pukul sepuluh pagi doyoung sudah tiba di apartemen tapi sejauh mata memandang ia tak menemukan sejeong.
"seje—"
"sudah datang?"
doyoung memperhatikan penampilan wanita itu dari atas ke bawah, matanya membulat sempurna dan mulutnya terbuka sedikit.
"kenapa? aneh ya?" tanya sejeong.
"kenapa rapih sekali, mau kemana?"
sejeong mendelik. "kau bilang ibumu ingin bertemu denganku??? tidak jadi—"
"kau… mau… menemui ibuku?"
"tidak tahu." sejeong menghela nafas lalu menunduk. "sejak semalam aku tidak berhenti memikirkan—"
"aku kan sudah bilang, jangan dipikirkan."
"bagaimana bisa tidak dipikirkan?!" ia mendongak, menatap kesal doyoung. "untuk apa berjam-jam aku berdandan seperti ini merepot—"
"mau kemana?" doyoung menahan sejeong yang berniat kembali ke kamar.
"berganti pakaian—"
"jangan—"
"kenapa sih kau suka sekali memotong perkataan orang??!" sejeong menepis tangan itu dan masuk ke dalam kamar, menurup pintunya dengan agak keras.
doyoung menghela nafas panjang.
pada akhirnya sejeong ikut doyoung pulang ke rumah, setelah perdebatan panjang wanita itu setuju bertemu dengan ibu doyoung.
"kenapa?"
sejak tadi doyoung perhatikan sejeong terus menerus memeriksa pakaian dan riasannya, wanita itu terlihat gelisah sendiri.
"aku takut.,"
senyum doyoung merekah lebar, ia membantu sejeong melepaskan selt belt kemudian mengusak rambutnya gemas.
"ibuku tidak akan menggigit, tidak usah takut." kata doyoung.
"tapi—"
"tidak perlu tegang, santai saja."
meski berkali-kali doyoung menenangkan sejeong tetap tidak bisa berhenti gelisah. ia tahu kemungkinan besar ibu doyoung nanti akan menanyakan kehidupan sehari-harinya.
kalau saja sejeong wanita seperti pada umumnya ia tidak akan segelisah ini. apa yang harus ia katakan saat ibu doyoung bertanya apa pekerjaanmu?
sejeong tidak mungkin kan menjawab dengan jujur?
"hei…" usapan di pipinya membuatnya tersadar, wajah doyoung kini berjarak sangat dekat dengan wajahnya.
"kalau kau ragu kita bisa kembali—"
"kurasa tidak ada jalan untuk kembali."
sejeong melihat ke depan, dimana seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu. menunggu keduanya untuk keluar dari mobil.
"ayo turun."
pertemuan sejeong dengan kedua orang tuanya terkesan canggung. wanita itu lebih banyak diam, hanya berbicara ketika ditanya.
"sejeong, apa pekerjaan—"
"ibu sudah siapkan makan siang?" sela doyoung.
"kamu ingin makan sekarang?" tanya ibu.
doyoung mengangguk. "aku sudah lapar."
"yasudah kalau begitu ayo kita makan."
sejeong menatap doyoung yang sudah berdiri dan mengulurkan tangannya, ia mendongak dan melihat senyuman itu kembali menghiasi wajah tampannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear you
Fiksi Penggemartentang doyoung dan sejeong, dua orang yang bersama entah karna takdir atau paksaan.
