Part: 7

421 28 0
                                        

Aku duduk di atas kursi taman menghadap ke jalan raya. Jalanan tampak sepi, angin mensapukan daun yang berguguran di kaki. Jennie telah pulang duluan dengan tas make up yang sengaja di tinggalkan dengan dalih aku akan memerlukannya saat berkencan nanti.

Pagi-pagi saat tiba di kampus tadi aku meminta Jennie mencariku pacar dengan tiba-tiba, yang kupikir itu akan menjadi kesalahan terbesar karena melaluinya. Kau tau Jennie selama ini selalu menyodorkan cowok-cowok kenalannya untukku tapi tidak ada satupun yang setipe atau layak kujadikan pacar.

Cowok bar, anak punk, dan kadang playboy kaki lima yang menggaet cewek-cewek dengan siulan murahan yang memuakkan. Dia selalu membawa tipe seperti itu hingga kesabaranku habis dengan sendirinya.

Namun sekarang kupikir seburuk apapun cowok yang disodorkan Jennie kali ini aku harus menerimanya agar kewarasanku kembali. Agar aku tidak terus-terusan berburuk sangka kepada Kakakku dan berbuat bodoh seperti beberapa malam belakangan, membuatku terlihat seperti orang gila di mata orang-orang.

Seperti kata Kakakku bahwa aku sedang stress dengan tugas kuliah dan baiklah, seperti pintanya aku akan merefress kembali otakku dan semoga dia puas melihatku punya pacar hingga dirinya ikut menghilang bersama napas yang kubuang. Dengan begitu aku tidak akan terus-terusan memikirkannya, kan?

Beberapa kali aku memegang rambut, mengacaknya dengan frustasi. Masih cukup lelah dengan mata panda yang luput dari perhatian. 30 menit aku menunggu disini dan Jennie belum kembali dengan teman cowok yang katanya ingin diperkenalkannya padaku.

"Hai cantik, sendirian aja dari tadi."

Aku mamandang sinis ke depan dengan pandangan muak. Seorang cowok yang kukira lebih tua dariku, mengenakan kemeja rapi dan kacamata gelap berada dalam mobilnya memandangku dengan wajah genit yang membuatku kesal setengah mati.

Apa-apaan itu!

Aku berpaling, memilih tidak perduli. Tanganku meraba kop surat lama dalam tas.

"Kau butuh tumpangan, akan kuantar kau hingga kerumah. Mau menumpang?"

"Tidak! Makasih," jawabku tegas dan lugas, beralih memegang hanphone seolah sibuk. Kuharap dia sadar bahwa aku tidak menyukainya.

"Kau terlihat beda, mau tukaran nomor hanphone." Dia tidak terlihat menyerah kupikir.

"Tidak." Sabarku kedua kali. Sepatu mahal dan mobil mercy keluaran terbaru mungkin dipikirnya terlihat keren. Dia setipe seperti cowok-cowok yang menggoda cewek di gang dengan siulan murahan yang kusebutkan, tidak mudah menyerah terhadap sesuatu yang segar dan menantang. Oh, aku benci tipe seperti ini.

"Ayolah, kau tipeku. Aku suka cewek sedikit cuek dan rock sepertimu."

"Terima kasih sudah menyukaiku, tapi maaf aku tidak tertarik," kataku masih mencoba bersabar lagi-lagi, namun siapapun tau wajah masamku sebagai kode keras aku tak nyaman. Tapi cowok ini tidak peka sama sekali.

"Oh ayolah, kita bisa hangout bareng atau coba kencan di klub dan senang-senang."

Seperti tebakanku dia tidak menyerah, aku menggigit bibirku dengan geram. Jennie kenapa lama sekali...

"Tolonglah. Aku sudah punya pacar dan dia sedang dijalan untuk menjemputku sekarang." Biasanya cara ini ampuh, tapi tidak tau kali ini.

Lelaki itu membuka kacamatanya, kening terangkat seperti cowok brengsek yang sedang menalar kebohongan.

"Kau tidak terlihat seperti gadis yang punya pacar. Ayolah, aku berjanji kita benar-benar akan bersenang-senang di club mahal malam ini."

Oh ya ampun. Ini orang membuat otakku mendidih!

MY BROTHER IS PSYCHOPATHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang