Dia udah lupa sama semuanya, semenjak kejadian 5 tahun lalu, gue selalu mengawasinya dari jauh. Gue tau dia pasti bahagia, walaupun bukan gue yang buat dia bahagia - Hana
Inspired by Rich Man Poor Woman korean tv drama
- typo bertebaran
- warning ha...
(Hana's pov) "Mommy, today is halloween day! Disekolahku ada pesta halloween mom! Mom sama daddy bisa anterin aku kesana nanti sore?" Hmm gue bener bener baru denger ada pesta kek gitu di korea. Honestly, gue hanya tau ada acara kayak gitu di amerika atau eropa aja. "Mommy tanya daddy nanti. Mommy telpon daddy nanti---" "Mommm sekarang aja ayooo telpon daddy." Yaampun bahkan dia menggunakan jurus puppy eyes nya biar gue mengabulkan permintaan dia :( "Arasseo, bunny bun. Sebentar mommy akan telpon daddy." Gue mulai mencari kontak nama jun di hape gue
"Yeoboseyo?" "Ini aku, jun..." sapa gue. "Astaga, hana istrikuuu... maaf aku tadi lagi sibuk ngomongin saham sama sehun dan chanyeol, aku ga liat caller id nya. Maaf ya sayang. Ada apa kamu telpon jam 1 siang gini?" Tanya jun. "Jun, kamu kira kira bisa pulang cepet? Sekitar jam 4 sore udah dirumah gitu?" Tanya gue. "Aku gatau, sayang. Kalo bisa cepet ya aku cepet pulang. Saham kantorku lagi mau di cek ulang sama chanyeol, aku harus pantau..." hmmm he's still a workaholic kinda guy. "Hmm gitu ya... padahal liya pengen ditemenin kita berdua ke acara sekolahannya. Semacem pesta halloween, kayak di kampus kita dulu." Kata gue. "ASTAGA---- APA? HALLOWEEN?" Tanya jun yang kedengerannya kaget. "Iyaa... kenapa kamu kaget?" Tanya gue. "Hehe aku juga baru tau kalo sekolahan di korea kayak gitu. Aku kan SMP sampai kuliah di amerika, sayang." Hmm iya juga sih. "Terus jadinya gimana? Kalo kamu gabisa gapapa, aku sama liya aja berdua---" "Han, aku balik 1 jam lagi. Harus perginya sama aku, oke? Bilang liya suruh dandan yang cantik. Kalo kamu, gausah dandan biar yang lain gak lirik lirik istri aku." Kata jun dan gue tertawa pelan. "Aku jelek, siapa yang mau lirik?" Tawa gue dan dia ketawa juga. "Kamu jeleknya aku aja. Kamu aja jelek aku sayang, gimana kalo kamu cantik? Ya kan?" Heuuu dia mulai lagi. "Aku belom istri kamu loh ya, junmyeon." Kata gue dan dia menghela nafas. "Iya, sabar banget aku nunggu 3 minggu lagi ya han." Suaranya di sedih sedihin gitu. Aishhh gak inget umur! "Ga sabaran banget sih nih bapak bapak. Yaudah aku mau siapin makan siang buat liya sama mama papa dulu ya jun. See you!" "I love you, han. Always." "Me too." Gue mematikan sambungan telpon dan daritadi, anak gue ngupingin gue. Dasar bocah hahaha
"Gimana mom?" Gue tersenyum dan mengangguk, menandakan kalo daddy nya akan ikut anter dia. "Yayyy!!! Mommy, you gotta show me how to dress well now, right?" "Yes. Yaudah yuk kamu siap siap mandi, mommy siapin bajunya." Kata gue dan anak gue udah lari ke kamarnya untuk mandi. Baru gue mau naik tangga, eh ada mama mertua. "Mama darimana? Aku cariin tau ma...." tanya gue. "Siapin untuk nikahan kamu sama jun dong sayang. Tadi mama ketemu orang catering dll, jadi agak lama. Kamu mau tidur siang han?" Tanya mama dan gue menggeleng. "Engga ma, mau siap siap anter liya ke acara sekolahannya. Nanti jun jemput kita disini." Kata gue dan mama ngangguk. "Giliran dia udah inget, dia se overprotektif itu... coba kalo dia belom inget? Waduh cinta mati kali dia sama irene." Gue hanya tersenyum. Bagi gue, yang lalu ya udah berlalu. Gaperlu ungkit lagi. "Hmmm, ma aku siap siap dulu ya." "Yaudah sayang, mama istirahat dikamar ya." Gue ngangguk dan naik tangga. Yap, gue akan mendandani anak gue sebisa gue.
(Irene's pov) "Appa, irene gamau nyusahin papa sama mama di seoul. Irene akan kembaliin uang mereka yang kemaren mereka kirim buat aku disini." Kata gue dan appa menatap gue kaget. "Kenapa memangnya?" Tanya appa. "Aku bukan anak mereka, gak seharusnya mereka kasi uang banyak ke aku. Aku justru nyusahin mereka kalo kayak gini terus. Irene janji, irene akan cari kerjaan supaya bisa bantuin appa." Walaupun gue tau, appa gue adalah orang berada, dan tanpa gue kerja pun, hidup gue masih bisa cukup disini. Cuma gue akan menjadi sangat amat kurang ajar, kalo gue gak membalas jasa gue ke appa ataupun papa.
"Sayang, dengerin appa mu ini. Appa sayang sama irene, irene gausah mikir kayak gitu. Irene bisa makan enak disini, ada bibi yang bikinin. Irene mau beli apapun, appa bisa kasi uang juga. Kamu gaperlu khawatir, appa akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk irene, meskipun itu terlambat. Maafin appa ya sayang?" Gue memeluk appa erat banget. "Appa, irene mau keluar sebentar gak apa apa kan?" Tanya gue. "Loh, irene mau kemana?" Tanya appa. "Mau keliling sini aja, irene bosen hehe." Kata gue dan appa mengangguk. "Maaf ya ren, kalo disini gak ada temen mainnya. Disini memang sepi, tapi relax." Gue tersenyum dan menggeleng. "Engga begitu appa, irene cuma bose karna irene pengen cari suasana baru aja. Irene udah seminggu disini dan irene belom kemana mana. Irene jalan sebentar ya pa?" Appa mengangguk dan gue siap siap pergi.
Sebenarnya, gue cuma mau cari kerja sampingan aja. Itung itung ya bales jasa papa dan appa. Gue gak mau dicap seperti dulu lagi. Gue juga udah lupa dengan suho, kabar dia gimana, hana gimana, anaknya gimana. Gue bahkan masih kepikiran mereka gimana akhirnya. Gue mau menyampaikan permintaan maaf gue tapi menurut gue, gue bakalan membuat kegaduhan disaat mereka mungkin udah bahagia.
Sampai akhirnya gue melihat pamflet
"LOWONGAN KERJA : SUPIR TRUK SEMEN. UMUR 25-30 TAHUN. SIAP KERJA KAPAN SAJA."
Supir truk? Gue punya surat surat untuk berkendara, walaupun bukan kendaraan truk. Tapi why not?
"Annyeonghasseyo. Bae irene imnida." Sapa gue dan ada dua bapak tua duduk didepan gue "Ada perlu apa agassi kesini?" Tanya si bapak botak tua. "Saya mau lamar kerja jadi supir truk semen." Mereka ketawa. "Maaf, kenapa tertawa ya?" Tanya gue. "Kamu cantik dan berkelas, gak mungkin lah jadi supir. Bilang aja kalo mau beli bahan bangunan, nona." Kata bapak berkacamata samping bapak botak itu. "Saya benar benar ingin jadi supir. Saya cantik tapi saya miskin. Tolong mengertilah." Gue udah kesel aja denger mereka asik ketawa. "Yakin?" Gue mengangguk. "Baiklah, ikut saya."
[Skip] Setelah berbincang dan lain lain, dihari ini juga gue langsung bekerja. Mereka hanya menyuruh gue kerja ketika ada yang butuh semen dengan jarak rumah atau lokasi yang gak jauh jauh. Karna mereka mikir gue perempuan. "Irene-ssi, antar 5 sak semen ke rumah dialamat ini. Atas nama Cha Eunwoo." Gue mengangguk dan mengambil struk dan nota bayar untuk diberi ke pembeli. Gue mulai naik masuk ke dalam truk, tepat di kursi kemudi dan disamping gue ada cowok yang gue liat bener bener ganteng. Bahkan kenapa dia kerja kayak gue? Bahkan dia adalah kenek gue!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Agassi, annyeonghasseyo... lai guanlin imnida." Gue dan dia bersalaman. "Bae irene imnida." Kata gue. "Kenapa irene noona kerja jadi supir? Irene noona cantik padahal. Saya kira irene noona model." Hello, gue model produk semen emangnya? "Haha ngaco ya kamu, lin. Saya memangnya model cover bungkusan semen? Ya engga lah. Saya orang biasa kok." Kata gue dan guanlin tertawa pelan. "Oh gitu ya noona.... noona pasti orang seoul..." "Kok tau?" "Logat bicaranya ketauan." Gue hanya mengangguk dan mulai nyetir. "Ini belok kemana, lin?" Tanya gue. "Ke kiri, terus nanti lampu merah kekanan deh." Gue ngangguk.
Gak lama, kita sampe kerumah yang memang lagi renovasi gitu. "Annyeonghasseyo.... kami mau antar semen semen ini. Atas nama Cha Eunwoo?" Salah satu pria menghampiri gue dan wow, he's handsome as hell!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ne agassi?" Fuck gue rasanya ingin nikahin dia saking gantengnya :(