Part: 5

447 32 0
                                        

"Lukamu deritaku, meskipun aku tidak yakin lukaku deritamu." Simon Abigail

**

"Selena. Kenapa kau disini?"

Saat wajah itu melihat ke kolong tempat tidur aku hampir berpikir nyawaku sudah melayang, tidak terselamatkan. Aku tidak menyangka akan ketahuan dengan kondisi dia memegang pisau di tangan. Itu terasa seperti palung mencambuk jantung. Aku keluar dari tempat tidur dengan pucat pasi. Piyama mencetak tubuh karena keringat, rambutku seberantakan hatiku sekarang.

"Aku.." Suara itu menggantung, tidak tau harus menjawab apa. Aku kacau.

"Aku?" Dia mengulang kalimatku. Mataku bergetar, bahkan ketika hanya melihat gerakan pasif jarinya yang bergerak.

"Aku.." Napasku naik turun. Kilatan pisau di tangannya membuat jantungku berdenyut, membayangkan seandainya ujung tajamnya menyentuh kulit.

"Jelaskan Selena. Kenapa kau bisa ada di kamarku?" Desaknya penuh tuntutan. Aku tidak tau alasan kenapa membungkam. Yang kuinginkan sekarang adalah menendang pisaunya dan mengatakan semuanya. Kenapa fotoku, jason dan nick juga rambut dalam botol bisa berada di kamarnya. Lalu alasan kenapa bercak darah di dinding hari itu terasa saling berhubungan.

Dia bangun, tubuhku hampir menabrak dinding saat menolak tangannya berusaha meraih tubuhku.

"Jangan dekat-dekat. Aku tidak mau dekat denganmu." Kata-kata itu keluar dengan refleks, aku tau dia heran sekarang, tapi keselamatanku lebih penting.

Dengan melotot mataku melihat pisau yang membias cahaya lampu di tangannya.

"Hei, selena. Kau kenapa? Apa aku menyakitimu? Jelaskan padaku, apa yang membuatmu setengah waras seperti ini."

"Kau yang tidak waras! Kau yang jahat dan kau yang psikopat!" Potongku dengan raungan menggema memenuhi kamar. Udara tidak bisa masuk dengan baik, otakku terlalu syok dengan keadaan.

Bagaimana bisa Kakak yang kupercaya adalah orang yang mengerikan. Aku hampir menangis namun menahannya. Tidak ada gunanya menunjukkan kelemahan di depan orang yang bisa menjadi tersangka kejahatan kapan saja. Dan dia orang yang paling rentan. Semua barang yang kulihat barusan bukan jenis barang yang di koleksi cowok baik-baik bukan?

"Psikopat? Maksudmu apa?"

Aku tidak mempercayainya lagi. Baiklah, akan aku jabarkan.

"Kau pikir aku tidak tau kejahatanmu selama ini? Hingga aku tidak bisa percaya bahwa orang yang melakukan hal busuk seperti itu adalah Kakakku. Kakak yang kupercaya!" Aku melihat mata abu-abu gelap dan bulu mata panjang yang lentik sempurna itu dengan muak sekarang. Tidak ada gunanya wajah rupawan namun menyimpan racun mematikan. Semua yang ada padanya terasa salah, banyak yang tidak tepat, penuh kepura-puraan dan itu membuat rasa benciku meluap-luap.

Aku tidak ingin mempunyai seorang Kakak psikopat.

"Aku, masih belum mengerti arah pembicaraanmu sebenarnya. Siapa yang berbahaya dan siapa yang psikopat?"

Aku masih melirik pisau yang masih setia dalam genggamannya, ujung runcing berkilat seperti perak. Tanganku meremas gaun.

"Aku tau kau psikopat. Selama ini kau tidak pernah menyeludupkan pacar-pacarmu melalui pintu belakang setiap pagi. Mereka tidak pernah kemana-mana. Kau membunuh mereka semua!"

Dia terlihat terkejut. Sudah kuduga ekspresinya akan seperti itu.

"Kau benar-benar berpikir aku seberbahaya itu?"

"Bukan Cuma berbahaya, tapi kau juga mematikan! Kau berbohong, kau memanipulasi, kau juga berpura-pura baik padaku agar tidak ada yang mencurigaimu selama ini."

MY BROTHER IS PSYCHOPATHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang