Nae Ri cukup kaget juga, di lorong sepanjang ini hanya ada dua kamar. Nae Ri memilih salah satu.
"Apa tak masalah jika aku pilih kamar ini?" gumam gadis itu. Ia berlari meluncur ke dapur menemui Tae Hyung yang sedang memasak mie instan.
"Kenapa?" tanyanya. Nae Ri meringis. Lalu duduk di kursi meja makan. "Hanya memberitahu, aku pilih kamar di atas. Bolehkah?"
Tae Hyung mengangguk.
"Ngomong-ngomong, kamar disini lumayan banyak. Kenapa tidak kau jadikan wisma saja? Lumayan untuk menambah uang kan?"
Tae Hyung duduk di hadapan Nae Ri. Memberikan semangkuk mie instan berkuah yang masih mengepul. "Makanlah."
Tapi pandangannya menuju lengan Nae Ri yang terluka. "Kau luka?" tanya tae Hyung sambil mengambil kotak obat di atas kulkas. "Kenapa?"
"Ah iya, aku baru sadar. Mungkin terlalu ketakutan dengan gerombolan preman tadi sampai lupa. Ibu tiriku menggores pisau. Sakit." Nae Ri meringis tatkala Tae Hyung menempelkan kapas dengan alkohol.
"Maaf." ucapnya pendek sembari memberi obat merah dan membebat lukanya. "Sudah. Aku tidak bisa mengobati lukanya. Hanya membantunya untuk cepat sembuh. Sisanya kau sembuhkan sendiri."
Nae Ri tertawa. "Terima kasih banyak."
