part 10

6K 278 2
                                        

Malam ini mereka berdua, adrian dan Elin makan bersama hanya berdua seperti hari sebelumnya. Dilan dan Niko telah kembali ke kota jakarta kemarin untuk memantau proyek secara langsung. Seminggu telah berlalu tetapi belum ada tanda-tanda aksi belina dengan ancamannya. Elin menghiraukan begitu saja ancaman itu. Walaupun adrian sedikit posesif semenjak hari itu.

Bahkan dia memberikan jam telepon karna takut terjadi sesuatu pada Elin. Elin hanya menuruti semua nya karena ingin membuat adrian tenang saja.

"Jam nya sering kamu pakai kan?"tanya adrian membuka suasana,menikmati kopi dan kue buatan Elin tadi siang.
"Iya. Kamu gak perlu khawatir itu. Sampai sekarang gak terjadi apapun kan?"jawab Elin membereskan meja makan mereka.
"Jangan terlalu percaya keadaan. Aku hapal belina gimana. Hanya menunggu waktu saja. Elin?"
"Ya?"
"Kamu jadi pulang nanti 2 minggu lagi?"
"Jadi. Aku udah bilang ke teman ku di sana nanti aku pulang. Orang tua belum ku kasi tau. Biar jadi kejutan" senyum Elin.

Adrian sedikit gugup. Karena perasaan nya yang bercampur aduk. Adrian terlihat gelisah. Dia hanya takut berpisah dengan Elin. Dia ingin menjalin hubungan lebih padanya.

"Kamu kenapa?"tanya Elin khawatir.
"Elin?"adrian memegang tangan Elin disamping nya. Menatap dalam mata Elin.

Jantung keduanya beradu. Melawan kegugupan masing-masing.

"Ada apa?"
"Elin.apa kita bisa menjalin hubungan lebih dari sekarang?"adrian terlalu gugup untuk mengungkapkan hatinya.

Bodoh!

"Memang nya mau hubungan apa yang di lebihkan?"goda Elin tersenyum jail.

Dia tahu maksud adrian. Dia senang karena hati nya terbalas. Hanya dia ingin pria itu mengatakan nya dengan jelas. Dia ingin tau keberanian adrian mengambil langkah dalam kemajuan hubungan mereka.

"Hubungan. Hubungan kita. Hm. Hufh"adrian menghembuskan nafas. Hidup. Hembus. Hirup. Hembus.

Kayak abg labil aja gue! Gue gak pernah nembak cewek sih! Harusnya gue belajar dari dilan kemarin

Adrian mengutuk dirinya sendiri. Ini buka pertama kalinya dia berhubungan dengan wanita. Tetapi wanita nya kali ini. Dia ingin menjalin hubungan yang serius. Bukan sekadar rasa suka,nyaman, atau pun permainan. Tetapi penuh niat keseriusan dan cinta yang tulus. cinta yang baru dia rasakan.

"Adrian?"panggil Elin yang harap cemas. Dia ingin kepastian dari adrian untuk memohon pada orang tuanya untuk merestuinya.
"Elin aku mau kamu jadi istri ku?"

aduh! Makin ngaco gue!

"Hah!"Elin terlalu kaget untuk ucapan adrian.

Dia kira adrian hanya akan menyatakan perasaannya. Tetapi ini. Dia bingung untuk bahagia atau ini terlalu cepat untuk nya. Wajah adrian terlihat meronta dengan gerak gelisah. Elin masih diam memandangnya.

Adrian semakin gugup. Dia takut Elin akan menolak lamaran dadakannya yang tidak ada dalam adegan yang di rencana kan nya. Ini sungguh membuatnya semakin gugup.

Hembus. Hirup. Adrian mencoba menenangkan dirinya. Kenapa ini terasa begitu sulit?

"Elin. Aku gak tau gimana mau nyatakan hal ini. Yang pasti aku ingin memiliki mu. Pasti kamu ngerti dengan hal ini. Walaupun aku sedikit bingung bagaimana bilangnya. Aku tau ini terlalu cepat. Tapi kita bisa memulai perlahan.Jadi apa kamu  bersedia?"tanya adrian hati-hati.

Elin tersenyum mendengar kata- kata adrian. Dia mengerti maksud dari ucapan adrian. Mungkin adrian terlalu gugup untuk mengatakannya. Elin menggenggam tangan adrian. Adrian hanya cemas menanti jawaban.

"Ya"

Satu kata indah yang terucap dari bibir Elin. Adrian terlalu bahagia mendengar nya. Dia langsung memeluk erat Elin. Elin membalasnya dengan senyum bahagia.

"Aku mencintaimu"gumam adrian.
"Aku juga"

---

Setelah pernyataan cinta adrian di meja makan tadi. Elin terlalu bahagia. Dia mengabarkan prili yang langsung kehebohan sendiri. Prili mengetahui kisahnya di sini. Dan prili turut bahagia dengan sahabatnya ini.

"What!Loe dilamar!aaaa! Gue senang. Akhirnya cinta loe gak tepuk angin!" Ya prili memang mengetahui bahwa Elin menyukai bahkan mencintai majikannya itu.
"Terus gimana orang tua mu?"prili mulai tenang.
"Dia bilang nanti akan pulang bareng aku. Dia bakal kenalin aku sama orang tuanya. Setelah itu dia akan langsung melamar aku secara resmi"
"Tapi gimana dengan cewek itu?" Prili ikut khawatir.
"Gak ada yang perlu di takutkan. Aku percaya semua akan baik baik aja" elin mencoba menenangkan.
"Ya udah. Yang penting hati hati aja"

Dup! Gelap. Semua listrik padam. Terlihat hanya rumah ini yang mati. Rumah para tetangganya menyala terang. Elin berjalan mendekati jendela untuk melihat sekitarnya.

"Loh!ini kenapa!"Elin kaget.
"Ada apa?"prili khawatir mendengar nada bicara Elin.
"Kamu gak apa-apa?"sambung prili.
"Gak kek nya lampu padam"
"Oh ya udah. Aku tutup ya?"
"Ya.dah"elin menutup sambungan telepon.

Elin langsung menuju pintu ke dapur mengambil lampu senter untuk memeriksa listrik di samping rumahnya nanti. Elin berjalan santai menuju dapur. Dengan bantuan dari sinar layar hp nya.

"Adrian pasti udah tidur"gumamnya.

Elin membuka laci-laci meja dapur. Tetapi tidak menemukan apa yang di carinya. Elin melihat sekeliling hanya dengan sinar minim dari hp nya. Dia kembali mencari alat itu di sekitar dapurnya.

"Duh!dimana sih!"

---

"Bisa di perbaiki pak?"tanya adrian dengan tukang servis di sampingnya memperhatikan kwh listriknya yang ternyata bermasalah.
"Bisa"

Adrian langsung memanggil tukang servis setelah pemadaman lampu di rumahnya secara pribadi. Dia meninggalkan berkas kerjanya langsung menuju dapur mengambil senter.

Dia memberikan pantulan cahaya pada tukang servis. Walaupun itu tidak berguna karena tukang nya telah memakai lampu senter kepala di sana.

"Saya masuk dulu ya pak? Nanti kalau udah selesai langsung masuk ke rumah aja"
"Baik pak" tukang servis menganggukan kepalanya.

Adrian langsung masuk ke rumah. Dia mendengar bunyi bising dari dapur. Dia meletakkan lampu senter di meja tamu. Memantulkan cahaya ke arah dapur. Dia dapat melihat Elin sedang berjalan mondar mandir sambil mengecek laci-laci meja dapur. Terlihat elin belum menyadari cahaya karena sibuk mencari sesuatu.

"Dimana sih?" Terdengar gumaman Elin.

Adrian hanya berjalan tenang menuju keberadaan Elin. Dia yang dibelakang Elin tiba tiba tumbang ke belakang karena dorongan dadakan Elin. Untung hanya punggung nya yang menjadi korban. Dia kaget!Elin kaget!. Tetapi tidak untuk lama bagi adrian. Dia semakin mengecup bibir yang ada di depan bibirnya.

"Manis" suara khas yang di kenal elin
"Adrian"gumam Elin yang masih shok!
"Iya sayang?"

Dup!lampu terang benderang.

Elin masih berada di atas adrian diam tak bergerak. Adrian hanya menampilkan senyuman jailnya.

Elin yang tersadar,langsung mencoba untuk bangkit. Tetapi badannya tertahan oleh tangan adrian di punggungnya. Semakin membuatnya salah tingkah.

"Adrian?Aku mau berdiri?"pinta Elin yang gugup dengan muka blushing nya.
"Muka merah malu mu sangat indah" puji adrian. Mengelus pelan pipi meronta itu.
"Hah!"

"Ehem!pak udah selesai?"panggil tukang servis yang melihat malu adegan mesra di depannya.

My Lovely Maid (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang