Maaf Karena Aku

1.4K 126 42
                                        


Hal yang paling menakutkan bagi seorang dokter adalah, kegagalan dalam menyelamatkan nyawa pasiennya..

Hingga harus dihadapkan pada tangis dari pihak keluarga pasien atas harapan mereka yang telah pupus..

Begitu pula yang terjadi pada Yoon-Gi..

Menjadi dokter yang menangani NamJoon sekaligus pihak keluarga yang secara langsung mengetahui kondisi NamJoon adalah sebuah beban mental tersendiri bagi Yoon-Gi..

Yoon-Gi merasa sesuatu tak kasat mata menghimpit hatinya, hingga sesak tak dapat ditolak untuk kesekian kalinya..

Didalam ruang yang tak pernah lepas dari gaduhnya situasi penyelamatan nyawa pasien, dokter bermarga Park itu semakin dibuat gila manakala mendapati detik dimana takdir seakan mengoloknya..
Ketika,
NamJoon kritis..
Adiknya kolaps..

Bagai momok menyakitkan yang tak berkesudahan, begitu menyakitkan saat mengingat kembali wajah kesakitan sang adik yang tak berdaya..
Jalur pernafasannya terasa tersendat..
Matanya memanas..
Menyadari NamJoonnya masih harus berjuang untuk benar-benar kembali pada mereka..

Seloroh lukisan telapak kaki pemuda itu terseyok.. terlatih, menyisiri lorong bangsal VVIP yang masih terasa lenggang meski jam siang sebentar lagi berlaku untuk para pengunjung...
Rasanya Yoon-Gi ingin menangis saja, memeluk sang eomma dengan raungan atas takdir yang lagi-lagi memberikan kejutan tak terduga pada keluarganya,adiknya..
Persetan dengan statusnya sebagai dokter yang terkenal dengan kewibawaannya..

Damn it !

tatapan kosong itu, menyuguhkan bongkahan kesedihan dari pias wajah sang dokter menawan..
Deru nafas yang terdengar berat menemani langkah tertatih itu bergerak menuju ruangan yang ia butuhkan untuk sekedar melepas penat..

"Yoon-Gi Hyeong biar..."

"tinggalkan aku sendiri Jim.."

Bahkan Yoon-Gi menolak Jimin yang hendak menawarkan diri membantunya,

Yoon-Gi bukan hanya menolak uluran tangan Jimin saja, melainkan pada mereka juga yang menunjukkan gesture serupa seperti Jimin..

Jujur Yoon-Gi hanya ingin sendiri, menetralkan segala macam bentuk afeksi emosinya..
Yoon-Gi butuh tenang..

Meski sedikit kepayahan dalam langkah, Yoon-Gi membiarkan tangannya meraba, merasakan pori-pori dinding lorong bangsal VVIP  yang dingin hingga asanya bertemu dengan pintu ruangannya...

Jika dalam keadaan seperti ini untuk sampai ke ruangannya saja rasanya Yoon-Gi seperti harus melewati dua benua yang amat memakan waktu pastinya padahal jaraknya tak seberapa..

Ceklek !

Hening...

Gurat sendu Yoon-Gi menyisir ruangannya yang terlihat tenang, berbeda sekali dengan ruang UGD yang sempat membuatnya terguncang..

Tes 

Tes

Tes

Tangan gemetar Yoon-Gi yang masih terdapat sisa-sisa darah NamJoon mengusap kasar liquid bening yang kembali mengalir sebelum beralih memukul dadanya secara random dan brutal..
Lagi-lagi tenggorokannya terasa tercekat hingga sulit baginya meraup udara sekitar..
Detak jantungnya yang semakin terdengar nyaring seakan mengejeknya..
Akan nasib NamJoon yang masih dalam mode abu-abu.. 

10 menit..

20 menit..

50 menit..

1 jam.. 

My Son Our Brother [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang