Aku benar-benar mencari tahu semuanya. Saat kedua kali Nick dan Angela mengajakku kerumah mereka aku kembali masuk ke kamar mereka. Lampu terlalu terang di kamarnya membuatku makin mudah melihat hingga ke nakas paling sudut samping tempat tidur. Laci sebagian sudah kubongkar beberapa hari lalu, namun sebagian masih dikunci.
Aku mencari kunci hingga nekat membongkar isi lemari, lukisan tangan tak berbentuk, bahkan pot bunga kaca yang dipenuhi kristal di dalamnya.
Aku mengubek-ubek semuanya. Nick orang yang transparan, dia tidak suka menyimpan sesuatu ke tempat yang tidak bisa diraih dengan cepat. Jadi menurut pemikiranku, laci dan lemari adalah 2 tempat paling mungkin.
Atau dalam pot kaca kristal itu.
Ada kerlip dan benda keras saat aku berusaha mengubek-ngubek isinya. Sebuah kunci dengan bentuk rumit. Tidak tau ini cocok dengan salah satu laci yang terkunci, namun tidak ada salahnya mencoba.
Aku tidak tau apa yang kucari disini, tapi tidak ada salahnya mencoba.
Percobaan pertama gagal, kedua juga tidak cocok. Hingga laci terakhir juga tidak bisa dibuka. Ini kunci khusus dan kuyakin ada banyak benda penting di dalamnya.
Mataku mawas menatap seluruh kamar. Malam ini lebih aman dari malam sebelumnya. Angela masih sibuk dengan aksessoris yang baru tiba tadi sore untuk ditempatkan di Toko sebagai penghias meja, Kakakku keluar mendadak menemui seseorang, dan Nick tertidur di sofa televisi. Jadi bisa kupastikan semuanya aman.
Tidak banyak benda tidak penting di kamar Nick. Bahkan penghias ruang hanya beberapa di atas meja. Nick tidak punya kegemaran khusus seperti Kakakku yang hobi mengoleksi dadu. Dia akan tumbuh menjadi benar-benar seseorang yang mudah dan lurus jika kehidupannya lebih baik.
Mungkin tragedi dalam hidup seseorang memang bisa merubah watak seseorang. Aku menunduk menatap lantai karena menyadari bahwa tragedi hidupnya memang terjadi karena ku. Jika kami tidak bertemu mungkin akan lebih baik.
Nick bisa hidup selamanya dengan Kakaknya yang preman meskipun aku tak yakin dia akan tumbuh menjadi seseorang dengan kehidupan yang menjanji seperti ini, setidaknya dia tidak akan menjadi seorang pembunuh.
Itu sudah cukup.
Aku menghilangkan bayangan Nick dari pikiranku. Mataku kembali memeriksa seluruh isi kamar, terakhir entah apa yang mendorongku namun lemari yang sudah pernah kubongkar tadi kubuka lagi. Seperti dugaan ada pintu terkunci di baliknya.
Sejak awal kunci ditanganku tidak terlihat seperti kunci yang cocok dimasukkan ke laci tapi lebih ke pintu.
Dan itu benar adanya. Kunci masuk dengan cocok kesana, berputar dan klik!
Pintu terbuka sendirinya.
Ini benar-benar luar biasa, jika Kakakku mempunyai ruang rahasia di balik lemari, dia dalam lemari.
Tertutupi jaket-jaket tebal itu.
Aku masuk. Ruang itu sedikit gelap tanpa jendela, berukur persegi dan tak terlalu besar. Mungkin seukur kamar mandi di rumah ini.
Samar-samar lampu yang menyala meremang di atas memperjelas penampakan pada papan dinding. Photo tertempel dengan Dengan paku yang menancap sebagai perekat.
Aku mengaga ketika bisa melihat lebih jelas. Itu photo lama yang dulu sering di serakin Nick di depan pintu rumahku. Tapi bukan itu saja yang membuatku tidak baik-baik saja, melainkan diriku yang berada di jembatan Brooklin dan pria berjaket merah yang dulu setiap hari terlihat seperti menguntitku.
Disini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Itu wajah Kakakku dengan pandangan menatap ke aspal.
Napasku membeku. Tanganku yang telah bergetar meraih photo polaroid paling jelas menampakkan wajahnya. Mataku berkaca-kaca, aku hampir menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER IS PSYCHOPATH
Mystery / ThrillerSelena Morry, menemukan kecurigaan aneh terhadap kakak tirinya Simon abigail, si playboy dingin yang handal. Ketika satu persatu wanita yang dibawa pulang kakaknya menghilang entah kemana dan bercak darah di dinding seperti orang terseret membuat Se...
