12

1.4K 237 9
                                        






sejeong tahu ibu doyoung menentang hubungan mereka ah ralat, ibu doyoung menentang keinginan sang anak untuk menikahinya.

menikahi seorang pelacur—atau bisa dikatakan mantan pelacur—sepertinya.

itu wajar, tak seorang pun ingin anaknya menikahi pelacur bukan?? dan apa yang sejeong perkirakan benar terjadi.

sejeong tahu setiap kali doyoung mendapat telfon dari sang ibu, wanita itu bisa dengar setiap perkataannya yang isinya hampir selalu sama.

"jauhi pelacur itu, sampai kapan pun ibu dan ayah tidak akan merestui kalian."

sakit hati?

tentu saja. sejeong merasa tertohok dengan ucapan itu. padahal saat pertama kali ia bertemu dengan ibu doyoung, wanita itu terkesan ramah dan baik hati. tapi kini perkataannya mampu menusuk hatinya.

sejeong tertawa keras.

kedua sudut matanya mengeluarkan air mata. lama-kelamaan suara tawanya tergantikan dengan isakan tangis.

kenapa semua ini harus terjadi??

harusnya sejeong tak membiarkan doyoung membuatnya jatuh hati.

harusnya sejeong tak merespon apa yang doyoung lakukan.

harusnya malam itu keduanya tak bertemu.

sejeong menyesali semuanya.

kalau saja ia tak membiarkan hatinya jatuh pada laki-laki itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

kalau sudah begini apa yang harus ia lakukan??










doyoung bingung.

sejeong tak mengangkat semua telfonnya dan tak membalas pesan singkatnya, jangankan dibalas dibaca pun tidak.

"dokter pasien—"

"ya aku akan segera menyusul, pergi saja lebih dulu."

doyoung memaki keadaan. kenapa di saat seperti ini rumah sakit mendadak ramai, berkali-kali fokusnya hilang dan berkali-kali pula ia melakukan kesalahan.

"dokter—"

"kau bisa tangani ini?" tanya doyoung. suster itu mengangguk kecil. "tolong ya, kepalaku pusing."

setelah itu doyoung berlari ke ruang dokter, menghubungi salah satu rekannya untuk meminta tolong menghandle semua pekerjaannya.

beruntung kawannya bersedia menolongnya. doyoung langsung melepas jas dokter miliknya, lalu segera pergi meninggalkan rumah sakit.

entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.






pusing. itu yang doyoung rasakan saat ini. sampai di apartemen ia tak dapat menemukan sejeong, dan setelah berkali-kali ia cek, barang-barang milik wanita itu pun tak ada.

sejeong pergi.

doyoung frustasi, ia ingin marah tapi tak tahu harus melampiaskannya pada siapa.

sejeong pasti pergi karna wanita itu sudah tahu semuanya, tahu kalau orang tuanya tak merestui keinginannya.

"joy!"

joy terkejut saat mendapati doyoung muncul di depan pintu rumahnya. "apa yang kau lakukan—"

"dimana changkyun?"

"dia—"

"doyoung, kau mencariku?" changkyun muncul di belakang joy.

Dear youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang