4 Tahun kemudian.
Aku menatap sungai East di bawah jembatan Brooklin yang tenang. Sudah 4 Tahun dan ingatan kematian Kakakku masih terasa. Disini terakhir kali wajah sedihnya tersenyum sebelum melompat ke bawah dan menghilang. Rasanya partikel kasar pada besi terasa di tangan dan membuat hatiku kembali hancur berkeping-keping. AKu memegang dada, menumbuk dengan linangan air mata penuh penyesalan. Sudah, ini sudah terlalu lama tapi aku tidak bisa lupa.
Aku tidak bisa melupakan kenyataan bahwa dia sudah mati. Mayat mereka tidak di temukan dan tidak ada harapan untuk selamat dalam sungai selebar dan sedalam itu.
Dulu ketika pertama kali kami bertemu aku mengingatnya sebagai sebagai satu-satunya teman terbaik yang kumiliki, lalu saat dia menyandang status sebagai Kakakku dia menjadi sosok misterius yang tidak pernah bisa kubaca sedikitpun.
Ketika kecil dan kami bertengkar aku sering menyepak sepatu dan menjambak rambutnya karena aku memang jahat. Lalu ketika kami mulai remaja aku menjadi lebih menjaga sikap karena menyadari perasaanku padanya. Make up yang sampai sekarang tidak bisa kupoles dengan benar pun kupakai untuk membuatnya menyukaiku dan mendapatkan panggilan nenek sihir karena penuh cemong di mana-mana.
Di bulan September aku merayakan Ulang Tahunnya dan saat itu bersamaan dengan pernikahan Orang Tua kami. Lukisan Elang yang kubuat separuh itu tidak pernah selesai dan Kakakku tidak berniat menyelesaikannya.
Aku tertawa dengan hati terluka mengingat semuanya. Pertemuan pertama kami terasa seperti dongeng namun perpisahannya seperti mimpi buruk yang terjadi. Saat aku mulai jujur pada perasaanku saat itulah dia pergi dan meninggalkanku sendirian, menangis dalam penyesalan.
Dia tidak tau bahwa sekarang aku kesepian. Seperti cangkang kosong yang diambil hatinya, tidak hidup kembali.
Air mataku jatuh ke pipi. Tanganku mengusapnya lagi-lagi. Bibirku pucat dan wajahku tanpa make up. Gaun hijau bergelombang di terpa angin. Gaun yang sama pernah di berikan Kakakku 5 Tahun lalu dan tidak pernah kupakai karena rasa benci yang kubuat-buat padanya. Benar, selama 5 Tahun, aku mensugesti diriku sendiri untuk membencinya agar perasaanku baik-baik saja dan berhenti dari melihatnya sebagai seseorang yang layak kucintai.
Aku menutup kedua mataku dengan tangan. Terisak di antara suara ombak laut yang menggelora. Aku merindukannya, merindukan kakakku. Aku mencintainya, sangat mencintainya.. Aku menyesal terhadap waktu yang sudah kubuang untuk mencurigainya, terhadap kata kasar yang kulontarkan dengan seenaknya, terhadap hatinya yang kubuat hancur berkali-kali..
Aku menyesal..
Dadaku sesak. Setiap hari waktu kuhabiskan untuk menangisinya disini, berharap tiba-tiba hidup kembali dan menyapaku dengan senyumnya lagi. Namun ini sudah 4 Tahun, dia tidak pernah kembali dan tidak akan pernah kembali..
Dan hatiku kembali hancur ketika mengingat semuanya.
"Aku mencintainya, Aku hanya ingin Kakakku..," kataku dengan pedih. Hujan turun bersamaan dengan kata-kataku, mengguyur seluruh bagian jembatan hingga membawa aroma besi dan sungai tercium di udara. Langit menjadi kelabu, beberapa orang memilih berlari cepat-cepat melintasi jembatan dengan suara tapak yang di keraskan. Menyisakan diriku dan sepasang muda mudi yang menutup tubuh mereka dengan jaket. Tertawa seperti binar-binar dari mata yang jatuh cinta.
Aku menunduk, tidak sanggup melihat semuanya. Ketika aku melihat mereka itu mengingatkanku pada mimpi-mimpi yang tidak berlanjut bersama Kakakku.
Sudahlah Selena. Ini sudah 2 tahun. Bukankah kau harus tetap hidup?
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri dengan kata-kata itu namun pada akhirnya aku kalah, air mataku tetap jatuh dan aku kembali mengingatnya.
Suara hujan semakin deras, seorang pemuda ikut berdiri di sampingku. Dia menutup kepalanya dengan jaketnya yang basah hingga kepalanya terlindungi dari hujan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER IS PSYCHOPATH
Misterio / SuspensoSelena Morry, menemukan kecurigaan aneh terhadap kakak tirinya Simon abigail, si playboy dingin yang handal. Ketika satu persatu wanita yang dibawa pulang kakaknya menghilang entah kemana dan bercak darah di dinding seperti orang terseret membuat Se...
