Pagi-pagi sekali pada 12 tahun sebelumnya, Aruna dengan semangat meninggalkan rumahnya untuk menyambut hari pertamanya menduduki bangku kelas 11. Aruna diantar ayahnya kala itu, ayahnya yang pekerja keras, ayahnya yang sangat rupawan bagi Aruna, yang merupakan lelaki pertama dan mungkin satu-satunya menganggap Aruna sangat berharga.
"Ambil bangku paling depan." Pesan ayahnya saat Aruna salim padanya di depan gerbang sekolah.
"Iya." Jawab Aruna dengan sumringah karena dia sedang berbohong pada ayahnya. Mana mungkin Aruna mau duduk di bangku paling depan? Bagaimana jika ia mengantuk, sungguh akan jadi mala petaka untuk setahun kedepan jika Aruna harus terus-menerus mencatat dan mendengarkan apa yang diucapkan guru-guru yang bagi Aruna membosankan.
"Belajar yang benar, kamu sudah gagal masuk IPA." Pesan ayahnya lagi.
"Aruna tidak gagal, Yah! Aruna yang pilih sendiri masuk IPS." Kali ini aruna memasang wajah merajuk, ayah dan anak ini tidak memiliki pemikiran yang sama mengenai IPA dan IPS. Menurut ayahnya, anak-anak IPS hanyalah anak-anak yang sukanya main saja dan tak pernah belajar. Namun bagi Aruna yang ingin menjadi seorangi akuntan publik, memilih jurusan IPA sangatlah tidak sesuai dengan cita-citanya itu.
"Iya, terserah kamu. Susah memang dibilangin, sana masuk. Nanti enggak dapat bangku."
"Iya, hati-hati dijalan, Yah." Aruna melambaikan tangan kanannya sambil memandangi punggung Ayahnya yang menjauh.
Dengan semangat, Aruna memasuki gerbang sekolah dan menyebar senyum kepada setiap orang yang ia temui.
"Pagi Pak! Pagi Bu!" Aruna menyapa para guru.
Ternyata, walaupun sudah sangat pagi Aruna berangkat sekolah, sudah banyak siswa siswi berhiruk-pikuk mengantri untuk melihat mading atau majalah dinding, mencari nama mereka masing-masing dalam daftar pembagian kelas.
Aruna bertemu sahabatnya, Anna, yang juga berada dalam kerumunan itu. Aruna menyapanya dengan ceria.
"Anna!" Teriak Aruna sambil melambaikan tangannya keras-keras.
"Run! Sini Run!" Balas Anna juga dengan suara keras, memanggil Aruna agar menyusulnya ke dalam kerumunan.
Aruna pun setengah berlari dan memeluk sahabatnya itu. Tubuh keduanya mungil, sehingga mereka perlu berusaha keras untuk melihat daftar tersebut. Mereka pun menyempil diantara kerumunan dan menyelak beberapa antrian. Begitu sampai didepan daftar, mereka pun buru-buru mencari nama mereka.
"Run, nama gue mana ya?" Ucap sahabatnya itu dengan panik.
"Mana gue tahu, belum nemu nama gue juga nih." jawabnya.
Aruna menyusuri seluruh daftar dan akhirnya menemukan namanya sendiri di 11.IS.6
"IS.6! Gue di IS.6, Na! Elo dimana?" tanyanya bersemangat. Kata IS sendiri berarti ilmu sosial.
"Is.7! Gue bareng Resha!" ucapnya girang.
"Kalian berdua sekelas?" Tanya Aruna, yang dijawab oleh anggukan oleh Resha.
"Yah.." Aruna kecewa.
"Loh kenapa?"
"Kok gue terpisah sendiri."
"Ya ampun, Run. Sebelahan juga kelasnya."
"Tetap saja, enggak ada satupun yang gue kenal cewek-ceweknya."
"Masa sih? Kan elo terkenal supel di satu sekolah ini."
"Ya tapi enggak ada yang sedekat kalian."
"Kan jam istirahat kita masih bisa ngobrol. Ayolah, ini hari pertama sekolah. Jangan pasang wajah murung, pamali."
"Hm."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARUNA
Romance"Akan ada suatu momentum, dimana kamu dan dia akan kembali berjumpa. Dimana kamu dan dia akan memutuskan, berhenti atau melanjutkan kisah kalian"
