delapan puluh tiga

12 5 0
                                    

Ini cerita tentang yang menggapai dan yang ingin digapai.
Sifat optimis dan egois yang melekat pada diri yang menggapai dan sifat tidak peka yang ada pada diri yang ingin digapai.
Pada hari itu, yang ingin digapai pergi, meninggalkan yang menggapai dalam keheningan malam.
Angin berembus menyapu rambut sang penggapai yang kini berdiri di ujung dermaga.
Pada malam itu juga, yang menggapai berjanji pada dirinya sendiri untuk mengikuti jejak yang ingin digapai.
Tanpa yang menggapai sadari, yang ingin digapai sudah melangkah jauh, bahkan tinggi.
Namun lagi-lagi, yang menggapai adalah manusia dengan sifat optimis dan egoisnya, dia tidak peduli dengan segala rintangan yang ada di depannya. Dia hanya ingin cintanya, yang ingin digapai.
Dengan segala sifat yang dimiliki oleh yang menggapai, dia berhasil mencapai tempat yang ditinggalkan oleh yang ingin digapai.
Namun langkah sang penggapai berhenti,
Terlihat dengan jelas di mata sang penggapai bahwa yang ingin digapai sedang duduk, menikmati senja, bersama cintanya.
Timbul goresan-goresan kecil di hati yang menggapai.
Bahkan sekarang, hati yang menggapai sudah terluka parah.
Ia sangat sakit hati.
Namun yang menggapai tidak menyesal.
Setidaknya, senja terlihat lebih indah di sana.
Dan akhirnya, sang penggapai belajar satu hal.
Di balik kekejaman, kekejian, kejahatan, dan kepahitan dunia, pasti ada satu hal indah yang bisa dijadikan celah untuk bahagia.

KataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang