14; Near

6.4K 798 11
                                        


Hari mulai senja. Udara semakin dingin dan langit semakin gelap.

Tapi ia tetap terus berlatih diruangan itu. Peluh keringat membanjiri tubuhnya. Kedua tangannya terus menggenggam erat dual sword yang ia gunakan.

Mata elangnya memicing tajam ke beberapa orang dihadapannya. Sekitar ada 5 orang. Mereka juga memegang senjata.

Taehyung maju tanpa rasa ragu. Kemudian berbalik dan menyerang. Pedang selalu ia ayunkan.

Baru saja 2 menit, beberapa Orang dihadapan Taehyung itu melongo kaget.

Senjata yang Orang itu pakai adalah pedang biasa. Sedangkan Taehyung dengan Dual Swordnya membuat musuhnya tak bersenjata.

Pedang mereka berserakan dimana-mana. Ulah Taehyung. Ia tersenyum miring.

"Maaf, Maaf. Aku terlalu bersemangat." Katanya pelan.

Orang-orang yang ada dihadapan Taehyung bukanlah orang jahat. Mereka hanyalah teman-temannya saja.

"Ayo, Latihan lagi." Ajak Taehyung.

"Ah, Tidak mau! Taehyung selalu menang dalam hal seperti ini." Respon salah satu temannya.

Taehyung tertawa kecil. "Astaga, Baiklah. Aku akan mengajari kalian lagi. Ayo,"

.

.

.

"Kurasa kita butuh Istirahat, Jarak dari Kota York Madya sampai Sincere cukup jauh." Kata Hoseok sembari melihat Peta yang ia pegang.

Jimin menghela nafas. "Kenapa kita tak menggunakan teleport saja? Maksudku- Hoseok Hyung juga seorang Penyihir. Ia juga bisa buat portal."

Hoseok menggeleng. "Tidak, Aku tak bisa. Aku sudah pernah mencobanya, Itu saja hampir gagal. Setelah itu akhirnya Bibi Jung yang mengurus Pembuatan Portal itu."

Semua mengangguk paham. Ya, Intinya memang membuat Portal adalah sebuah kesulitan. Apalagi bahan-bahannya juga sudah dibatasi Chorus.

"Baiklah, Ayo. Istirahat disana," Tunjuk Hoseok. Disana ada tempat berteduh yang cukup baik.

Sesampainya didalam, Seokjin dan Jimin membuat makanan dengan seadanya bahan dan alat.

"Setelah ini, Kita tinggal menemukan Taehyung kan, Di Kota Sincere?" Tanya Hoseok.

"Ya, Tapi.. Kurasa butuh sehari lagi untuk sampai di Kota Sincere." Respon Namjoon.

"Jaraknya lumayan jauh." Komentar Jimin.

"Tidak, Kurasa kita juga perlu ke rumah Yoongi. Hanya untuk memastikan keadaan. Dugaanku benar atau tidak." Kata Seokjin.

Namjoon mengambil Peta yang dipegang Hoseok. "Hm, ya. Disini, Pamanku melingkari Kota Chole. Yoongi-Hyung tinggal disana sebelumnya. Pamanku memberitauku kalau Yoongi-hyung memang ada disana."

"Ya baiklah." Respon Hoseok.

Seokjin hanya bisa menggelengkan kepala ketika Adik-adiknya mulai mengeluh. Ia kemudian memberikan makanan pada mereka semua.

"Jangan mengeluh, Kalau kita hadapi bersama- Kita pasti akan kuat." Kata Seokjin sembari tersenyum.

Itu memberikan sedikit kekuatan untuk mereka para adiknya, Seokjin yakin itu.

Sedikit lamat ia melihat keluar, Langit sudah gelap, Bulan dan Bintang berdampingan dan bersinar terang.

"Aku jadi semakin cemas tentang Jungkook dan Yoongi." Gumam Seokjin.

"Bagaimana Hyung bisa tau saat itu Yoongi-hyung bekerja sama dengan Chorus?" Tanya Hoseok.

"Kemarin, Saat aku ingin pergi menemui Jimin, Ada 11 orang menjebakku dan Namjoon di Hutan. Aku melihat salah satu dari mereka begitu mencolok. aku sedikit melihat wajahnya, Ia

Mereka kesana, Mereka istirahat, Makan, Minum dan Tidur.

.

.

Yoongi tak bisa merasakan apa-apa lagi. Tubuhnya sakit semua. Bahkan jika dilihat, sekujur tubuhnya penuh luka lebam maupun goresan.

Chorus menghukumnya, Karena ia mengkhianatinya.

Yoongi sendiri juga sangat terkejut saat saudara-saudaranya masih hidup. Dan berniat untuk merebut Bangtan kembali.

Yoongi berfikir, pada saat kejadian Istana terbakar- saudaranya tewas seketika. Akhirnya, Yoongi hanya terpuruk dalam kesedihan setelah berpisah dengan keluarganya.

Bibi Min yang mengasuhnya. Mempunya seorang anak lelaki, yang tak lain adalah Chorus sendiri.

Bibi Min terbunuh oleh Chorus saat Yoongi berusia 10 tahun. Entah karena apa, Yoongi saat itu masih kecil dan tak tau apa apa.

Hingga akhirnya Yoongi jatuh ke tangan Chorus. Dirawat dan dijaga Chorus karena Chorus sendiri tau bahwa Yoongi akan berguna nantinya.

Saat kecil, memang saat-saat kita lugu atau polos. Tak tau apa-apa.

Maka Yoongi hanya menurut ketika Chorus menyuruhnya untuk melakukan apapun, termasuk menyuruh para pengawal Kerajaan untuk menjadikan Chorus sebagai Raja Bangtan.

Yoongi menggunakan kalung Berlogo matahari sebagai tanda pengenal bahwa ia adalah Putra Kim yang berhasil selamat.

Banyak orang berkomentar, Seharusnya jika memang Putra Kim masih hidup, maka ialah yang pantas dijadikan Raja.

Mengingat pada masa itu Yoongi masih berumur 10 tahun, dan juga kondisi Bangtan yang buruk, maka Chorus penggantinya. Itu terpaksa. Dan itu sebuah peluang besar bagi Chorus.

Sampailah sekarang, Chorus masih tetap jadi Raja Bangtan. Walau terkadang ada yang menyukainya sebagai raja atau tidak.

"Jangan melamun, Hyung.."

Suara serak Jungkook membuyarkan lamunannya. Ia menatap Jungkook cemas. Lihatlah, keadaan Jungkook juga parah dengan dirinya.

"Bertahan, kook. Saudara kita akan sampai sebentar lagi." Kata Yoongi.

"....Kalau aku boleh Jujur, Aku ingin mati saja, Hyung." Respon Jungkook sembari memejamkan mata.

"Kenapa?"

"Ini terlalu menyakitkan. Dan aku terlihat lemah. Aku terlihat tak berguna sama sekali." Katanya.

Yoongi tersenyum tipis. "Kau memiliki Hati hangat, dan kau bisa mengerti aku."

"Aku senang mendengar itu, ugh.. "

"Hei, jangan banyak bicara jika lukamu terlalu nyeri."

Tak ada sahutan, Yoongi melihat sang adik dengan nafas teratur disana. Tenang, adiknya hanya tertidur.

Terkadang, Yoongi juga bingung dengan Alur pikiran Chorus.

Kenapa ia masih berbaik hati dengannya? Jungkook yang satu penjara dengannya adalah perintah dari Chorus.

Kenapa ia melakukan itu?

.

.

.

Seven Prince's ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang