Kabar kematian Bela pun sampai ke Sekolah, para siswa dan guru datang menghadiri pemakaman Bela. Banyak dari mereka yang tak percaya dengan ini, terlebih Prama, pemuda yang dulu pernah dekat dengan Bela. Mereka saling berbisik satu sama lain karena kematian Bela dianggap tak wajar dan tragis. Bagaimana tidak? Baru saja ia merayakan ulang tahun yang ke- 17, ia mengalami kejadian aneh seperti kesurupan, melukai banyak orang lalu menghilang tanpa kabar dan sekarang kembali dengan jasad saja. Ini bukan lelucon yang menyenangkan! Sungguh tragis! Ia bahkan tak punya kesempatan untuk menikmati masa remajanya.
Para guru sangat menyayangkan nyawa Bela, mereka tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa salah satu muridnya itu. Tak ada yang tahu mengapa hal ini terjadi pada Bela, tidak seorang pun bahkan kedua orang tuanya sekalipun. Gadis cantik yang malang! Para guru berharap tak akan ada siswa lain yang akan mengalami hal serupa.
Prama menangis di depan nisan Bela. Lelaki macam apa yang membiarkan gadis yang disukainya mati begitu saja?! Ia bahkan tak ada di sisi Bela di saat terakhirnya. Sungguh tak berguna! Umpatnya berulang-ulang di dalam hati. Kini ia hanya bisa menangisi kepergian Bela, begitu pula Fitri.
"Mas, mari ikut saya sebentar...." seru Nyi Ratna di tengah kerumunan orang yang bertakziah.
Nyi Ratna membawa Bagas sedikit menjauh dari kerumunan, tepatnya di bawah pohon beringin yang besar.
"Ada apa gerangan sehingga Nyi membawa saya ke sini?" selidik Bagas penasaran.
"Ini belum berakhir, Mas.... sebelum kita menyingkirkan Mbah Jampong, bisa saja ada korban selanjutnya," jelas Nyi Ratna sembari menerawang menatap makam-makam yang ada di depannya.
Bagas menggeleng-gelengkan kepala. Ia sama sekali tak mengerti dengan semua ini. Siapa itu Mbah Jampong dan mengapa ia mengambil putrinya? Apa tujuannya?
"Lalu siapa yang akan jadi korban selanjutnya? Apa itu Fitri? Atau bahkan saya?" sergah Bagas sedikit geram.
"Itu bisa saja terjadi.... perlu Mas ketahui bahwa para penduduk Rawa Pening menyimpan dendam kepadamu jadi mereka akan melampiaskannya kepada orang-orang yang kau sayangi, yaitu keluargamu.... dan otaknya adalah dukun terkutuk itu," terang Nyi Ratna.
"Saya mengerti.... ini semua salahku, tak seharusnya aku membawa Gotam ke desa itu," lirih Bagas penuh penyesalan.
"Mereka tak terima dengan kematian mereka, jika kau mencari siapa yang bersalah.... maka aku lah orang yang harus kau salahkan. Aku lah orang yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian yang sudah menimpa keluargamu. Tapi sekarang bukan saatnya untuk menyesali semuanya, penyesalan tak kan mengembalikan Bela kepadamu. Yang sudah terjadi, biarlah.... Mari bantu saya untuk menyelesaikan semua ini," tegas Nyi Ratna penuh keyakinan.
"Tentu. Apa yang bisa saya bantu Nyi?"
"Malam purnama besok, saya akan melakukan ritual agar saya bisa bertemu dengan mereka.... saya akan ajak mereka berdamai. Jika mereka mau berdamai maka baguslah.... tapi jika tidak, saya ingin Mas melakukan sesuatu untuk saya," seru Nyi Ratna sembari tersenyum.
"Saya pasti akan melakukan yang saya bisa, Nyi.... katakanlah apa yang harus saya lakukan," seru Bagas antusias.
"Saya akan membawa tasbih dan menggunakannya, pertama saya berhenti berarti saya sudah menjumpai mereka, jika tak terjadi apapun maka saya akan segera kembali tanpa berhenti menggunakan tasbih.... tapi kedua kali saya berhenti berarti saya gagal mengajak mereka berdamai.... dan ketiga kali saya berhenti segeralah cabut batang-batang bambu kuning yang tertancap di setiap sudut di sana. Lakukanlah sebelum purnama menghilang, sementara saya akan mengalihkan mereka. Apapun yang akan terjadi pada saya, fokuslah untuk mencabutnya," terang Nyi Ratna.
"Bagaimana jika purnama lebih dulu menghilang sebelum saya bisa mencabut semua batang bambu itu, Nyi?" sergah Bagas merasa khawatir.
Nyi Ratna tersenyum. Ia diam sejenak lalu berbisik ke telinga Bagas. Agaknya Bagas sedikit tercengang dengan apa yang barusan dibisikan oleh Nyi Ratna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Ujung Maut
HorrorSequel dari Jerit Pengantin Baru Jika Anda seorang penakut, maka jangan pernah baca cerita ini sendirian!
