hari ini sejeong sudah diperbolehkan pulang dengan syarat wanita itu harus rajin melakukan kontrol secara berkala.
wanita itu senang akhirnya bisa pulang, setelah ini yang ingin ia lakukan adalah membersihkan flat kecil miliknya yang mungkin sudah berdebu.
"kita mau kemana?" tanya sejeong, ia sadar kalau mobil yang dikemudikan doyoung tak berada di jalan menuju huniannya.
"ini bukan jalan ke—"
"memang bukan." doyoung menyela. "kau akan tinggal di apartemen milikku."
sejeong menghela nafas jengkel. satu hal yang ia tidak sukai dari laki-laki itu adalah suka sekali bertindak sesukanya.
"lalu bagaimana—"
"semua barang milikmu sudah kupindahkan ke sana."
"kau tidak boleh begini. aku membencimu yang selalu bertindak sesuka hati." kesal sejeong.
doyoung menepikan mobilnya. ia menghela nafas lalu mengubah posisi untuk bertatapan langsung dengan sejeong.
"maaf…" ujar doyoung. "aku tidak bermaksud—"
"seharusnya kau bicara dulu padaku. jangan melakukan sesuatu tanpa memberitahuku." wanita itu kembali menyela dengan kesal. "apa susahnya sih memberitahuku?"
"aku hanya berniat memberimu sebuah kejutan." sahut doyoung.
sejeong melirik doyoung lewat ekor matanya, kekesalan masih ia rasakan makanya ia tak mau bertatapan dengan doyoung.
"maaf membuatmu marah."
keheningan menyelimuti keduanya, yang terdengar hanyalah bunyi mesin mobil yang memang tidak doyoung matikan.
"sejeong—"
"pulangkan saja aku ke tempat semula, flat milikku. aku tidak mau terus-menerus menjadi parasit untukmu—"
"parasit apa??" doyoung mengernyitkan dahi, jengkel. "kau bukan parasit, kau sudah menjadi tanggung jawab untukku."
"tapi kau tidak pernah punya kewajiban untuk itu." sahut sejeong.
"kenapa tidak??? kita sama-sama saling menyukai, aku tahu kau juga menyukaiku kan?" balas doyoung. "lalu apa yang salah kalau aku menjadikanmu tanggung jawabku???"
sejeong memijit pelipisnya, kepalanya mendadak pening. selalu saja, selalu saja ada perdebatan di antara mereka.
dan keduanya sama-sama keras kepala. kalau sudah begini siapa yang harus mengalah?
"tapi kau belum bisa sejauh itu," cicit sejeong pelan.
tapi doyoung masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"kau membutuhkan sebuah status???"
"kalau begitu aku akan mengulang pernawaranku. kim sejeong menikahlah denganku."
sejeong menatap mata itu dalam-dalam. bingung dan bimbang menyerang dirinya, lidahnya jadi kelu dan bibirnya tertutup rapat.
wanita itu tidak tahu harus menjawab apa. jujur saja, menurutnya sebuah pernikahan tidak segampang itu, apalagi ia tahu kalau dirinya hanya memiliki segudang kekurangan.
berbanding tebalik dengan laki-laki itu yang memiliki segudang kelebihan.
"kau sudah bicara dengan orang tuamu, tentang ini?" tanya sejeong.
"itu masalah nanti, sebelum aku mendapat restu dari mereka aku harus mendapat restu darimu." jelas doyoung. "kau yang nantinya akan menikah denganku, menjalani waktumu bersamaku. bukan kedua orang tuaku. kau lebih penting."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear you
Fanfictiontentang doyoung dan sejeong, dua orang yang bersama entah karna takdir atau paksaan.
