mengambil obat merah dan langsung pergi kekelas.
Ainun tersenyum dan melihat kaka kelasnya itu.
Lega rasanya ketika mendengar penjelasan dari ka haris, setidaknya ainun tidak perlu lagi memgharapkannya.
Setelah bel istirahat ainun kembali kekelas.
Dilihatnya ada fany yg sedang termenung ditempat dududknya.
Ainun menghampiri fany dan memeluknya. Sesakit apapun yg ainun rasakan rasanya tidak pantas jika persahabatan ini rusak karena seorang cowo, itu sangat kekanakan.
Fany terkejut dan mulai membalas pelukan dari ainun.
"Maafin aku ai, aku rela jika haris bersamamu" kata fany menangis terisak.
"Kamu nggak perlu melakukan itu semua, aku ikhlas ko.
Lagian mungkin bukan jodoh hahaha" kata ainun dan tersenyum.
Lalu mereka berpelukan terus hingga tidak menyadari keberadaan pak indra.
"Kalian lagi ngapain? Ikutan dong" kata pak indra yg merentangkan tangannya.
"Wahh bapak modus ih" kata fany melepaskan pelukannya dengan ainun.
"Kan nggak ada salahnya pelukan sama bapak haha, ya sudah kita lanjutkan materi" kata pak indra terkekeh.
Skip
Kini ainun sudah berada dirumah rehan untuk menjalankan tugasnya sebagai asisten dirumah rehan.
Ainun mulai mencuci baju rehan dimesin cuci.
Dan mulai bersenandung agar kepalanya tidak terlalu pusing.
"Aku sakit tapi tak pernah sesakit ini karena pern......" nyanyian ainun dipotong karena cibiran dari rehan.
"Berisik, suara lo ganggu telinga gue" cibir rehan.
Ainun mendengus kesal, ingin menjambak rambut rehan saat itu juga.
"Untung majikan" kata ainun yg sibuk memasukan baju kotor kedalam mesin cuci.
"Kalo bukan majikan?" Tanya rehan.
"Paling sudah tinggal nama saja" jwb ainun asal.
Rehan kesal dan terbesit diotaknya untuk menjahili ainun.
"Wahhhh itu ada ulet dibaju lo ai" teriak rehan agar ainun terjebak.
"Mana....manaa....uletnya tolong usir uletnyaaaaaa" panik ainun.
"Itu dibelakang lo"
Ainun menghambur kepelukan rehan. Berharap ulet itu disingkir kan rehan, namun nihil mereka berdua terdiam dan suasana tiba-tiba hening.
"Ekhem...." deheman bi ayu mampu menyadarkan mereka berdua.
Ainun dan rehan salah tingkah.
"Itu mas rehan ada tamu didepan" kata bi ayu.
Rehan pergi keruang tamu dan kini menyisakan bi ayu dan ainun.
"Ai kamu tdi ngapain?" Selidik bi ayu.
"Emm nggak ngapa-ngapain ko, tdi cuma kepeleset" kata ainun berbohong.
Bersumang.
Wah dua duanya sama sama modus hahaha
KAMU SEDANG MEMBACA
senior masa gitu?
Genç Kurgu"eh anak sombong kelas apa lo?" "ada juga lo ka yg sombong, sok ketampanan lo" "etdah gw baik hati, kalo masalah tampan itu sudah faktanya, daripada elo jelek minta tuker sana" "iyain, terserah...biar pun jelek tetep disyukuri ngga mau minta tuker...
