Plann membuka matanya perlahan. Mendapati dirinya kini telah terbaring di ruangan yang asing tapi tak begitu asing. Plann memutar kepalanya ke kanan dan mendapati Beam yang tengah tertidur di atas kursinya. Kemudian Plann memutar kepala ke kiri dan ia mendapati tak ada lagi orang selain Beam yang menungguinya. Entah mengapa perasaan sedih tiba-tiba muncul.
Apa dia gak khawatir??
Atau mungkin dia sudah membenciku saat ini??
Bukankah itu bagus??
Dan dada Plann berdenyut nyeri. Plann bangun dari posisi tidurnya. Suara decitan ranjang. Sukses membangunkan Beam. Yang tampak senang saat melihat Plann telah duduk di ranjangnya.
"Phii... Kenapa?? Apa?? Apa yang kau rasakan?? Pusing?? Mual?? Sakit di perutmu bagaimana?? Ah... Apa kau haus??"
Beam dengan cekatan menyodorkan gelas yang berisi air bening diatas nakas. Plann meneguknya. Dan terasa begitu segar saat air bening itu melewati kerongkongannya.
"Apa kau lapar phii?? Lihat aku sudah mem..."
"Ssstt..."
Plann tersenyum sambil menahan tangan Beam yang sedang menggapai kantong plastik di atas nakas.
"Aku gak apa-apa. Gak mau apa-apa. Aku cuma butuh istirahat aja. Aku..."
"Phii... Dokter bilang kau anemia dan lambungmu juga iritasi. Apa kau gak makan beberapa hari ini?? Dokter juga bilang kalau kau ada indikasi malnutrisi. Phii... Aku..."
Plann tersenyum sambil mengusap wajah kekasihnya.
"Dokter itu melebih-lebihkan. Kau liat kan kalau..."
"Tolong phii... Jangan bohongi aku lagi."
Plann terdiam. Beam menatapnya dengan tatapan yang Plann tak bisa gambarkan dengan kata-kata.
"Kata Mae kau jarang makan di rumah. Dan aku yakin kau juga gak makan waktu diluar rumah. Sebegitu dalamnya kah phii mencintai si brengsek itu??"
Plann mengepalkan tangannya. Ada sedikit rasa tak suka saat Beam melemparkan kata-kata tak pantas untuk Mean.
"Phii... Tolong... Hargai aku phii... Aku akan berusaha membuatmu bahagia. Aku benar-benar mencintaimu phii..."
Beam mengecup punggung tangan Plann. Hangat tercipta sesaat. Membuat hati Plann semakin berkecamuk tak karuan.
Aku harus melupakannya.
Aku harus menghilangkannya.
################################
Mean datang pagi-pagi sekali ke kantor phii New. Sudah 4 hari dia seperti itu. Datang ke kantor phii New berkeliling lalu pergi meninggalkan kantor itu untuk bekerja di tempat lain.
Mean berlari menaiki anak tangga menuju kantor Phii New. Tapi langkahnya berubah menjadi pelan saat telinganya menangkap suara yang begitu ia rindukan.
"Plann kau sudah..."
Beam mendekat ke arah Plann dengan membawa kardus berisi dokumen. Wajahnya mengguratkan rasa tak suka saat melihat Mean.
"Ah! Mean..."
Plann menyapa dengan riang. Dan Mean tau itu hanya sebuah kepalsuan. Beam hanya melirik ke arah Mean sesaat untuk kemudian berbisik ke telinga Plann dan berlalu. Plann masih memasang senyum palsu dan mendekati Mean.
"Aku gak nyangka bakal ketemu kamu disini. Aku..."
Plann menghentikan bicaranya saat Mean mencengkram lengan Plann kuat.
