"Hallo ma?Apa kabar?" Adrian mengangkat telepon dari mama di meja makan.
Saat ini ia sedang menikmati sarapannya bersama Elin. Dua hari setelah kejadian penculikan itu semua kembali seperti biasa. Elin yang berada di sampingan tetap menikmati sarapannya.
"Baik. Kamu bagaimana?"tanya mama
"Sehat. Ada apa mama telepon?"
"Huh! Kamu lupa ya? Tiga hari lagi kan ulang tahun pernikahan mama? Kamu pulang kan?"suara mama terdengar kesal.
"He he. Iya adrian pulang. Mungkin pas acara. Soalnya masih ada beberapa hal yang harus adrian selesaikan" kekeh adrian.
Beberapa hari ini dia sibuk mengurusi tuntutannya pada belina dan pelaku penculikan. Elin juga di panggil untuk menjadi saksi di sana. Berita tentang penangkapan itu telah heboh di televisi. Para korban nya di sembunyikan. Hanya para pelaku dan polisi yang di wawancara. Hal ini sangat di syukuri oleh adrian.
"Iya,gak apa,yang penting kamu hadir"
"Mama mau hadiah apa?"adrian mulai serius.
"Menantu! Kapan kamu bawakan mama menantu!"omel mama.
Adrian memandang Elin dalam. Tangannya menggenggam tangan Elin yang sedang duduk diam menikmati teh paginya. Elin mengangkat sebelah alis nya seolah bertanya 'ada ap?'
"Aku udah menemukannya ma. Aku bahkan telah melamarnya. Wanita yang ku cintai. Nanti akan ku perkenalkan dengan mama papa di sana"ucap adrian tulus. Elin yang memandangnya hanya tersenyum tulus bahagia.
"Akhirnya! Iya langsung ke sini! Kalau perlu datang langsung mama nikahkan!"pekik mama gembira
"Ya ampun ma! Aku belum ngomong sama orang tuanya. Masa pulang langsung nikah. Bisa di giles aku bawa anak gadis mereka tapi udah gak gadis" adrian tertawa. Elin yang mendengar nya hanya tertawa pelan.
"Memang orang tuanya tinggalnya di mana? Kok belum ketemu?"tanya mama heran.
"Di jakarta. Dia asal sana. Aku udah bicara nanti setelah pulang langsung ke rumahnya. Tetapi ada acara di rumah seperti nya akan ku perkenalkan dengan mama papa dulu?"jelas adrian.
"Oh! Dekat dong! Mama mau ngomong dong sama dia?Dia sedang sama kamu kan?"pinta mama
Adrian menyerahkan hp nya kepada Elin.
"Mama mau ngomong sama kamu?"
---
"Ngomong apa sama mama?"tanya adrian melihat Elin sedang membereskan meja makan.
"Cuma bertanya kabar. Katanya aku harus datang ke acaranya tiga hari lagi"jelas Elin menuju tempat pencuci piring. Memulai aktivitasnya.
"Iya nanti aku perkenalkan sama mama papa di sana.Aku senang mama suka sama kamu"ucap adrian memeluk Elin dari belakang.
"Iya. Aku juga suka. Mama kamu kayaknya asik?"Elin menyelesaikan adegan cuci piringnya. Memutar badannya menghadap adrian. Tangan adrian masih melekat di pinggangnya.
"Elin?"panggil adrian.
"Hm."
Adrian mendekati wajahnya ke Elin. Elin hanya diam memandang wajah tampan kekasih nya itu. Tangan nya mengalungkan di leher adrian.
Adrian mencium lembut bibir Elin. Elin mempererat pelukannya membalas ciuman manis adrian.
"Aku sangat mencintai mu"
"Aku juga"
Elin melepaskan pelukan nya. Mendorong tubuh adrian.
"Jadi, aku menjadi pembantu mu tinggal tiga hari lagi dong!"gurau Elin
"No! Kamu tidak akan pernah di pecat semenjak lamaran hari itu!"tegas adrian tertawa.
"Kamu akan selalu menjadi pembantu ku seumur hidup sayang!"sambung adrian
"Iya,baiklah aku harus melaksanakan tugas pembantu ku sekarang!"sahut elin
"Mau aku bantu?"
Adrian membantu elin membersihkan rumah. Membereskan pakaiannya untuk kembali. Mereka menghabiskan waktu bersama sebelum kembali.
---
Adrian dan Elin baru keluar dari bandara. Cukup ramai hari ini walaupun bukan termasuk hari libur. Adrian membawa bag sedang untuk pulang. Karena hanya membawa berkas kantor dan beberapa barang penting. Adrian memandang jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 17.51. Acara di rumah di mulai jam 7 malam. Ia dan Elin menunggu jemputan supir pribadi adrian.
Mereka telah memakai pakaian yang sangat menampilkan diri mereka akan ke sebuah pesta saat ini. Seperti pasangan couple,adrian memakai kemeja marun dan celana hitam,sepatu hitam casual dengan garis putih. Elin memakai dres brokat marun setengah lengan dengan rok di bawah lutut. Heels hitam menutupi telapak kaki cantiknya. Kalung bermata berlian biru kecil di lehernya sebagai pemanis.
"Den?"
Adrian dan Elin memandang seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi menyapa mereka.
"Pak yon"
"Ayo den, ibu sama bapak udah menunggu"
Pak yon mengambil bag adrian. Adrian berdiri dari duduknya. Merentangkan tangannya pada Elin yang di sambut dengan senyum manisnya.
Selalu manis
---
Hampir satu jam mereka tiba di rumah adrian. Rumah yang cukup mewah. Dengan dua lantai. Elin melihat sekilas pemandangan rumah yang sudah menjadi hal biasa di jakarta. Dia merindukan daddy mommy nya.
"Ayo?"adrian membukakan pintu mobil. Elin keluar dengan menggenggam tangan adrian.
"Tegang?"tanya adrian yang melihat wajah Elin sedikit kaku.
"Sedikit"
Adrian dan Elin masuk ke rumah besar itu. Sudah ada beberapa tamu hadir di sini. Terlihat mama papa sedang berbicara dengan sepasang suami istri sebayanya.
Adrian memandang Elin. Tersenyum dan menguatkan genggaman tangan Elin. Mereka berjalan menuju kedua pasangan suami istri yang sedang berbahagia merayakan ulang tahun pernikahan mereka.
"Ma,pa?"Sapa adrian dari belakang orang tuanya.
"Hallo say_?"ucap Mama terputus melihat calon menantunya.
"Hm_"papa hanya bergumam melihat wanita di samping adrian.
Adrian memandang aneh orang tuanya. Ada apa? Wajah wajah geli sekaligus bahagia menghiasi wajah orang tuanya. Elin tersenyum canggung melihat tatapan geli kedua orang terhormat itu.
"Ma ini wanita yang adrian ceritain?"
Mama dan papa hanya memandang penuh arti dan sedikit tertawa. Adrian hanya melengkungkan alisnya. Elin yang gugup semakin gugup melihat reaksi orang tua adrian.
Apakah mereka gak suka ya dengan ku?
Mendadak perasaan elin tidak nyaman. Adrian memeluk bahu elin memandang penuh waspada pada orang tuanya. Elin hanya menundukkan kepala nya. Tubuh nya melemah tanpa semangat.
"Ma?tolong telepon besan kita sekarang?"pinta papa
Adrian memandang papa dengan tidak percaya. Kebahagiaannya berubah menjadi emosi yang cukup besar.
"Apa maksud papa!Aku sudah bilang aku tidak mau menikah dengan pilihan papa!Aku hanya mau dengan wanita pilihan ku!"tegas adrian.
Elin semakin menundukkan kepalanya.Dia mengira orang tua adrian akan menyukainya mengingat pembicaraan dengan mama adrian dengannya tiga hari yang lalu. Ternyata itu hanya keramahan wanita itu.
"Adrian. Kamu tenang! Kita tunggu calon mertua mu dulu! Ayo Elin duduk dulu?"pinta papa tenang dan tegas.
Adrian bingung dengan tingkah laku papa nya. Dia sedikit bingung dan emosi. Sungguh saat ini emosi nya sedang memuncak. Dan orang tuanya bersikap aneh. Terlihat bahagia tetapi juga seperti menghindar.
Adrian dan Elin duduk di kursi di taman belakang. Elin hanya diam memandang kosong ke depan.Adrian memeluk erat bahu Elin sebagai penenang.
"Kamu tau kenapa aku kabur waktu itu?"Elin membuka pembicaraan.
"Karena perjodohan"sahut adrian. Emosinya sedang kacau sekarang.
"Aku gak tau. Ternyata nasib kita sama."Elin tertawa kaku.
"Iya. Mungkin memang jodoh"
Adrian mengusap pelan kepala wanita nya. Beberapa kecupan mendarat di pelipis elin. Mereka gugup. Mereka takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Maid (Complete)
RomanceAssalamualaikum! "perasaan aku tuh cantik,sexy,banyak yang suka cuman memang aku nya aja pemilih,hehehe. tapi gak di jodoh-jodohin juga.kayak gak laku" "kalau ortu masih maksa mending pergi aja deh dari rumah,hihihi dada mam,dad?" "loh,kok aku ada d...
