15. Tanpa Kabar

27 1 4
                                        

BISMILLAH!!!

Jangan lupa pencet dulu "⭐" nanti lupa lagi:v

<Happy Reading>

×××

Jangan pernah melakukan hal yang bodoh hanya karena suatu hal yang bahkan belum kamu mulai

×××

Syerin dan Laurent sangat gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8, tetapi Aurel belum juga datang. Belum ada pelajaran saat ini karena gurunya akan datang terlambat.

Awalnya Devan bersikap biasa saja dan menganggapnya mungkin Aurel terlambat. Tetapi dua orang temannya yang hari ini terlambat mengatakan saat hukuman di halaman tadi Aurel tidak ada, itu yang membuat Devan ikut khawatir.

Surat izin di meja guru hanya ada satu, surat dari Ririn yang sakit hari ini.

"Nik, lo dikasih kabar Aurel gak? Kemana gitu, biasanya kan kalau izin mendadak ke lo."

"Gak tuh," Niko menaikkan bahunya.

Devan bangkit dari duduknya. Dia melangkahkan kaki keluar kelas. Syerin dan Laurent saling bertatapan dan mengira-ngira Devan akan pergi kemana.

Koridor sangat sepi, hanya ada suara ramai dari halaman karena kelas yang sedang jam olahraga. Devan terus melangkahkan kakinya. Sebelumnya dia sudah mengirimkan pesan kepada orang yang akan di temuinya.

Setelah sampai ke tempat yang dituju, Devan sudah melihat orang yang ditemuinya ada di depannya.

"Ngapain?" tanya orang itu tanpa basa-basi.

"Lo tau Aurel kemana?"

"Maksud lo?"

"Kemarin lo pergi sama Aurel gue tau itu, dan sekarang dia gak masuk tanpa keterangan. Apa yang lo lakuin?"

Benar sekali. Orang itu adalah Aldan. Memang Devan tidak mempunyai kontak Aldan tetapi dia mengirim pesan ke Raffa untuk menyuruh Aldan menemuinya di taman belakang sekolah.

"Gue gak tau."

"Jangan bohong lo." Nada bicara Devan mulai tidak bersahabat.

Sejak awal, Devan sudah tidak menyukai Aldan. Apa pun hal yang menyangkut Aldan dia tidak menyukainya. Entahlah, Devan juga tidak tau apa alasannya tidak menyukai orang itu.

"Apa untungnya gue bohong," ucap Aldan datar.

"Gue takut dia di A di absennya."

Aldan tersenyum sinis. "Seharusnya lo takut apa yang terjadi dengan dia sekarang, bukan masalah absennya."

Devan hanya diam. Dia tidak sepenuhnya mengkhawatirkan absen tetapi juga keadaan Aurel. Pria itu takut Aurel sakit atau apalah yang jelas Devan juga khawatir akan keadaan Aurel.

"Sakit mungkin, dia sedikit kehujanan kemarin," imbuh Aldan.

Aldan meninggalkan Devan yang masih di tempat. Dia tidak terlalu mempedulikan Aurel. Untuk apa dia melakukannya, siapa dia dalam hidup Aldan. Kalaupun Aurel sakit, sudah ada yang merawatnya di rumah dan absennya bisa diurus besok saat dia masuk. Begitu pikir Aldan.

Sudah beberapa kali Devan menghubungi Aurel tetapi hasilnya nihil. Tidak ada jawaban. Devan memutuskan untuk kembali ke kelas. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa temannya itu mungkin sedang kurang enak badan karena kehujanan kemarin. Semoga saja.

ILLEGIBLE [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang