Aku tidak percaya padanya. Beberapa hari kemudian Nick semakin berada dalam jangkauan mataku. Aku bahkan lebih sering memperhatikannya ketimbang Kakakku sendiri. Pertanyaan yang muncul di otakku tidak pernah terjawab. Alasan kenapa Diary yang sudah lama kucari ada pada Nick.
Kami belum mengenal saat itu. Buku itu hilang tepat di hari pernikahan Orang Tuaku dan Kakakku
Dia sadar bahwa aku memperhatikan. Makin meningkat-ningkat rasa senangnya kurasa.
"2 kali putaran. Yang kalah kali ini mengatakan rasa traumanya yang tidak pernah sembuh." Nick bersuara. Malam ini Angela mengajakku bermain Botle Ship, permainan memutar botol dilantai. Siapa kalah harus jujur. Sehari sebelumnya aku menganggap permainan ini konyol namun tidak bisa seperti itu lagi disaat Angela yang mengajak. Angela orang yang baik. Dan aku tipe orang yang bahkan tidak berani menyakiti tipe-tipe seperti mereka barang seujung kukupun.
Kupikir kami bisa jadi teman. Aku tidak terlalu peduli dia akan merebut Kakakku, jika itu bisa membuat Kakakku lebih bahagia aku akan mundur dengan senang hati. Aku hanya perlu Simon menjadi Kakakku seperti dulu. Cukup itu.
Cinta terlalu mewah untuk orang sepertiku. Kata-kata itu memukul otakku bertalu-talu.
Botol pertama yang berputar berhenti tepat di hadapan Nick, lalu kedua juga berhenti padanya.
Dia yang memutar dia sendiri yang kena.
"Emm.. Ceritakan hal yang paling membuatmu trauma." Kakakku meraih botol, mulai melempar pertanyaan dengan senyum jahil melihatku dan Nick. Tidak tau kenapa dia repot-repot melakukan itu.
Nick terlihat berpikir, "Ketika umurku 15 Tahun dan aku jatuh cinta pertama kali pada seorang gadis yang patah kakinya. Setiap hari aku melihat gadis itu mencoret tanah depan losmen karena rasa bosan dan aku hanya akan melihatnya dari balik pohon karena tidak berani mendekat. Aku tidak punya keberanian karena aku yakin dia tidak akan mau berbicara denganku." Dia melihatku. Membuatku merasa aneh. Siapa disini yang sedang diceritakan?
"Lalu hubungan dengan trauma?" Angela terlihat tidak paham. Sama seperti Kakakku yang menggangguk menyetui kata-katanya.
"Hubungannya.." Dia melihatku lagi, bibirnya melengkung. "Hubungannya adalah, bahwa setelah beberapa bulan kemudian aku kehilangan seseorang karenanya, dan membuatku membencinya seumur hidup."
Benar, dia sedang bercerita tentangku, kan?
Dia sengaja membuka kartu. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa dia memang Nick, yang tidak kehilangan memori apapun.
"Itu terdengar tragis. Cinta dan benci hanya berbeda tipis." Angela menanggapi, Kakakku hanya diam melihat lantai. Aku melihat sesuatu pada matanya, suatu kilatan yang sudah lama tak kulihat.
"Apa si gadis tidak trauma?"
Hampir kaget aku mendengar nada bicara Kakakku. Mataku bergetar menatapnya.
"Apa si gadis juga tidak trauma?"
Awalnya kukira tatapan itu mengandung kebencian pada Nick namun ternyata akhirnya dia tergelak. Wajah menakutkan yang paling kuharapkan sebentar tadi sudah hilang tak berbekas.
"Kurasa dia sudah mdncintai orang lain. Brian yang ngakunya tampan pernah ditolak cewek juga, toh." Air matanya hampir tumpah karena tertawa berlebihan. Seiring dengan menghilangnya harapan yang barusan membuncah dalam dadaku.
"Sayangnya mungkin lebih ke mencintai orang yang salah."
Aku menatapnya. 'Disini kaulah yang lebih salah Nick! Syukurnya bukan kau yang kusuka'
Itu hal yang paling ingin kukatakan padanya jika tidak ada Kakakku disini sekarang.
"Kita putar lagi." Nick tersenyum, tapi seperti kesan mengalihkan pembicaraan. Itu tidak terlalu penting untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BROTHER IS PSYCHOPATH
Misterio / SuspensoSelena Morry, menemukan kecurigaan aneh terhadap kakak tirinya Simon abigail, si playboy dingin yang handal. Ketika satu persatu wanita yang dibawa pulang kakaknya menghilang entah kemana dan bercak darah di dinding seperti orang terseret membuat Se...
