Sekuel dari DRAMA yang dipost di wattpad beliawritingmarathon.
"Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia?"
Anka hidup dalam bayangan masa lalu yang terus membuatnya terlarut dalam penyesalan. Baginya, bayangan bisa mencekik begitu kuat, sampai ras...
Tiap orang mungkin menyimpan satu sudut yang tidak diperlihatkan pada banyak orang. _____________________________________________
Lagu Monochrome yang dinyanyikan Bily Acoustie menemani Anka selama mengerjakan tugas Matematika. Tadinya, dia memilih lagu yang menjadi soundtrack drama The Miracle We Met ini karena punya tempo lambat, dan mengira itu tidak akan mengganggu konsentrasinya. Namun kenyataannya, dia tetap tidak bisa berkonsentrasi karena teringat Kai yang super ganteng di drama itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk kali ini, Anka harus setuju dengan pendapat Bora. Dia lucu banget tau, ujar Bora saat mulai suka dengan Kai sejak menonton drama Andante. Dan saat itu, Anka masih tidak bisa melihat titik lucunya Kai. Namun, di drama The Miracle We Met itu, semua pesona Kai keluar. Aura dan karismanya luar biasa, membuat Anka menyerah dan langsung mendaftarkan diri jadi fannya.
Tangan Anka baru bergerak hendak mematikan pemutar lagu di ponselnya dan mulai berkonsentrasi dengan tugasnya ketika dia mendengar ketukan pintu. Sempat bingung sejenak, tapi akhirnya Anka bergerak ke pintu dan membukakannya. Alisnya terangkat setengah ketika menemukan Brav yang terlihat santai dengan kaus biru tua dan celana pendek.
"Balesan buat kemaren." Brav sudah terlebih dulu menjawab, sebelum Anka sempat menyuarakan pertanyaan di pikirannya.
Anka melongok ke plastik yang Brav tenteng dan menemukan kotak makan. Senyumnya terbit seketika. Dia menyodorkan tangan lalu mengambil plastik itu. "Makasih," ujarnya sambil berusaha menarik plastik itu, tapi Brav menahan dengan sangat kuat.
"Gue ngasih ini bukan buat lo makan sendiri," ujar Brav, menjawab kebingungan Anka. "Makan di taman, yuk. Abis itu kita olahraga bareng."
Ajakan Brav yang tiba-tiba itu membuat kening Anka kembali berkerut. Tidak heran kenapa Brav berpakaian seperti itu, ternyata dia mau mengajak berolahraga. Anka menimbang sejenak, lalu teringat dengan tugas Matematika yang belum diselesaikannya. Matanya mengerjap-ngerjap, tidak mengerti dengan keinginan yang barusan melintas di otaknya.
"Bentar, gue ganti baju dulu." Anka hampir tidak percaya mendengar omongannya sendiri. Keinginan yang barusan melintas itu bersikeras ingin ditolaknya, tapi pada akhirnya, mulutnya membantah dan mengatakan hal berlawanan begitu saja. Melihat senyum di wajah Brav, akhirnya Anka menyerah. Lagipula tugas Matematika itu masih minggu depan dikumpulnya, pikirnya.
Brav segera membuka kotak makannya begitu mereka tiba di taman dan langsung membuat Anka terkesan. Bola-bola bertabur meses yang terbuat dari remahan biskuit berjajar rapi di dalam kotak makan dan tampak begitu menggoda. Apalagi Anka sangat menyukai makanan manis, kue dan semacamnya. Tentu makanan di depannya itu membuatnya tidak bisa menahan diri.
"Keliatannya lo suka sama makanan itu," tebak Brav saat melihat wajah Anka yang berseri-seri.
"Banget! Gue suka makanan manis," jawab Anka sambil mengangguk mantap dan memasukkan satu bola biskuit ke mulutnya. Matanya langsung melebar saat merasakan manisnya biskuit, susu cokelat dan meses yang melebur jadi satu, membentuk perpaduan sempurna untuk memuaskan lidah Anka yang suka manis. Tanpa memedulikan Brav, dia terus memakan bola-bola biskuit itu dan menikmati sensasi tiap gumpalannya.