Author Pov.
Lelaki itu memasuki ruang rahasia tanpa alas kaki. Kakinya menapak dengan pasti dan terlatih. Tubuhnya liat dan memiliki lengan padat secara pas dan bahu yang kokoh membuat kulit pucatnya bersinar dalam balutan kaos hitam yang melekat di badan. Semua yang ada pada pria itu terasa pas dan tepat bahkan senyum tanpa belas kasihan yang kini dilayangkan pada sang korban.
Dona.
"Hei Dona, gimana kabarmu hari ini? Kau sehat?" Dia membungkuk di samping tempat tidur yang menjerat tubuh wanita itu dengan sempurna. Tali sekuat baja yang mengikat tangan dan meninggalkan bekas merah disana. Dia menurunkan matanya menatap tali pengunci lengan itu dengan senyum mereng.
"Aku tidak tau kalau itu bisa menimbulkan bekas merah yang mengerikan," ujarnya menaikkan matanya kini, menatap wajah sang gadis yang tidak cantik lagi. Maskara telah cemong ke sana kemari, lipstiknya sudah hilang dan eyeliner yang sudah meleleh ke pipi akibat tangisan yang tidak berhenti. Dan yang paling membuat miris adalah mulutnya yang terbungkam dengan lakban hitam secara paksa.
"Ini juga pasti menyakitimu," katanya lagi seakan penuh belas kasihan, namun siapapun tau bahwa lelaki itu tidak memiliki rasa iba dihatinya. Apatah lagi yang baginya tidak penting dan membosankan.
"Kau cantik tapi tidak secantiknya." Dia menaikkan tangannya, mengelus wajah dan rambut wanita itu menurun. Api terasa memercik di kulit wanita itu, hingga jantungnya berdetak tak beraturan. "Rambutmu juga tidak hitam jadi tidak ada yang berharga untuk disimpan,"Dia menatap Dona, menarik napas lega luar biasa.
"Kau tau, akhirnya setelah sekian lama aku dan dia akan menjadi seperti dulu. Hanya ada aku dan aku dalam dunianya yang berharga." Simon menurunkan tangannya. Tersenyum bahagia. "Aku menantikan ini sejak lama, hingga hampir putus asa. Tapi kau tau karena seseorang yang akan menggantikan posisimu hari ini hubungan kami membaik. Dia kulepaskan karena berjasa besar terhadap hubunganku dan Adikku. Yah, meskipun itu bukan kesalahan yang mudah di maafkan." Matanya berkilat saat menabrak lampu yang membias dari kaca. Ruang terlalu terang, pantulan dirinya terpantul buram dari setiap sisi. Kaca itu mempunyai ketebalan yang tidak bisa di pecahkan dengan mudah dan menampakkan pemandangan ke arah luar secerah cermin yang memantulkan bayangan.
Gadis itu menggigil, tubuh kurusnya menonjolkan tulang yang terasa menyakitkan jika menabrak tiang atau kepala ranjang sekalipun. Dia menatap Simon dengan penyesalan, teramat menyesal karena mempercayai lelaki yang bisa membunuhnya kapan saja disini.
Air matanya merembes, matanya bergetar.
"Hei, jangan menangis..Aku tidak suka gadis cengeng." Simon menyeringai, membuat gigi berbaris sempurnanya berkilau. Senyuman misterius yang berbahaya.
"Aku berjanji akan membebaskanmu dengan cepat. Aku bukan orang yang tega ok.. Kau akan merasakan kebebasan yang kau impi-impikan sayang," Dia bangun, menautkan jari-jarinya kebelakang punggung. "Menurutmu bagaimana caranya aku membebaskanmu? Tanpa di tangkap polisi dengan tuduhan penculikan apalagi pembunuhan?" Dia berpikir, sedikit meraup keuntungan menikmati ekspresi ketakutan di wajah gadis itu.
"Oke, aku sudah menemukan caranya.. Cara ini membosankan tapi ada yang lebih aman dari ini." Dia melirik botol kaca berisi cairan obat bereaksi tinggi, botol yang tidak meninggalkan komposisi apapun. Simon meraba penutup, detik berikutnya meraih alat suntik dari laci, menusukkan ke botol dengan sangat pelan. Seperti gerakan ular hijau beracun yang mengintai mangsa untuk di lahap.
"Ini..Aku berjanji tidak akan sakit," Sudut bibirnya melekuk secara misterius.
***
Selena Pov
Aku tidak tau apakah kata-kata yang ucapkan semalam apakah bisa kulakukan dengan cara pas tanpa membuat salah satu merasa canggung hingga justru menjadikan semakin asing. Sejak dulu aku tidak menyukai hubungan asing dengan seseorang yang kuanggap penting apatah lagi orang itu Kakakku sendiri, satu-satunya orang yang justru tidak cocok di jadikan orang asing itu sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER IS PSYCHOPATH
Gizem / GerilimSelena Morry, menemukan kecurigaan aneh terhadap kakak tirinya Simon abigail, si playboy dingin yang handal. Ketika satu persatu wanita yang dibawa pulang kakaknya menghilang entah kemana dan bercak darah di dinding seperti orang terseret membuat Se...
