"Bagimu, apa cinta itu terlihat seperti lelucon?"
***
Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tentang perasaan bahkan rasa kesepian yang tiap hari mengungkung paksa. Tentang kisah kami yang tidak pernah berjalan seperti harapan, tentang mimpi, egoisme, dan kerinduan yang ingin kubuang. Aku ingin mengatakan banyak hal padanya, semuanya. Hingga dia lelah mendengar dan pergi karena bosan. Namun sayangnya jiwaku terlalu pengecut untuk mengungkapkan, terlalu kaku untuk memulai, juga terlalu angkuh untuk meminta.
Seandainya aku cukup punya banyak keberanian, aku ingin membisikkan bahwa aku mencintainya, sangat mencintainya hingga menjadi takut dengan diriku sendiri. Karena manusia normal mencintai selayaknya orang-orang, namun aku tidak menyukai selayaknya mereka.
Seorang Adik tetaplah seorang Adik. Itu garis takdir yang tidak bisa kurubah bahkan ketika Orang Tua kami sudah meninggal, aku tidak berhak menggeser status itu sesudah wasiat terakhir yang di amanahkan Ibuku bahwa selamanya aku harus menjadi Adik yang baik untuknya, Simon Abigail yang tidak seharusnya menjadi Kakakku.
Beberapa hari lalu hubungan kami membaik dan perasaan bergelora itu juga kembali. Dengan dalih dia Kakakku aku bisa meredamnya, dan tatapanku bisa kembali seperti biasa, tatapan seorang Adik untuk Kakaknya, bukan tatapan seorang wanita untuk Prianya.
Beberap hari sebelumnya aku juga kembali kesal dengannya karena mengajakku ke laut yang membuatku serasa di telan ombak menggulung hidup-hidup. Aku phobia laut. Aku menyepak kakinya dengan sepatu Kets yang kupakai dan dia mengaduh kesakitan seperti biasa untuk meredakan emosiku. Aku tidak menyepaknya dengan keras dan dia tersungkur ke pasir seakan itu sakit luar biasa. Aktingnya terbaik. Kau tau, aku tau dia berpura-pura dan itu memang keahliannya.
Aku terpaksa membawa sepatunya saat kami pulang dan menjadi supir sehari karena kakinya yang katanya belum sembuh. Padahal tidak ada bekas-bekas penyiksaan yang tersisa sedikitpun disitu. Dia memanfaatkan keadaan dan mencari kesempatan dalam kesempitan untuk membuatku sensara.
Bayangkan aku harus pulang pergi dari kampus demi menjemputnya sejam sekali dari Resort dan berbagai pertemuan lainnya. Dia memang Kakak yang baik hati.
Namun aku bahagia. Kami berbicara dan tertawa selayaknya orang-orang. Suasana yang tidak pernah ada sejak 5 Tahun yang lalu. Dia banyak melucu dan berbicara konyol bahkan percakapan tidak penting. Leluconnya tidak pernah masuk akal, anehnya itu terasa waras ketika dia yang mengatakan.
"Ini sepatu bersih?"
Pagi-pagi sekali kami menjemur pakaian di atap paling atas. Dia menyuruh Lauren untuk istirahat karena kondisi kesehatan Lauren yang memburuk. Lauren muntah-muntah kemaren sore dan Kakakku membawanya ke dokter untuk di periksa sekalian tambahan libur sampai kondisi kesehatannya membaik.
Itu membuatnya harus mengurus semuanya sendiri sekarang. Aku sudah mengatakan untuk mencari Asisten rumah sampai Lauren sembuh namun dia tidak mau, dengan alasan hanya Lauren yang bisa di percaya.
Aku tidak mendebat karena berpikir Kakakku memang orang yang tertutup dalam beberapa hal meskipun dalam banyak hal dia bisa menjadi sosok Ambivert garis keras. Dia sangat mudah dekat dengan siapapun jika dia mau dan membatasi diri dengan orang-orang yang ingin di batasi, seperti Aku dulu misalnya.
Mungkin memang itu penyebab kami menjadi canggung luar biasa ketika dewasa atau ada hal lain aku tidak tau. Dia tidak pernah mengatakannya.
"Itu sudah di cuci Lauren sepertinya," jawabku melihat sepatu yang beberapa hari lalu kugunakan untuk menyepak kakinya.
"Lauren sangat baik, dia bahkan mencuci sepatu yang kau gunakan untuk kejahatan," katanya melempar sepatu ke rak. Terkekeh.
Aku mengacak pinggang.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER IS PSYCHOPATH
Bí ẩn / Giật gânSelena Morry, menemukan kecurigaan aneh terhadap kakak tirinya Simon abigail, si playboy dingin yang handal. Ketika satu persatu wanita yang dibawa pulang kakaknya menghilang entah kemana dan bercak darah di dinding seperti orang terseret membuat Se...
