jangan sakit

3.7K 195 1
                                    

Senyummu",refleks alvi dan membuat balya menaikkan alis sebelahnya menandakan ia ingin diperjelas atas ucapan alvi.

"Oops... Lupakan saja", jawab alvi sekenanya.

"Hari ini kamu sudah boleh pulang lekas kemasi barang barangmu,  nanti mas angan yang jemput kamu",jelas balya.

"Ustadz angan yang jemput saya tadz?",tanya alvi.

"Hmm", jawab balya dengan gaya sok coolnya.

"Yess",lirih alvi yang didengar oleh balya.
"Brati saya nanti cuma berdua sama ustadz angan ya tadz? ",tanya alvi yang kedua kalinya, yang membuat balya menaikkan sebelah alis nya.

"Kalau kamu ingin diantara kalian ada setan ya silahkan,",terang balya saat mengambil handphonenya di nakas dan berlalu begitu saja, meninggalkan alvi yang saat ini masih mencerna kata kata balya.

"Iih dasar mahluk judes,  bilang aja kalau ustadz ngirikan",omel alvi sambi

*****

Drrrtttt
Suara handphone balya bergetar,  menampilkan dua belas digit nomor,  ia menaikkan sedikit alisnya,  ia merasa asing dengan nomor yang tertera pada handphonenya, ia pun mengangkat nomor baru itu.

" hallo assalamualaikum..? ",jawab balya.
"Wa'alaikum salam,  apa ini dengan nak balya? ",tanya suara disebrang sana.
"Iya benar,  maaf ini dengan siapa? ",tanya balya penasaran.
"Ini hatta pamannya alvi, saya dapat telpon dari pihak pondok alvi katanya alvi masuk rumah sakit, apa benar? ", tanya hatta.
"Ooh,  maaf pak,  iya alvi masuk rumah sakit pak,  tapi sekarang sudah boleh pulang,  dan sekarang alvi tengah siap siap akan pulang",jawab balya dengan nada sopannya.
"Ooh.. Syukurlah, apa saya bisa berbicara dengan alvi nak? ", pinta hatta.

"Iya bisa pak,  sebentar saya antarkan handphone dulu ke alvinya",jawab balya yang masih menggunakan nada sopan nya.

"Iya nak,  saya tunggu", jawab hatta.

****
Cklek,  suara pintu yang terbuka,  menampilkan balya dengan balutan koko dengan celana pollo panjang, yang menambahkan kesan kewibawaanya, ditambah lagi jam hitam yang melingkar di tangannya membuatnya terlihat gagah dan mempesona.

" pamanmu",balya menyodorkan handphonenya ke alvi.

"Paman" alvi mendongakkan kepalanya,  ada rona kebahagiaan yang tersirat pada wajah alvi yang terlihat oleh balya.
Langsung saja alvi meraih ponsel itu dan meletakkan di telinga kanannya.

"Hallo asalamualaikum paman",jawab alvi.
"Wa'alaikum salam phi, kamu sakit",terdengar suara khawatir hatta pada alvi.

"Phi udah sembuh kok paman",jawab alvi dengan gaya panggilan khusus keluarga besarnya.

"Ini udah mau pulang, gak perlu khawatir uncle, phi udah sehat kok",jelas alvi,  ia tahu bila pamannya ini sedang mengkhawatirkannya.

"Phi... Pulang kerumah paman ya..? ", pinta hatta. Yang membuat alvi membuang napas pelan, pasalnya ia selalu saja menolak ajakan pamannya untuk pulang.  Kali ini alvi tidak tega menolak ajakan pamanya.

"Phi.. Are you there? ",sontak membuat lamunan alvi buyar.

"A...ah.. Iya paman? ", gelagap alvi.

" pulang kerumah paman ya,  we miss  you phi",mohon hatta dengan nada melasnya.

"Jangan memakai nada seperti itu paman",alvi memutar bola matanya malas.
"Apa paman salah",tanya hatta belum faham.
"Itu akan membuatku sulit untuk menolaknya pamaan", jelas alvi malas.
"Bhahaha... Baiklah baiklah, setengah jam lagi paman jemput, assalamualaikum", jelas hatta.
" oke, wa'alaikum salaam ",tutup alvi.

"Tadz saya disuruh pulang kerumah paman hatta",jelas alvi sambil menyodorkan handphone balya.
"Hmm.. Yasudah biar saya bilang mas angan dulu",izin balya sambil berlalu dari ruangan itu.

'BODOH'... Batin alvi dengan memukuli keningnya, harusnya hari ini keinginannya untuk satu mobil dengan angan bisa tercapai, tapi ia malah mengiyakan ajakan pamannya, auto gagal bisa memandang wajah pangerannya  itu,  kesal alvi.

Setengah jam kemudian...

"Assalamualaikum phi",salam hatta tiba tiba yang membuat alvi kaget.
"Wa'alaikum salam...pamaan!! ",kaget alvi.
"Gimana,  udah siap pulang, tantemu sudah masak makanan kesukaan kamu sama roza", bujuk hatta.
" waah.. Mbak roza pulang? ",tanya alvi.
"Iya, tapi cuma tiga hari saja",sedih hatta.
"Gak papa lah paman,  kalau ikut hafalan qur an ya libur nya dibatasi,  tapi phi salut sama mbak roza bisa bertahan menghafal al-qur'an,  sedangkan phi aja kenal dunia pesantren aja udah untung banget ", jelas alvi pada pamannya,  yang tanpa mereka sadari Ada sepasang telinga yang  sedang mendengarkan percakapan mereka.

" itu tadi ustadz kamu phi? ",tanya hatta penasaran.
"Hmm",jawab alvi cuek.
"Ganteng  ya phi..? ",pancing hatta yg ingin melihat reaksi alvi tentang balya.

" ganteng!!... Paman jangan biasakan melihat fisiknya aja,  paman gak tahukan sikapnya? ", jelas alvi menggebu gebu.

"Ada apa dg sikapnya",tanya hatta penasaran.

Alvi malah clingukan memastikan bahwa orang yang sedang ia bicarakan tidak ada.
" dia itu ya paman,  angkuh,  sombong, cuek,  dingin  kayak freezer,  besok kalau paman beli eskrim indofood yang cup seember itu jangan di masukin kulkas,  suruh aja si ustadz balya meluk esnya,  dijamin beku sebeku bekunya",semangat alvi bercerita,  tanpa sadar balya masih mendengarkan percakapan mereka.

"Bhahaha.. Kamu ini phi", gemas hatta.
" kalau seandainya kamu yang dipeluk,  masa iya beku juga", bluss... Wajah alvi memanas, kata kata pamannya memang bisa membungkam mulut alvi rapat rapat.
" paman rasa pelukan ustadzmu itu hangat phi", lanjut hatta mengerjai alvi.

"Paman... Udah gak lucuuu yaa", kesal alvi.
" bhahaha... Makannya hati hati sama ucapan phi,  mulut bisa berkata tidak tapi hati siapa yang tahu", nada hatta berubah serius,  dan membuat alvi tertunduk malu.

"Maaf paman,  phi belum bisa menjaga lisan phi",sesal alvi.

"Yaudah... Paman hanya mengingatkan,  sebagai seorang muslim kita jangan pernah mengatakan bila kita benci terhadap orang lain, nabi saja tidak pernah membenci umatnya yang kejam pada nabi",nasehat hatta,  yang membuat alvi semakin menyesali ucapannya.

"Ayo... Pulang... Mbakmu pasti sudah menunggu lama dirumah",ajak hatta menyudahi percakapannya.

Dua pasang telinga yang sedari tadi mendengar percakapan alvi dan hatta hanya bisa tersenyum geli, lalu ia segera beranjak pergi sebelum dua orang itu memergokinya.

****

Diparkiran

"..terima kasih nak balya,  sudah merawat keponakan saya yang bandel ini",jelas hatta pada balya.

"Tidak papa pak, itu semua adalah bentuk dari tanggung jawab kami sebagai pengasuh pondok pak, dan maaf sekiranya kami tidak bisa merawat keponakan bapak dengan baik",jelas balya panjang lebar.
"Aah jangan terlalu menyalahkan diri sendiri", jawab hatta.

"Yasudah... Saya sama alvi pamit nak",jelas hatta sambil menepuk bahu balya.

Hatta memutari mobil lalu masuk,  sedangkan alvi sibuk memasukkan barangnya ke kemudi penumpang mobil itu.

"Ustadz.. ",panggil alvi pada balya.
" iya",jawab balya.
"Sukron katsir ", ucap alvi yang malu malu.
" afwan",jawab balya sambil memperhatikan wajah alvi yang memerah.

" saya pulang dulu tadz", pamit alvi dan segera membalik tubuhnya untuk membuka pintu mobil.

"Alvi", panggil balya,suara lelaki itu langsung membuat alvi membalikkan tubuhnya memandang orang yang memanggilnya.
"Iya tadz",jawab alvi.

" jangan sakit"...



Don't forget vote,...
Semoga suka...







my coldest ustadz Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang