2. Nasi goreng

109 24 31
                                        

({[NOW PLAYING ~ Hujan-UTOPIA]})
Karena ada kisah dari hujan-hujan gitu di part ini. Doa aja semoga hujan, biar lebih asyik bacanya.

Happy Reading

×××

Nasi goreng hanya saksi, beda sama hati. Hati adalah sutradara yang mengatur pemainnya.
#love

×××

Kelihantannya hujan akan turun sangat deras malam ini. Aurel sedang keluar rumah untuk membeli makanan karena dirumahnya tidak ada makanan sama sekali. Dia lapar karena dari pagi belum makan. Aurel tidak mau merepotkan Bi Inah yang kurang enak badan. Setelah lama berkeliling, akhirnya pilihan Aurel jatuh kepada pedagang nasi goreng kaki lima.

Memang bukan keberuntungan Aurel. Tempat nasi goreng itu sangat ramai pembeli. Wajar sih, tempat ini lumayan banyak pelanggannya karena rasanya yang enak.

"Gila. Sampai jam berapa gue nunggu antrian?"

Meskipun ramai pembeli Aurel tetap menunggu karena perutnya sudah sangat lapar dan tidak ada pilihan lain. Lagi pula sekarang sudah malam jadi Aurel tidak mau keliling lagi cari makanan yang lain. Cuaca juga sangat mendung. Dinginnya malam mulai terasa di kulit Aurel, karena dia lupa memakai jaket. Aurel hanya melipat kedua tangannya di depan tubuhnya agar terasa lebih hangat.

×××

"Al. Buruan gih cerita," gerutu Raffa tetapi mata Aldan tetap tertuju pada TV dihadapan mereka.

"Aldaaaaannn." Raffa melempar guling disebelahnya ke Aldan. Tapi Aldan tidak menghiraukannya dan pandangan Aldan masih tertuju pada TV yang menampilkan film horor salah satu gender film kesukaannya.

Tidak ada cara lain, Raffa mematikan TV itu secara paksa. Aldan hanya memasang wajah kesal ke Raffa dengan lirikan mata yang tajam seakan mau menerkam Raffa hidup-hidup.

"Ngapa lo lihat-lihat," ejek Raffa.

Aldan bangkit dari duduknya, dan melangkah ke arah Raffa," belikin gue makanan dulu, gue laper."

"Diiih manja banget sih lo tinggal kedapur aja ada makanan. Lagi pula udah mau hujan males gue kalau kehujanan."

Teflon Aldan berdering menandakan ada panggilan masuk

Aldan : Hallo ma

Mama Aldan : ....

Aldan : Iya

Aldan membuka lemarinya dan mengambil jaket yang biasa ia kenakan sewaktu akan keluar rumah selagi udara dingin.

"Mau kemana lo Al?"

"Lo belikin gue makanan dulu, gue mau keluar. Kalau gue balik belum ada makanan gue gak akan cerita."

"Kan lo bisa beli sambil lo keluar Al."

"Males." Aldan keluar kamar menuju ke garasi. Dia melaju dengan mobilnya menyusuri jalanan Jakarta yang dingin karena akan turun hujan.

Jika Aldan bukan sahabatnya sejak kecil dan sudah dia anggap sebagai saudara, mungkin Raffa sudah mengacak-ngacak kamar Aldan sekarang ini juga. Bahkan jika perlu, dia akan membakar semua baju-baju Aldan. Kalau saja Raffa itu raja maka dia akan menurunkan tahta Aldan dari sahabat raja menjadi pelayan. Dipertemuan pertama mereka setelah tiga tahun terpisah, Aldan sudah membuat Raffa kesal setengah mati.Untung bukan adek sendiri.Kalau iya,akan dikubur hidup-hidup oleh Raffa.

ILLEGIBLE [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang