Young six laki-laki hari ini pergi ke kampus satu mobil, sesampainya di parkiran mereka semua masih santai di dalam mobil Karena sebenarnya mereka masih sangat ngantuk. Stefan melihat seseorang keluar dari mobil yang diparkir disebelah, pria itu memakai topinya dan berjalan menjauhi mobil. Langsung saja stefan turun dengan tasnya dan mengejar pria itu.
Bruk... laki-laki bertopi itu langsung tersungkur ke jalanan.
"heh !" teriak pria itu yang ternyata adalah Esa
"sekarang gue ada alasan buat ngebunuh lo" senyum stefan tipis, parkiran sekarang sedang sepi dan stefan tau cctv di area ini tidak berfungsi. Langsung saja stefan menendang perut esa yang masih terkapar itu. merasa ada kesempatan esa bangun dan menendang stefan balik, stefan terjungkal. Stefan kembali bangun dan menghamtam esa sampai bibirnya berdarah, banyak darah yang keluar dari mulut esa. Esa membalaskan dengan pukulan di pelipis, wajah stefan membiru tapi stefan masih tetap tenang. Esa kembali melayangkan pukulan sehingga kini darah segar mengalir dari hidung stefan.
"woeee" verrel dan yang lainnya langsung berlari mendekat, verrel memegang tubuh stefan dan Kevin memegangi esa. Adi berada ditengah membantu memisahkan tangan mereka yang masih sangat ingin menghajar. "stefan sadar stef" teriak verrel menariknya mundur.
"lepasin !"teriak esa menggila, stefan juga masih tetap berusaha mendekat tetapi verrel terus menarik tubuhnya mundur.
"berhenti !" teriak Kevin. "lo berdua gila ya" teriaknya lagi, kali ini Kevin membanting tubuh esa kekanan agar dia sadar dan berhenti melawan. "lo mau bunuh-bunuhan di kampus? Iya?"
"stef, lo kenapa kayak gini sih? Lo sekarang jadi kayak orang gila tau gak" adi hanya menggeleng lemas, hanya memisahkan mereka saja tenaganya ikutan terkuras.
"gue bener-bener pengen ngebunuh dia" teriak stefan memajukan tubuhnya, tapi verrel masih berhasil menahannya.
"stefan !" bentak verrel. "kalau lo mau ngelakuin hal gila, lo bisa lakuin di luar kampus." Verrel langsung menyeret stefan pergi kemudian diikuti dengan adi.
"heh bro" Kevin berdiri di depan esa. "dengan kayak gini lo taukan betapa cintanya stefan sama yuki? dan lo juga pasti tau gimana perasaan yuki sama stefan"
Di basecamp stefan diobati oleh nina, sengaja tidak dibawa ke UKS untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh perawat. Wajah stefan biru-biru dan hidungnya dari tadi tidak berhenti mengeluarkan darah. Kevin hanya diam memandangi temannya itu.
"saran gue mendingan lo kerumah sakit aja deh stef" kata nina hati-hati. "liat muka lo banyak yang sobek kayak gini"
"gausah, gue balik aja gue istirahat dirumah aja" stefan berdiri dan meraih jaketnya. "mana kunci mobil lo?" menatap verrel.
"yaudah, biar kita nanti naik taxi. Tapi inget, lo gausah mampir kemana-mana" kemudian verrel menyerahkan kunci mobilnya. Beberapa menit kemudian yuki datang ke basecamp setelah stefan keluar.
"kayaknya kita bakalan nginep sini lagi deh, tau sendiri semuanya berantakan dan kalau bukan kita yang turun tangan. Bisa-bisa bapak ketua yang lagi emosi itu bakalan marah-marah gak jelas lagi, gue kasian sama junior kita yang baru belajar jadi sasaran amarahnya" kata adi sambil mulai merapikan kertas-kertas dan bersiap membuka laptopnya.
"aaaahhh pengen spa, kapan sih libur" gerutu nina
"yuki, lo sekarang susulin stefan aja deh" kata Kevin menatap yuki
"kenapa? Katanya malam ini nglembur?" tanya yuki bingung
"biar kita berempat aja, lo samperin stefan aja dia lagi gila sekarang" sambung Kevin. "dia tadi berantem sama esa"
KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNG IN LOVE
FanfictionYoung Art, adalah nama sebuah majalah kampus. Majalah ini terbit untuk Universitas Putra Bima. Setiap bulan majalah ini berhasil terbit, mungkin untuk beberapa kalangan majalah bukannya hal yang ditunggu karena sudah banyak alat yang bisa digunakan...
