16

1.9K 223 84
                                        







sejauh ini semuanya berjalan lancar.

doyoung membeli sebuah rumah yang dekat dengan rumah sunmi, sengaja agar sejeong merasa tak kesepian kalau kalau ia sibuk bekerja.

semua terasa berbeda untuk sejeong. ia tak lagi tidur sendirian, sekarang doyoung akan menemaninya tidur. ia tak lagi bisa bangun siang, sekarang ia harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.

sekarang pekerjaannya bukan hanya mengumpulkan karet—sejeong keukeuh ingin tetap melakukannya dan doyoung tidak bisa memaksanya untuk berhenti—tapi ia juga harus mencuci dan membersihkan rumah.

itu bukan masalah besar untuk sejeong, justru wanita itu merasa senang menjalaninya.

"sedang apa?"

sejeong terkejut saat sepasang tangan melingkari perutnya disusul dengan kepala yang disenderkan di pundaknya.

"kamu bilang pulang malam???" tanya sejeong balik.

doyoung tersenyum lebar. "suprise…"

"untung aku belum mengunci pintunya.,"

"aku kan bawa kunci cadangan, sayang."

ugh, kenapa hanya dengan panggilan sayang jantungnya berdebar-debar. "pergilah mandi—"

sejeong melepaskan diri, tapi doyoung tidak membiarkan wanita itu pergi jauh. "kamu mau kemana?"

"aku—"

perkataan itu terpaksa sejeong telan kembali karna doyoung terlanjur menariknya dan menciumnya begitu intens.

jangan terkejut, sejak menikah laki-laki itu menjadi lebih berani dari sebelumnya.

"d-doyoung… hhhhh… jangan di sini,"

"memangnya kenapa? meja makan bisa dijadikan sandaran kan?"

















sejak menikah setiap kali pekerjaannya telah selesai doyoung akan langsung pulang, laki-laki itu tidak lagi ingin berlama-lama di rumah sakit.

tentu saja di rumah sudah ada yang menunggunya dan belum lagi doyoung tidak bisa lama lama berpisah dengan wanitanya.

malam itu pernikahannya hampir genap enam bulan sejeong bolak balik pergi ke kamar mandi untuk muntah.

"masih mual?" tanya doyoung. ia membaluri perut sejeong dengan minyak kayu putih lalu memijat lehernya pelan.

"tidak terlalu," sejeong meraih tangan doyoung yang memijat lehernya, menyuruh laki-laki itu berhenti.

"bulan ini kamu sudah datang bulan?" doyoung mencoba memeriksa nadi sejeong, sejak tadi ia kepikiran sesuatu. "mungkin saja kamu hamil."

sejeong menatap doyoung. "hamil?"

doyoung mengangguk semangat. "besok aku akan bawakan test pack untukmu. sekarang istirahatlah."

wanita itu menurut saat doyoung membaringkannya dan menyelimutinya.

"kamu tidak tidur?" tanya sejeong.

"aku akan mengunci pintu dulu." sahut doyoung.

setelah doyoung pergi sejeong memegangi perutnya yang rata. mungkin kah ia hamil???

kalau benar ia hamil maka kebahagiaan mereka akan lengkap dan sejeong tidak pernah merasa sehidup ini.

"membayangkan sesuatu hm?" doyoung sudah berbaring di sampingnya, mengelus dahinya sayang.

Dear youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang