Selain tidur dikelas akhir-akhir ini Faiz memiliki hobi baru yakni melamun, seperti saat ini, disaat sang guru di depan sedang menjelaskan Faiz dengan tenangnya malah melamun, menopang dagunya menghadap ke jendela
EHEM..
Faiz memandang langit biru yang berada diluar
"IZ.."
Tangan kirinya memainkan bupoin hitam yang kini tengah ia ketuk-ketukkan pada meja
Hingga
BRAK
"ANJIIRRR" umpat Faiz reflek saat kursinya ditendang hingga mau tak mau nyawa yang tadi berkeliaran di luar kelas harus kembali
Tapi mulut busuknya membuat beberapa anak yang mendengarnya menengok pada bangku nomor dua tersebut "apaan lo bangsat" umpatnya memberi pelototan tajam pada sosok teman sebangkunya tersebut
"bentar lagi giliran lo dodol yang baca" sahut Bayu dengan nada lirih "mau lo dimarahin?"
Seketika Faiz sadar dan mengedarkan pandangannya pada anak yang berada di bangku depannya yang kini tengah melanjutkan membaca pertanyaan yang berada di buku lks depannya
Dengan sigap Faiz melihat bukunya dan menghitung mendapat soal nomor berapa dia, setelah dirasa pas Faiz membacanya dan memahami soal yang akan ia baca
Bukan hal yang lucu jika dia tidak bisa menjawab
Terkadang image orang tentang betapa pintarnya Faiz membuat dia tertekan, karena jika dia tidak pandai maka akan menjadi bahan omongan dan gunjingan
Sedangkan Faiz paling malas jika menjadi bahan gosip orang, memuakkan
***
Saat istirahat ke dua Faiz dan teman-temannya tengah duduk di kantin, Faiz tak memesan makanan apapun hanya menyandarkan kepalanya pada lipatan tangan.
Sedangkan teman-temannya pada sibuk bergosip "widih gila, tu anak kelas satu centil banget dandanannya, woah penyanyi kalah deh keknya" tunjuk arsa pada segerombolan anak yang sedang membeli es
"yaelah dia emang model kali, norak amat sih lo, wajahnya udah banyak tuh di majalah" jawab teman Faiz lainya yang saat ini sedang menyendokkan potongan siomay pada mulutnya
"majalah apaan?"
Melihat dari tampangnya yang bertubuh tinggi dengan kulit putih dan rambut panjang yang di ikat memang sangat mengagumkan, jangan lupa wajahnya yang cantik menawan membuat banyak mata akan melihat kearahnya, dan pantas saja jika dia berhasil menjadi model
"yang pasti bukan majalah dewasa"
"yahhh" sambutnya dengan agak menyesal
"anjirr tu otak pikirannya kotor mulu, mau gue cuciin tu otak di comberan" sahut Bayu yang dari tadi diam sembari memakan bakso di depannya
Tanggapannya membuat sekelompok mereka tertawa hingga beberapa siswa yang berada di kantin memandang mereka, "selow mas bro jan ngegas, liat tuh si Faiz anteng anteng aja dari tadi" mereka segera melihat Faiz yang masih anteng dengan dunianya tak bergeming
Entah anteng mager atau malas meladeni teman-temannya mungkin tak ada bedanya
"iz?" tak ada sahutan Faiz masih tetap duduk di posisi yang sama
"kesambet apaan lo? jangan-jangan kesambet penunggu pohon palem sekolah sebelah lagi, kan banyak yang bilang angker tu" lama-lama kelakuan Faiz yang begini bikin mereka khawatir jika benar-benar kerasukan, mana nggak ada yang bisa baca do'a lagi buat ngusir hantu yang nempel.
"yah goblog, mana mau dia ngerasukin Faiz. Turun pamor tu hantu mau ngerasukin Faiz"
Faiz sebenarnya mendengar semua celotehan mereka, tetapi dia sedang malas saja menanggapi mulut-mulut tidak berguna mereka
"lo kenapa sih dari kemaren ngelamun mulu? Ke lilit utang lo? rumahlo mau disita? Apa jangan-jangan lo abis" kata-katanya tergantung saat melihat Faiz mengalihkan pandangannya dan memelototinya dengan tajam
Faiz menghela napas, memang para kadal gurun kadang suka nyablak aja sembarangan kalau bicara
"abis apaan? Bacot banget kalian bikin gue tambah pusing aja anjiir" ucap Faiz dan beranjak pergi meninggalkan semua temannya yang masih duduk, tak lupa tangannya mengambil teh botol yang berada di atas meja entah milik temannya yang mana
"Faiz kampret balikin oy teh botol gue, kalau entar gue keselek mati pokok lo yang tanggung jawab"
"bodo amat dah!" ucapnya kembali melangkahkan kaki menjauhi kerumunan teman blangsaknya
Faiz berjalan menuju kelas dengan sesekali meneguk minuman yang berada di tangan kanannya dan memainkan ponsel dengan tangan kirinya
Yah dibalik kepintaran dan sifatnya yang lucu, dia juga sangat misterius memiliki banyak rahasia dan tekanan
Tak berselang lama Bayu yang kini memasukkan bakso terakhirnya ke dalam mulut juga ikut berdiri, "cabut dulu gue" ucapnya sembari sedikit berlari menuju tempat yang sama dengan Faiz, kelas
**
Sudah beberapa bulan sejak terakhir kali ibu guru itu merecoki Faiz yang membuat hidupnya agak tenang, apalagi mendekati ujian.
Harus membagi waktu itu bukan hal mudah,dan karena itu juga keza kini sudah tidak tinggal di rumah yang sama dengan Faiz, alasan budhenya agar Faiz fokus belajar, keza kini sudah bisa merangkak, rambutnya sudah tumbuh dengan lebat juga, itu juga berkat Faiz dan budhenya yang rajin memberikan aloevera pada rambutnya
Sedangkan kakak iparnya kini lebih sering tidur di rumahnya, meski hubungan keduanya hingga kini belum dekat
Kakak iparnya akan pulang saat larut malam, sedangkan saat Faiz berangkat sekolah saat sang kakak masih belum bangun, entah Faiz juga tidak tahu jam berapa dia berangkat kerja, tetapi yang pasti seblangsak blangsaknya Faiz dia tetap ingat untuk membagi masakannya dengan kakak iparnya
Sekarang Faiz selain menjadi penjaga toko juga terkadang main band di cafe, meski dia mengambil kerjaan itu saat malam jum'ad dan sabtu saja karena pagi harinya dia bisa tidur, lumayan uangnya bisa dia tabung untuk kuliah nanti, masa kelas dua belasnya juga tinggal beberapa bulan lagi, sehingga dia hidup lebih hemat
Impiannya yang tinggi menuntut untuk memiliki tabungan yang cukup
Kini dia sedang memandangi ponsel di genggamannya, membaca chat grup toko tempat Faiz kerja, karen suatu alasan tokonya akan tutup lebih cepat sehingga Faiz tidak perlu berangkat kerja untuk hari ini
Lumayan juga selain dapat istirahat Faiz juga bisa mencuci baju yang sudah menumpuk di rumah karena beberapa hari tidak dia cuci, juga bisa beli makanan ke minimarket setok mie instannya juga sudah menipis.
"lu napa dah dari kemarin galak banget?" tanya Bayu saat sampai di depan Faiz, manarik bangku paling depan dan agar dekat dengan meja Faiz
Faiz menatap teman di depannya lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada ponsel "Faiz budeg mah ngeselin" kata Bayu lagi
"banyak pikiran" jawab Faiz singkat
Bayu menghela napas, "yah si tolol sok mikir, kayak punya pikiran aja" jawab bayu terkekeh sambil meraih ponsel yang kini sedang dimainkan pemiliknya
"balikin hp gue bangsat"
"iz duduk!" Faiz menghela napas dan akhirnya hanya bisa menurut untuk duduk "inget ada gue ada Khelia juga, jangan merasa nggak punya teman, kalau ada masalah bilang aja, kalaupun gue nggak bisa bantu minimal kan gue bisa menjadi pendengar yang baik"
"hmm iya gue tau"
"abis pulang ngemal yuk?" ajak Bayu "lagian kelas tambahan hari ini juga udah di jadiin satu minggu lalu kan, jadi sebelum lo berangkat kerja kita main ke mal dulu"
"ogah ah ngapain mager mending pulang main sama putri bulan" jawab Faiz, memang hari ini bisa dibilang hari ter senggangnya dan dia akan menghabiskan di rumah
"yaelah iz sesekali mau ngabisin duit bokap gue, kasian kan kalau bukan gue siapa lagi yang mau ngehabisin duitnya, yah ya? Ntar gue traktir bk deh?" bujuk Bayu pada Faiz dengan senyuman yang tak ada manis-manisnya

KAMU SEDANG MEMBACA
Princess for faiz
أدب المراهقينBayi itu "Keza" Putri bulan untuk faiz Pembawa lentera dalam gulita "Ahhh... sepertinya dia salah" faiz menghela napas, menghapus kembali sinopsis yang kini telah tertera pada layar ponselnya "Keza semangatku... tujuan hidupku, tujuan pendidikanku...