Bayi itu "Keza"
Putri bulan untuk faiz
Pembawa lentera dalam gulita
"Ahhh... sepertinya dia salah" faiz menghela napas, menghapus kembali sinopsis yang kini telah tertera pada layar ponselnya
"Keza semangatku... tujuan hidupku, tujuan pendidikanku...
Lelaki tersebut hampir tersungkur jika dia tidak berpegangan pada kursi yang berada di dekatnya. Dia tersenyum manatap Faiz yang memandangnya dengan senyum penuh permusuhan.
“putri bulan, sayang, kangen kakak ya? Duh maaf ya kakak lama pulangnya” Faiz mengambil keza dari ranjang bayi dan membawanya dalam dekapan.
Tangan Faiz mengelus pipi Keza, tapi tangisnya tetap belum berhenti meskipun sudah tidak sekeras tadi. “budhe Keza ngompol ya kok nangis terus?” matanya beralih pada sang budhe yang masih menatap interaksi antara Faiz dan Keza.
“enggak tuh sayang”.
“ck, kalo gitu pasti gara-gara dia nih Keza nangis nggak mau diem” mata faiz menatap lelaki di sebelahnya yang sedang tersenyum.
Arah mata sang budhe juga menujuk orang yang sedang di tatap Faiz, “nggak lah iz, Keza nangis karena senang ayahnya datang, kamu itu” sang budhe berjalan mendekat.
Dia tahu, sangat tahu apa yang di rasakan Faiz pada lelaki di depannya ini, tapi bagaimanapun dia ayah keza, dan keza juga sangat butuh ayahnya.
Seulas senyum tercetak pada wajah lelaki tersebut “iya tuh, Keza kangen sama gue, buruk mulu sih fikiran kamu”.
Faiz mempelototi kakak iparnya dengan malas sekaligus geram pada sikapnya yang sok baik gini. “udah ya, yang berlalu biar berlalu, damai dong sama kakaknya”.
Faiz tersenyum dan menjabat tangan sang budhe “nggak budhe, makasih nasehatnya, Faiz mau pulang dulu budhe, makasih juga udah jagain keza” Faiz mencium tangan budhenya dan membawa keza kecinya keluar dari rumah tersebut.
Di teras rumah tersebut faiz menghela nafas keras-keras “cobaan apa lagi ini? Tu orang sok baik banget, coba ada Khelia udah di plintir di bejek di racun tuh orang” Faiz berguman pada dirinya sediri.
“Keza setujukan sama kakak? Ntar kalo dia jahatain Keza lagi pukul aja kalo perlu tendang sekalian” Faiz tersenyum melihat tingkah Keza yang sangat menggemaskan.
Deheman terdengar dari belakangnya “pinter ya anak gue masih bayi udah lo ajari nggak bener, gedenya mau jadi apa tu anak kalo tiap hari hidupnya lo ajari yang enggak-enggak”.
Tak ada tanggapan dari Faiz , karena dirinya lebih memilih pergi meninggalkan pria sarap di belakangnya.
Langkahnya yang lebar dan tergesa-gesa membuat bayi di gendongannya tersenyum dan tertawa, hingga dengan sengaja Faiz memelankan langkahnya agar dia bisa menikmati candaan dari putri bulannya tersebut.
“cepetan naik, ada yang pengen gue omongin!” suara itu jelas ternger dari dalam mobil putih di sampinya.
Untuk orang seperti Faiz, apasih yang akan dia tolak jika itu GRATIS, lagian dia juga ingin mengatan satu hal pada lelaki yang saat ini adalah ayah dari putri bulan kesayangan Faiz.
“sebelum lo ngomong, gue mau ngomong duluan” Faiz berfikir sebentar dan mengalihkan tatapannya pada Keza “ahh, nggak jadi, entar aja di rumah ngomongnya, awas lo ngomong macem-macem dan ngeracunin pkiran adek gue” Faiz melepas tas ransel yang sendari tadi ada punggungnya karena merasa mengganjal. Dan menaruh pada sisi kiri tempat dudukya.
🌾🌾🌾 AAF
Bayangan akah kejadian pertengkarannya dengan sang ipar berputar di otak Faiz. Cukup membuat Faiz lupa merasakan lapar yang sedari tadi telah meneriaki perutnya minta di isi.
Apalagi Faiz memang tipe orang yang selalu memikirkan semua kemungkinan yang ada di otaknya di tambah lagi baru sekitar jam sebelas keza mau melanjutkan tidurnya. Semua itu membuat kepalanya semakin sakit.
“kak!”
“gue salah nggak sih kasar sama suami lo?”
“gue dosa nggak sih udah ngata-ngatain dia?”
“maafin gue ya kak, habisnya dia ngeselin tingkat dewa”
Tangannya mengetuk-ngetuk pensil yang sedang dia bawa, inginnya sih mengerjakan tugas Fisika, tapi apalah daya, fikirannya berada jauh di alam lain.
“kayaknya malem ini gue harus makan, makanan sepesial lagi” Faiz tersenyum sediri.
“maafin gue lagi ya kak karena nggak bisa jaga diri” Faiz meletakkan pensilnya dan berjalan keluar menuju dapur.
Tangganya mengambil panci dan mengisinya dengan air sembari meletakkanya pada kompor yang telah ia nyalakan apinya. Kemudian, dia mengambil mie instan yang berada di lemari dapur, membuka kulkas untuk melihat apakah masih ada sayuran di dalam sana.
Matanya menelusuri seluruh isi kulkas hingga dia mendapatkan apa yang dia inginkan, seikat sawi. Faiz tersenyum lebar melihat makan malam kali ini nggak buruk buruk amat. Dia mencuci bersih sawi dan mengirisnya.
“mantab lah, laper banget gue” Faiz tersentak meihat orang yang tiba-tiba berada di belakangnya.
“ngapain lo?”
“gue belum makan juga nih, buatin gue satu ya” senyum terukir di bibirnya, bukannya membuat Faiz seneng melihat senyumnya, yang ada dia makin eneg lihat wajah sok tak berdosa itu.
Faiz kembali pada kegiatan awalnnya memotong sawi “ok terimakasih adek gue yang ganteng, gue tunggu di depan ya”.
Fais menatap pria yang akan keluar dari dapur tersebut “emang lo siapa Nyuruh gue?”.
“kalau mau, beli sendiri dan masak sendiri sana” tambahnya.
Lelaki itu hanya tersenyum, “gue tunggu di depan TV”
“jambu kampret, tu orang anak siapa sih” meski bibirnya mengutuk lelaki sialan tadi, tetapi hatinya tetap saja tak bisa berbohong, dia akhirnya mengambil mie instan tambahan dari dalam lemari.
Meskipun itu adalah jatah untuknya makan besok tapi ya sudah lah, memberi orang yang tidak mampu itu banyak pahalanya.
Tak butuh waktu lama untuk dia memasak mie tersebut dan segera menyajikannya dalam piring, khusus untuk piringnya, dia menambahkan nasi putih yang ia masak pagi tadi.
“woy bangsat! Lo mau makan nggak? Kalo mau noh di meja udah ada” Faiz meneriaki orang yang sedang memainkan ponselnya di atas sofa, sebelum dia kembali masuk ke dalam kamar miliknya sembari memakan mie instannya.
Tangan kanannya menulis di tengah bagian buku agar lebih mudah untuk menyobeknya nanti, semabri makan dia juga berfikir keras untuk menyelesaikan masalahnya dengan suami kakaknya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
^^ Kertosono 26 desember 2018
Aulia
Tolong ingatkan jika ada Typo ya teman Salam cinta untuk kalian 💕💕
buat picture, si Faiz belum ganti baju dan masih pake jaket yang dia pakai saat plg dengan Khelia, tapi di picture masih pake dalaman putih abu-abu