*****
Sejak peristiwa tangan Hinata yang melepuh terkena tumpahan kopi itu, Sasuke semakin sering datang ke perusahaan Namikaze dengan alasan untuk menjenguk Hinata yang sudah mulai kembali bekerja. Setelah tangan Hinata sudah sembuh total, Sasuke ganti mengajak Hinata makan siang sebagai alasannya. Naruto sangat marah dan juga cemburu melihat Sasuke yang makin dekat dengan Hinata. Ingin rasanya dia kembali melarang Hinata bekerja di kantor dan mengurung wanita itu di rumah agar keduanya tidak bisa bertemu.
Sebenarnya Naruto merasa hatinya sangat sakit setiap kali melihat Hinata dan Sasuke berjalan beriringan keluar kantor untuk makan siang bersama. Tapi Naruto memilih menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaannya untuk menutupi perasaan sakit hatinya. Naruto benar-benar ingin menjauhi Hinata dan meminimalkan frekuensi pertemuannya dengan Hinata agar hatinya tidak goyah setelah memutuskan untuk merelakan Hinata bersama lelaki manapun yang disukainya.
Naruto benar-benar berusaha menjauhi Hinata. Naruto takut tidak bisa menahan rasa cemburu dan sakit hatinya. Seperti hari ini saat Naruto yang dipaksa oleh Shion untuk makan siang bersama di sebuah restoran Italia dan tanpa sengaja matanya melihat Hinata dan Sasuke yang sedang makan bersama di sudut lain restoran itu. Spontan Naruto langsung berdiri karena kaget.
" Kau mau kemana, Boss? " kata Shion sambil mencekal tangan Naruto.
" Kita pindah ke tempat lain saja. Lagi pula aku tidak suka makanan Italia. " kata Naruto.
" Ayolah Boss. Sesekali mencoba hal yang baru kan tidak ada salahnya. Kau jangan hanya mengisi perutmu dengan ramen saja. Bagaimana kalau Boss mencicipi spaghetti hari ini? Aku bahkan akan mentraktirmu, Boss. " rayu Shion.
Naruto menatap tangan Shion yang masih terus mencekal pergelangan tangannya.
" Pleeease.. " pinta Shion. Naruto menghela nafas.
" Baiklah. " ucap Naruto lalu kembali duduk dengan lesu.
Naruto benar-benar merasa tidak nyaman berada di tempat itu atau lebih tepatnya tidak suka melihat kebersamaan Sasuke dan Hinata di tempat itu. Meski jarak meja mereka berjauhan tapi Naruto bisa melihat dengan jelas keakraban keduanya. Mereka terlihat sangat menikmati makanannya sambil mengobrol akrab diselingi dengan tawa dari Hinata. Naruto bahkan baru pertama kali melihat Hinata tertawa seceria itu. Naruto hanya pernah melihat ekspresi ceria dari Hinata itu dulu saat Hinata bersama Menma.
Naruto menghela nafas. Ternyata Sasuke berhasil mendekati Hinata dan akrab dengan wanita itu. Sasuke bahkan bisa membuat Hinata tertawa seperti itu. Mungkin Sasuke adalah lelaki yang tepat untuk Hinata. Naruto berpikir mungkin dirinya harus melapangkan hatinya untuk merelakan Hinata bersama Sasuke. Dan Naruto mulai menyiapkan hatinya mulai saat itu juga.
Hinata sadar Naruto kembali menjauhinya sejak pemuda itu mengetahui Sasuke datang untuk mengantarkan dokter untuk mengobatinya, dan makin menjauh saat Sasuke makin sering datang ke kantor untuk menemuinya. Hinata jadi sangat bersedih. Sebenarnya dia juga tidak ingin terlalu sering bersama Sasuke, tapi lelaki berambut hitam itu selalu berhasil membujuknya untuk pergi makan siang dengannya.
" Aku sudah jauh-jauh datang ke kantormu ini. Masa' kau tega menolak ajakanku, Hinata? " ucap Sasuke suatu kali saat mengajaknya makan siang.
Hinata yang memang tidak tegaan dengan berat hati menerima ajakan Sasuke itu karena jarak kantor Uchiha dan Namikaze memang sangat jauh, bahkan terletak di distrik yang berbeda.
" Bisakah kita tidak bertemu lagi, Tuan Uchiha? Orang – orang di kantorku mulai sering membicarakan tentang hubungan kita. " ucap Hinata hati-hati, takut menyinggung perasaan Sasuke.
KAMU SEDANG MEMBACA
REPLACEMENT
FanfictionNaruto, menmahina, naruhina, dewasa, hurt, mrate, ekplicitmaturecontent, fanfiction,ooc
