Tersesat

4.9K 290 61
                                        

"Ya, itulah tempat yang hanya saya ketahui," gumam Bagas meyakinkan dirinya sendiri.

Tanpa pikir panjang, malam itu Bagas langsung mengajak Fitri untuk datang ke sana.

"Bukankah ini desa Rawa Pening? Untuk apa Mas membawa saya ke sini?"

"Kita akan membawa Bela pulang"

"Tapi Mas, darimana Mas tahu bahwa Bela ada di sini?!"

"Bela pasti ada di sana!"

Fitri jadi kebingungan karena Bagas tak pernah mengatakan apapun sebelumnya. Ia segera mengikuti kemana suaminya pergi.

"Bukankah ini jalan menuju makam Mbah Jampong?" gumam Fitri bergidik ngeri.

Suara lolongan anjing menambah suasana seram. Sesekali angin bertiup kencang menerpa tubuh Fitri. Apa Mas Bagas tahu tentang Mbah Jampong? Apa dia mau menanyakan keberadaan Bela pada Mbah Jampong? Atau malah Mbah Jampong yang sudah menculik Bela?! Tanyanya dalam hati. Ia melihat punggung suaminya semakin tak terlihat, ia pun segera mengejarnya.

"Mas, tunggu! Mas Bagas!"

Fitri melihat suaminya ada dua, yang satu ke arah makam Mbah Jampong dan yang satunya ke arah yang berlawanan. Perlahan Fitri berjalan mundur, bulu kuduknya berdiri.

"Yang mana Mas Bagas? Mengapa perasaannku menjadi tidak enak?"

Fitri tak berani melanjutkan perjalanannya, ia memutuskan untuk kembali ke mobil. Sesekali terdengar suara burung hantu, membuat Fitri semakin takut. Hawa dingin menusuk ke tulang-tulangnya. Ia segera masuk ke dalam mobil.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca mobilnya. Fitri kaget, ia melihat sekitar rupanya sudah pagi. Tapi dimana suaminya? Dia belum juga kembali. Suara ketukan itu terdengar lagi, Fitri segera membuka kaca mobil. Orang itu menggelengkan kepala begitu melihat Fitri.

"Neng lagi! Ngapain di sini, Neng?!" serunya.

Rupanya orang itu adalah orang yang menyapanya waktu itu. Ketika ia pertama kali melihat makam Mbah Jampong.

"Ah, saya sedang menunggu suami saya"

"Jangan berurusan dengan daerah ini, Neng. Bahaya," tuturnya sedikit berbisik.

"Bahaya? Bahaya bagaimana maksud Bapak?"

"Ssssttttt...." desisnya.

"Sebaiknya kita bicara di rumah saya saja," serunya lalu pergi.

Fitri sedikit takut untuk percaya pada orang itu tapi sepertinya dia orang yang baik. Akhirnya Fitri bersedia untuk ke rumah bapak itu. Pak Basir namanya. Wanita paruh baya menyuguhkan teh sembari tersenyum, ia adalah istrinya Pak Basir, Bu Lasih.

"Saya baru tahu ada desa di sini...." seru Fitri.

"Kami yang tinggal di sini adalah orang-orang yang selamat, dulu desa kami, Rawa Pening, kedatangan seorang laki-laki bersama bayinya. Sejak kedatangan mereka, kampung kami jadi tidak aman. Banyak yang mati kehabisan darah! Mbah Jampong mencoba menghentikan kejadian mengerikan itu tapi beliau malah jadi korbannya. Kami yang masih hidup langsung pergi dari desa dan menancapkan bambu-bambu tua pada setiap sudut desa sesuai wasiat Mbah Jampong dan kami dilarang masuk melewati bambu itu" tutur Pak Basir mengakhiri ceritanya.

"Jadi siapa pelaku sebenarnya?"

"Entahlah...." seru Pak Basir yang masih menerawang jauh.

Entah mengapa Fitri jadi tak ingat dengan suaminya. Ia lupa begitu saja.

"Hari sudah malam, sebaiknya Neng menginap di rumah kami," seru Pak Basir.

Fitri mengangguk saja, ia mengikuti Bu Lasih yang menunjukkan kamar untuknya.

"Istirahatlah, saya akan memasak," seru wanita itu ramah.

"Baiklah...." seru Fitri lalu masuk ke dalam kamar. Ia melihat dinding-dinding kamar yang terbuat dari bambu. Lalu ia merasa tubuhnya bau dan lengket. Ia pun pergi untuk mandi. Tak sengaja ia melewati dapur, ia pun mengintip dari celah bambu. Ia melihat Bu Lasih sedang memeras air kelapa, ia kaget ketika air kelapa itu berubah menjadi darah. Dikucek-kuceknya kedua matanya, mungkin ia salah lihat. Benar, ia memang salah lihat. Ia terlalu parno dengan cerita Pak Basir tadi siang.

Selesai mandi, Fitri melihat tengkorak sedang duduk di luar rumah. Anehnya, baju yang dikenakan sama dengan baju yang tadi diang dikenakan oleh Pak Basir. Bulu kuduk Fitri berdiri, ia pun langsung berlari masuk kamar.

Perasaan Fitri menjadi tak enak, ia menjadi ketakutan berada di rumah itu. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara ketukan.

"Neng, ayo makan dulu...." teriak Bu Lasih dari luar pintu kamar.

Dengan penuh keberanian, Fitri membuka pintu kamar. Ia melihat lagi senyum ramah Bu Lasih.

"Mari, Neng," serunya sembari menunjukkan makanan di meja makan.

Fitri melihat Pak Basir duduk di sana dengan baju yang sama. Bulu kuduknya merinding.

"Tidak, saya tidak lapar," seru Fitri bergegas menutup pintu.

Ia mondar mandir di kamar, ia pun teringat dengan Bagas.

"Mas Bagas?! Dimana Mas Bagas?! Mengapa saya malah ada di sini?! Terakhir kali saya sedang bersama Mas Bagas mencari Bela...."

Ia pun memberesi pakaiannya lalu beranjak pergi.

"Mau kemana Neng?" tanya Pak Basir dan Bu Lasih.

Wajah mereka sangat mengerikan!!! 

Di Ujung MautCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang