Diam

1.7K 210 10
                                    

Plann termenung menatap macarons yang ia siapkan untuk pacarnya.

"Maaf phii... Aku terlambat. Bangkok macet sekali."

Plann terhenyak lalu tersenyum menyambut kekasihnya yang masih berbalut seragam sekolah.

"Macarons!!!! Apa ini untukku phii??"

Plann mengangguk antusias. Matanya bersinar saat melihat kekasihnya tersenyum lebar.

Beam mengeluarkan smartphone miliknya untuk kemudian mengambil gambar macarons warna warni pemberian kekasihnya.

"Andai kau gak terikat dengan drama sialan itu... Sudah aku tag namamu di atas macarons ini phii..."

"Beam... Jangan menyebut drama itu dengan kata-kata buruk. Aku sudah kerja keras untuk drama itu."

Beam memutar bola matanya sambil memasukan macarons ke mulutnya.

"Oh iya... Aku akhir pekan ini. Akan ke pattaya beach."

Plann melirik kekasihnya.

"Pattaya beach?? Tapi akhir pekan ini aku ada latihan untuk project baruku phii..."

Plann meremas ujung kaosnya.

"Kalo begitu aku akan pergi sendiri."

"Eh??? Sendiri?? Mana asik kalo liburan sendirian."

Beam masih mengunyah macarons pemberian kekasihnya. Sementara Plann makin kuat meremas ujung kaosnya seolah menahan sesuatu.

"Aku bosan di Bangkok. Aku ingin menghirup udara segar. Suasana baru."

Plann tersenyum. Nampak sekali senyumnya dipaksakan. Tapi Beam tak memperhatikannya. Ia terlalu sibuk memasukan cemilan manis warna-warni itu ke mulutnya.

"Jangan pergi sendirian. Aku takut kau kenapa-kenapa phii..."

Deg...

Plann membulatkan matanya. Tiba-tiba merasa nyeri di dadanya.

"Ajak phii mean bersamamu. Eh... Kira-kira dia sibuk gak ya... Sebentar aku akan menelponnya."

Beam meraih smartphonenya yang tergeletak diatas meja. Tapi Plann dengan sigap menahannya.

"Dia sibuk..."

Beam mengerutkan kening. Matanya menatap penuh tanya pada kekasihnya.

"Kemarin dia bilang jadwalnya sangat padat bahkan sampai 3 bulan ke depan."

"Benarkah?? Wow... Luar biasa sekali. Sepertinya drama ini benar-benar membawa keberuntungan untuknya."

Plann menarik tangannya kembali untuk kemudian meraih cangkir dengan teh hangat yang tersaji di atas meja. Dadanya berdegup kencang tak karuan. Sementara Beam kembali fokus dengan kue hadiah dari pacarnya.

################################

Mean menunggu di dalam mobil di luar kantor Phii New. Sesekali ia melirik jam tangan fossil yang melingkar di pergelangan tangannya.

8.15 pagi.

Dia tak pernah bangun sepagi itu saat akhir pekan. Tapi demi seseorang ini dia rela mengubah kebiasaannya.

Mean melebarkan matanya. Senyum mengembang di bibir tipisnya. Seseorang yang ia tunggu berjalan ke arahnya. Dengan hoodie putih ia berusaha menyembunyikan wajahnya.

Mean ingin sekali keluar dan membukakan pintu untuk orang yang sudah membuatnya rela bangun pagi dan menunggu. Tapi keinginan itu ia urungkan. Pintu mobil terbuka dan pria berhoodie putih langsung duduk mengambil tempat di samping kursi pengemudi.

PierceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang