16. Pasar Malam

25 6 3
                                        

Halo para readers iridescent i'm come back. Ada yang kangen gak? Hehe. Maaf sekali aku gantungin cerita ini kemarin karena lagi bingung mau nulis apa. Terimakasih untuk kalian yang udah nungguin cerita absurd/? Ini ya😁

Dan juga aku mau ngucapin MINAL AIDIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN🙏

Maafin aku kalau misalkan aku ada salah ke kalian, sering typo, sering biki  kalian bingung sama cerita aku, dan sering lama update hehe.

Okedeh langsung aja gak perlu basa basi, et tapi jangan lupa bintang nya ya...














Mekaila masuk ke rumah dengan tergesa-gesa, dia bahkan melempar kasar sepatunya ke rak membuat beberapa sepatu yang lain ikut terjatuh. Axel yang mengikutinya di belakang hanya diam sambil menggelengkan kepala. Mekaila sempat di panggil oleh tantenya tapi dia tidak menoleh dan malah memilih untuk segera naik ke kamarnya.

"Itu Mekaila kenapa? Kamu jahilin lagi ya?" tanya Siska sambil melotot kearah Axel.

"Apa-apa Axel mulu yang salah, heran cogan" saut Axel tidak terima. "Lah terus itu kenapa?" tanya Siska lagi. Kemudian Axel menceritakan kejadian yang terjadi di sekolah saat dirinya sedang berlatih basket di lapangan dengan tim sekolah, tiba-tiba saja temannya tidak sengaja melempar bola ke kepala Mekaila dan membuat Mekaila pingsan di lapangan. Axel tentu saja tidak menceritakan kepada mamanya kalau dia lah yang membawa Mekaila ke uks, padahal saat itu lengan Axel sendiri sedang sakit karena keseleo.

"Oalah gitu, mungkin dia sebel sama teman mu"

"iyakali ma. Yauda Axel mau ke atas dulu ya, mau mandi gerah banget" kata Axel seraya berjalan menuju kamarnya.

Axel sendiri bingung kenapa Mekaila marah seperti ini, dia bahkan menjauhi semua orang. Setiap Axel ingin bertanya dia pasti selalu lupa, seperti itulah Axel, ingatannya minim, untung saja bukan mukanya yang minim.

Beberapa menit kemudia Axel sudah selesai mandi, badannya menjadi lebih segar daripada tadi. Axel keluar dari kamar mandi degan handuk yang menutupi pinggang ke bawah, rambutnya acak-acakan dan beberapa tetes air turun dari rambutnya. Saat keluar dari kamar mandi dia sudah melihat Mekaila yang sedang berbaring diatas kasurnya sambil menonton aca televisi. Gadis ini benar-benar gila! Bagaimana kalau tadi Axel keluar tanoa mengenakan handuk? Kan bisa khilaf.

"Ngapaim lu di kamar gua?" tanya Axel yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Jualan panci" jawab Mekaila asal-asalan tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Axel hanya berdecak sebal mendengar jawaban Mekaila. Dia menuju ke lemarinya dan mengambil beberapa helai pakaian untuk di kenakan.

"Keluar, gua mau pake baju" suruh Axel sambil melihat Mekaila yang tidak bergetak sama sekali, dia seperti memekakkan telinganya.

"Lu denger gak sih?"

"Yaudah kalau mau pake ya pake aja kali, lagian gua gak nafsu juga sama lu" sewot gadis itu yang kini menatap Axel dari atas sampai bawah. Oh, dia melarat ucapannya, Axel benar-benar sexy saat seperti ini. Dia sempat tak berkedip menatap badan Axel yang mulai berbentuk, bahkan di perutnya Axel memeliki 6 buah kotak. Sangat menggoda.

Axel yang geram mendekat kearah Mekaila kemudian berdiri di hadapan gadis itu.Beberapa Air dari rambut Axel juga menetes ke wajah Mekaila.

"Gua bisa ngapain aja kalau gua mau. Ini kamar gua, pintunya juga di kunci, gua gak yakin sih mama bakal denger kalau lu teriak" suara Axel kini berubah menjadi sangat rendah, bahkan tatapannya pun sulit di artikan.

Mekaila mulai bergerak, dia duduk di kasur Axel kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Axel, sangat dekat hingga hidung mereka saling menempel dan nafas mereka saling beradu. Axel sempat terkejut dengan yang di lakukan sepupunya itu, namun dia berusaha untung tenang. Mekaila belum bergerak juga, membuat Axel semakin geram.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 23, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

IRIDESCENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang