Part 35 - Balikan

780 59 2
                                        

Meskipun Jeni masih sangat sakit hati, rasa sayangnya kepada Juno jauh lebih besar. Ia tidak sanggup terus-terusan berada dalam keadaan seperti ini. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya Jeni memutuskan untuk datang ke rumah Juno dan berbicara langsung dengannya. Tentu saja, Sivana ikut mengantar sekaligus menemani adik sepupunya itu.

Tingnong... Tingnong...

Ceklek...

"Je... Jeni?" ucap Juno terkejut saat membuka pintu dan mendapati Jeni berdiri di hadapannya.

Jeni menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk sejenak sebelum berkata, "Em... g-gue..."

Namun ucapannya terpotong oleh Sivana.

"Dia mau ngobrol sama lo, Jun. Tolong dengerin baik-baik apa yang mau dia omongin. Terus, komunikasi kalian juga harus dibenerin supaya gak ada salah paham lagi. Sama satu lagi, lo harus jujur ke Jeni. Jangan ada yang disembunyiin," ujar Sivana dengan tegas.

Juno mengangguk pelan.

"Iya, Kak. Siap. Ayo masuk dulu, Kak... Jen."

Sivana langsung menggeleng.

"Em... kalian ngobrol berdua aja ya. Gue baru inget harus beli kado buat temen yang nikahan besok."

Jeni langsung menoleh.

"Kak? Tadi katanya mau nemenin."

Sivana memperlihatkan layar ponselnya.

"Maaf banget ya, Jen. Nih, liat. El udah chat, katanya lagi OTW ke rumah."

Jeni menghela napas pelan.

"Yaudah, sana pergi."

"Bye! Semoga masalah kalian cepet selesai!" ucap Sivana sambil melambaikan tangan sebelum meninggalkan rumah Juno.

Begitu Sivana pergi, suasana langsung berubah canggung.

"Ayo masuk dulu, Jen," ajak Juno.

Jeni menggeleng pelan.

"K-kita ngobrol di luar aja ya?"

Juno berpikir sebentar.

"Kalo gitu ke taman belakang aja gimana?"

"Boleh."

Juno mengangguk.

"Bi, tolong buatin dua jus jeruk ya, terus bawain ke taman belakang."

"Siap, Dek Juno."

"Juno, gak usah repot-repot."

"Gapapa."

Juno berjalan lebih dulu menuju taman belakang, sedangkan Jeni mengikutinya dari belakang. Mereka duduk berhadapan di gazebo yang berada di tengah taman.

Suasana benar-benar hening.

Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Bahkan keduanya hanya sesekali saling melirik sebelum kembali mengalihkan pandangan.

Kita Yang Tak Selesai [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang