Bela terkulai lemas di ranjang. Beberapa teman Bela berpamitan pulang, sedangkan Fitri sibuk mengobati luka cakaran di pipi Prama.
"Maaf, atas kejadian yang menimpamu...." lirih Fitri.
Pemuda itu hanya merintih merasakan perih di pipinya.
"Terima kasih Bibi sudah merawat saya, karna sudah larut saya akan pulang" seru Prama.
Kini tinggal Bagas, Fitri dan Bela yang ada di rumah. Fitri menghampiri Bagas yang sedari tadi berdiri di pintu kamar Bela.
"Mas, kau tak apa-apa?" tegur Fitri menyadarkan lamunan Bagas yang terus memandangi putrinya.
"Apa yang kita takutkan, akhirnya terjadi...." lirih Bagas.
Fitri melihat bekas cekikan di leher Bagas yang membiru.
"Apa mungkin kejadian semacam ini akan terulang lagi?" tanya Fitri. Bagas hanya menggelengkan kepala.
☠️☠️☠️
Hari ini di Sekolah, Bela menjadi pusat perhatian. Tidak seperti biasanya, jika Bela sering jadi pusat perhatian karena kecantikan dan kebaikannya maka sekarang akibat kejadian mengerikan di pesta ulang tahunnya semalam.
"Yang terjadi pada Bela semalam, tidak salah lagi.... Bela sedang kesurupan!" tukas salah seorang.
"Setan mana yang merasuki tubuh Bela? Hingga ia mau membunuh ayahnya sendiri!" sahut yang lainnya.
"Jangan-jangan kekayaan ayahnya adalah hasil pesugihan" sahut yang lainnya lagi.
Bela menjadi risih dengan para temannya yang saling berbisik memperbincangkannya. Ia berjalan dan menuju bangkunya. Di sana ada Prama. Ya, Prama memang sebangku dengan Bela.
"Prama, kenapa dengan wajahmu?" tanya Bela begitu ia mengetahui perban di pipi Prama.
Prama tak menjawab dan menepis tangan Bela yang hendak menyentuhnya.
"Itu akibat ulahmu, Bela...." seru salah seorang.
"Tidak mungkin," sergah Bela.
"Rupanya kau tak ingat dengan kejadian semalam? Kau berubah menjadi monster yang mengerikan!" seru seorang lainnya diiringi tertawaan teman-teman.
Bela membanting tasnya lalu berlari keluar kelas, ia kecewa karena tak lagi disanjung-sanjung seperti dulu tapi dikucilkan. Jadi begini rasanya dikucilkan....
"Hentikan!" teriak Prama karena tak tega melihat Bela sedih.
"Lebih baik pindahlah kursi, Prama. Atau Bela akan mencekikmu," tambah salah seorang diiringi tertawaan.
Prama tak mengatakan apapun lagi.
Saat jam istirahat, tak ada yang berani mendekati Bela. Prama juga tampaknya sedikit menjauh.
Sejak kejadian itu, Bela tak punya teman. Ia lebih sering murung. Di rumah pun, ia hanya mengurung diri di kamar. Bela menjadi sosok yang sangat tertutup. Sudah banyak cara yang dilakukan oleh Bagas dan Fitri agar Bela bisa kembali ceria seperti dulu namun hasilnya nihil. Rasa putus asa sesekali hadir dalam hati mereka. Bahkan mereka mendatangi teman-teman Bela yang dulu pernah akrab dengan Bela, termasuk Prama dengan tujuan agar mereka mau bicara lagi dengan Bela.
Beberapa teman Bela memang merasa kasian dan mencoba bicara dengan Bela. Tetapi siapa yang menyangka bahwa Bela justru menyerangnya.
Ketika itu Bela sedang berjalan sendirian di koridor Sekolah. Ia mendengar suara itu....
Bela....
Ia menutup telinganya rapat-rapat. Bayangan hitam melintas di belakangnya, ketika ia menengok, tak ada siapapun. Bela merasa takut, jantungnya berdebar sangat kencang dan bulu kuduknya berdiri. Napasnya tersengal-sengal. Bayangan itu kembali melintas di belakang Bela dan ketika ditengok, tidak ada siapapun. Begitu seterusnya hingga Bela berlari ketakutan.
"Jangan ganggu! Jangan ganggu saya!" teriaknya.
Bela tak sengaja menabrak dua teman perempuannya.
"Kau tak apa, Bela?" sapa salah seorang dari mereka.
Bela hanya menutup telinganya rapat-rapat sembari sesekali menengok ke belakang. Ia sangat ketakutan.
"Bela... Bela..." panggil mereka bergantian.
"Jangan! Jangan dekati saya! Pergi!" teriak Bela histeris.
Yang dilihat Bela, mereka adalah mahkluk yang mengerikan. Segera Bela berlari mengambil batu dan mengusirnya. Kedua teman Bela menjadi bingung, mereka berusaha menyadarkan Bela tetapi Bela malah menyerang mereka, Bela menghantam mereka dengan batu hingga berlumuran darah.
"Keterlaluan kau, Bela!" bentak salah seorang dari mereka ketika temannya jatuh pingsan.
Bela menjatuhkan batu itu, dia melihat darah. Tangannya menjadi gemetar, ia sadar sekarang bahwa sedari tadi ia menyerang temannya sendiri. Beberapa teman yang lain datang dan menuju ke arah Bela, mereka semua berteriak. Bela hanya bisa melihat gerak mukut mereka tanpa bisa mendengar suara mereka. Ia tak mendengar apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Ujung Maut
HorrorSequel dari Jerit Pengantin Baru Jika Anda seorang penakut, maka jangan pernah baca cerita ini sendirian!
