"Jadi, kemaren gue ketemu pacar abadi lo, Angkasa" Jelas Azza, Abby terkejut bukan main, selama ini tidak ada kabar lagi darinya, walaupun hubungannya pun masih tetap sama, sebagai sepasang kekasih.
"Ketemu dimana?" Suara Abby pun mulai berubah, tidak seperti biasanya yang selalu ceria, kini sedikit rendah.
"Pas gue jalan-jalan di Soma, ga sengaja liat dia, tapi kayaknya masih single deh, soalnya ga ada yang digaetnya" Abby menelan ludahnya dan tiba-tiba pikirannya kembali ke jaman saat bersama dengan Angkasa, "Udah ga usah dipikirin, malah kangen ntar lo" Sambung Azza sambil terkekeh
"Siap juga yang mikirin dia, ga ada gunanya buat gue" Ucap Abby dengan sedikit mencebikan bibirnya.
"Hahaha gagal move on dah lo, tapi hubungan lo masih pacaran kan sama Angkasa?" Abby memgangguk lemah, "Iya, orang ga ada yang mutusin. Tapi gue ngerasa udah putus sama dia"
"Jangan gitu dong By, kalo seandainya dia kembali, gimana hayo?", "Terus nih ya, si Angkasa gayanya kayak eksekutif muda gitu lo. Yakin ga mau balikan ama Angkasa?" Goda Azza.
Abby menatap sengit ke arah Azza, "Bodo amat, ga ngurus gue. Mau dia jadi eksekutif muda kek, jadi tukang becak kek terserah"
***
Azza sudah pulang sekitar 3 jam yang lalu karena ditelpon mamanya untuk pulang, Abby memaklumi itu. Sekarang, Abby masih memikirkan ucapan Azza tadi siang
Gue ngeliat Angkasa di Soma
Kalimat itu selalu berputar-putar di pikirannya, jadi selama ini dirinya dan Angkasa berada di tempat yang sama. Tak pernah terbayangkan oleh Abby dapat bertemu kembali dengan Angkasa. Selama ini juga Abby sudah menganggap hubungannya tidak ada lagi dengan Angkasa.
Logikanya mungkin saja berkata seperti itu, tetapi hatinya masih menginginkan kembali dengan Angkasa.
"Hahaha sedih amat hidup gue, pacaran sekali tapi gini amat hasilnya" Gumam Abby
Tok Tok Tok
Abby mengalihkan perhatiannya pada pintu, "Masuk"
Ternyata Nisa yang masuk ke dalam ruangannya, pegawai muda yang berusia 3 tahun dibawahnya, "Kenapa Nis?" Tanya Abby saat Nisa sudah masuk ke dalam.
"Mbak, Nisa boleh pulang duluan?"
Abby mengernyitkan dahinya bingung, "Kenapa? Ada masalah kamu?"
"Hm, gini Mbak. Ibunya Nisa lagi sakit, jadi mau bawa ke dokter"
"Astaghfirullah, ayo sekarang kita ke rumah kamu terus ke rumah sakit" Dengan cepat Nisa mencegah Abby, "Gapapa Mbak, biar Nisa sendiri aja"
"Mbak ikut Nisa, ayo ga usah sungkan" Ucap Abby tegas, mau tidak mau Nisa mengikuti Abby. Tak lupa Abby menitipkan kafenya pada pegawainya.
Mobil Abby sudah terpakir di kawasan rumah sakit, tak lupa ia juga membantu memapah tubuh Ibu Nisa. Selagi diperiksa oleh dokter, Abby dan Nisa duduk menunggu di koridor depan ruangan. Menunggu sekitar 15 menit, akhirnya dokter keluar dan memberi tahu kalau Ibu Nisa harus di opname.
"Kamu tenang aja, selama Ibu kamu disini, biar Mbak yang nanggung biayanya" Ucap Abby memang tahu permasalahan ekonomi keluarga Nisa.
"Makasih Mbak, Nisa ga tau gimana mau balas budi sama Mbak. Mbak juga udah ngizini Nisa kerja di kafe. Makasih banget Mbak" Nisa memeluk Abby kencang dan menangis di dalam pelukan Abby.
Abby mengelus punggung Nisa, "Iya udah, kamu masuk sana. Mbak juga mau pulang, kalo ada apa-apa, hubungi Mbak ya" Nisa menganggukan kepalanya, "Iya Mbak, hati-hati di jalan"
Abby jalan menyelusuri koridor menuju pintu keluar, ia tak segan membantu Nisa karena ia sudah menganggap Nisa sebagai adiknya. Jarak antara Abby dan pintu keluar mungkin tinggal 4 meter lagi, tapi ia harus menghentikan jalannya saat seseorang memanggilnya, "Abby!"
Abby membalikan tubuhnya dan saat itu juga kedua kakinya menjadi lemas, lelaki yang memanggilnya tadi dengan cepat menangkap tubuh Abby, "Kamu gapapa By?"
Abby dengan cepat berdiri seperti semula, "Gapapa, makasih" Dan Abby juga dengan cepat membalikan tubuhnya ke arah pintu keluar.
Baru akan berjalan, tangannya sudah dipegang erat oleh lelaki tadi, "Abby bentar, aku mau ngomong"
Dengan sangat terpaksa, Abby harus menghentikan langkahnya, "Ada apa? Gue buru-buru"
"Bentar By, kasih aku waktu buat ngejelasi semuanya dari awal sampai akhir"
"Maaf, mungkin lain kali kita dapat berbicara. Sekarang gue permisi" Abby sudah jalan menjauhi lelaki tadi, dan Abby masih dapat mendengar teriakan dari lelaki itu, "Kalo kita ketemu lagi, kamu harus mau bicara sama aku, By!"
***
Abby sudah berada di dalam kamarnya. Tangisnya pecah, tangisan yang sudah hampir beberapa tahun tidak ia keluarkan, dan hari ini kembali turun karena lelaki yang sama.
Kenapa gue harus ketemu sama dia, ga kelar-kelar nih hubungan.
Abby bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri agar pikirannya dapat jernih kembali, tidak memikirkan Angkasa terus-menerus. Setelah berendam cukup lama, Abby memakai piyama tidurnya dan berjalan ke dapur.
"Makan dulu sini By" Abby hanya mengangguk.
Ayah Abby memperhatikan putri semata wayangnya itu, "Kenapa Putri Ayah ini? Itu juga matanya kok sembab? Abis nangis hm?"
Naluri seorang ayah pada putrinya sangat kuat, Abby sudah berupaya menutupi matanya yang bengkak itu tapi tetap saja ayahnya tau, "Nggak kok Yah, Abby gapapa. Ini pas jalan pulang dari kafe kelilipan" Dalam hati Abby merasa bersalah karena sudah berbohong pada Ayah dan Ibunya.
"Alasan macam apa itu, kamu kan naik mobil. Masa debunya masuk ke dalem?"
Boom, mati dah lo By. Ngapain juga pake alesan itu.
"Ini-tadi Abby buka jendelanya. Jadi kan angin sama debu masuk gitu" Jelas Abby sedikit terbata, Ayah Abby pun hanya mengangguk walaupun hatinya masih belum dapat menerima alasan tidak masuk akal Abby.
Abby dan yang lainnya sudah selesai makan malam, kali ini Abby tidak ikut duduk bersantai di ruang tengah, "Yah, Bun, Abby langsung naik ke atas ya. Mau tidur, udah ngantuk"
TBC
Guyss jangan lupa vote yaaww!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Refinamiento
Fiction généraleMenceritakan seorang CEO dan wanita biasa? Tentu saja bukan, Menceritakan seorang badboy dan nerd girl? Juga bukan. Ini hanya kisah seorang Abbyan Myesha yang bertemu kembali dengan sang pacar, Angkasa Az Zidni. Setelah lama Angkasa menghilang dari...
