Part: 17

207 30 17
                                        

Hujan turun dari langit, bercerita tentangmu padaku seperti lantunan melodi yang tak pernah habis. Dia bilang kau kesepian, tapi yang kulihat justru kau bahagia. Dia bilang kau menangis sendirian, tapi yang kulihat justru tertawa. Dia juga bilang kau mengenangku tapi yang kulihat kau tlah lupa.

Dia berbohong sama seperti matamu yang dulu juga berbohong.

Kau tlah bahagia bersamanya kan Kakak? Si gadis berkepang 2 yang lebih baik.

Aku memeluk Diary yang kutulis hari ini. Matahari tertutup awan. Mendung di atas langit. Hari ini aku tidak menguntitnya seperti biasa. Setelah kejadian kemaren rasa pengecut lebih parah melandaku. Aku ingin membayangkan saja dia duduk disampingku sekarang. Tersenyum dan menggenggam tanganku. Tapi saat sosok itu benar-benar tersenyum perlahan dia memudar dan menghilang.

Benar-benar ilusi.

Aku tertawa pada pohon yang lebih nyata. Setidaknya dia benar-benar ada dan bisa kusentuh. Kulitnya kasar dan daun tlah berguguran di tanah. Bangunan kokoh di depan seperti benteng raksasa yang berdiri dengan besi-besi penguat di dalamnya. Toko roti dimana Kakakku nongkrong sekarang terselip di antara bangunan-bangunan itu. Dengan aroma roti dan gadis cantik seperti malaikat.

Dia bukan hanya cantik tapi kurasa juga baik. Itu alasanku merasa kalah.

Aku menunduk. Tersenyum miris.

Rasanya telah seharian disini. Saatnya pulang.

Aku memungut semua barang juga sampah bekas makan yang berserakan di tanah. Berbalik dan terdiam.

Seseorang berdiri di tepi jembatan. Melihatku dari jauh.

Aku mendelik. Memastikan bahwa yang kulihat benar. Namun dia telah berbalik dan berjalan kembali ke arah selatan, menangkupkan topi jaket kepala dan tangan di masukkan ke kantong.

Itu terlihat seperti Kakakku.

Kakiku melintasi jalan dengan terburu-buru untuk naik ke sisi jembatan, namun dia telah pergi dan menghilang. Ramainya orang membuat sosoknya tak terlihat lagi.

Plastik di tanganku terbawa angin saat genggaman melonggar. Jembatan bersinar karena awan yang telah berpindah. Aku terdiam dan tersenyum hambar karena itu sebuah kemustahilan. Tidak mungkin itu Kakakku. Dia sedang bersama Angela sekarang dan berbahagia dengan tawa renyahnya yang biasa. Memanggang roti untuk wanita pujaan.

Iya sosok itu Angela, bukan aku.
***

Lalu 2 hari berikutnya aku benar-benar tidak menguntitnya lagi dan sosok berjaket merah itu muncul kembali. Dia akan melihatku di sisi jembatan dengan wajah terhalang topi lalu pergi saat aku akan pulang. Aku penasaran namun memilih tidak mencari tau karena bagiku sekarang semuanya sudah tidak penting siapa yang penguntit siapa yang bukan. Lagipula selama dia tidak menggangguku kupikir itu tidak masalah.

Karena yang pasti itu memang bukan Kakakku. Aku akan senang jika itu benar dia, tapi bukankah berhenti mengharap yang tidak pasti itu baik? Dia tidak mengingatku, itu kenyataan yang harus kuterima.

Setidaknya dia baik-baik saja itu sudah cukup.

Aku akan berbahagia untuknya.

Aku tidak kembali baik-baik saja setelah mengatakannya, bantalku selalu basah setiap kali pulang ke rumah. Berdoa semoga setelah aku terbangun Kakakku sudah kembali. Kerumah, menjadi Kakakku lagi.

Hanya itu.

Namun itu juga tidak terjadi. Seperti berharap besi meleleh dengan panas matahari, harapanku setidak masuk akal itu.

“Kau sudah membelinya? Tidak ketinggalan satupun kan?”

Jennie temanku sedang mengintruksi di balik telpon. Hari ini aku ke Mall cabang Manhattan yang terletak tidak jauh dari Apartemen pacar Jennie. Dia menyuruhku membeli pelembab Aloe Veranya sekaligus Skin Care yang ingin kubuang ke laut karena waktu singkat yang di berikan.

MY BROTHER IS PSYCHOPATHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang