Malam itu suasana rumah Jeni terasa hangat. Aroma masakan yang baru saja dihangatkan memenuhi ruang makan. Mama Jeni sengaja menyiapkan beberapa hidangan sederhana untuk makan malam bersama.
"Juno, sekalian makan malam di sini aja," tawar mama Jeni sambil meletakkan lauk di meja.
Juno yang sedang membantu menggeser kursi untuk Jeni langsung menoleh.
"Eh? Boleh, Tante?"
"Ya boleh lah. Kamu juga dari tadi nemenin Jeni dan bantu jagain Celine. Masa pulang dalam keadaan lapar."
Juno tersenyum kecil.
"Kalau begitu... makasih ya, Tante."
Jeni yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum melihat Juno yang masih terlihat sungkan.
"Kamu jangan sungkan terus, Jun. Udah sering main ke sini juga," ujar papa Jeni.
"Iya, Om."
Sivana yang duduk di seberang mereka langsung menyahut.
"Sering banget malah."
"Kak Sivana..." tegur Jeni.
"Apa? Fakta kok."
Juno hanya tertawa kecil.
"Kayaknya saya harus sering-sering belajar adaptasi sama keluarga ini."
"Sudah cocok berarti," celetuk papa Jeni.
Jeni langsung menatap ayahnya.
"Papa..."
"Hahaha, papa cuma bilang cocok jadi teman makan."
"Tapi maksudnya beda," gumam Sivana sambil menahan tawa.
"Sudah, makan dulu kalian," kata mama Jeni sambil tersenyum.
Mereka pun mulai makan.
Awalnya Juno masih terlihat sedikit canggung. Ia beberapa kali memperhatikan cara makan keluarga Jeni yang sangat santai dan penuh canda.
"Jun, ambil ayamnya. Jangan cuma makan nasi sama sayur," kata mama Jeni.
"Oh iya, Tante. Makasih."
Juno mengambil lauk tersebut.
"Kamu kok makannya dikit banget, lagi diet?" komentar Jeni.
"Enggak kok."
"Enggak gimana? Dari tadi cuma nasi beberapa sendok."
Juno tersenyum.
"Aku malu kalo ambil banyak."
Sivana langsung menatapnya heran.
"Lah, kenapa malu? Ini dirumah bukan di restoran mahal."
Juno tertawa kecil.
"Iya, Kak. Kebiasaan aja."
Papa Jeni mengangguk.
"Kalau di rumah jangan sungkan. Anggap aja rumah sendiri."
Kalimat sederhana itu membuat Juno terdiam sebentar.
"Iya, Om. Makasih banyak."
Jeni yang melihat ekspresi Juno hanya tersenyum kecil.
Ia tahu, meskipun Juno terlihat santai dan selalu bercanda, sebenarnya ada sisi dirinya yang sangat menghargai perhatian kecil dari orang lain.
Tak lama kemudian Celine mulai mengeluarkan suara kecil dari stroller.
"Eh, Celine bangun," ujar Jeni.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kita Yang Tak Selesai [END]
Fiksi PenggemarSegalanya berawal di masa SMA-masa yang penuh tawa, gengsi, dan cerita tentang cinta. Dialah orang yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat, orang yang mengajarkannya arti perhatian kecil, hingga perlahan mereka saling mendekat, saling jatuh, da...
![Kita Yang Tak Selesai [END]](https://img.wattpad.com/cover/144304746-64-k540624.jpg)