Cover by arrasistible
-
"Ternyata cinta tanpa memiliki sesakit ini," -Maura
"Lo berharap akan berhasil, meski semua terasa mustahil," -Levin
_
'Renjana', perasaan rindu seorang gadis remaja terhadap seseorang yang dicintainya. Namun, ia tidak mengha...
'Meskipun kamu pikir itu mustahil, aku akan berhenti berhenti berjuang.'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
°Maura Alqueena Almaguer° °°°
Tidak ada semangat untuk pergi kesekolah, yang Maura lakukan hanyalah melihat langit-langit kamar. Ia membayangkan kejadian kemarin. Bagaimana saat Levin mengetahui dan mengatakan kalimat yang membuat Maura 'hampir' menyerah.
"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Nerlina. Maura menggeleng, dan membenahi posisinya menjadi duduk. "Terus kenapa gak turun?" Ia khawatir kepada Maura yang bersikap lebih pendiam sejak ia kembali dari rumah tetangganya.
"Maura sarapan di kantin aja, Ma," Maura bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. "Yaudah, tapi jangan sampe gak makan ya. Nanti mag kamu kambuh," sejak kelas x Maura sudah mempunyai penyakit mag, ia sering telat makan karena tugas dan ekstrakurikuler.
"Baik nyonyaaa.." Maura turun berpamitan kepada ayah dan Alana. Semuanya merasa heran dengan sikap Maura, namun Mama nya mengisyaratkan agar tidak menanyakannya sekarang.
°°°
Koridor sekolah masih sepi. Sebelum masuk ke kelasnya, Maura memilih diam dipinggir lapangan terlebih dahulu.
'Aku memang pasrah tapi bukan berarti aku lelah. Kalaupun aku lelah bukan berarti aku kalah.'
Maura menutup diary nya dan ia terdiam sejenak memandang lapangan yang masih sepi. Tak lama Maura memutuskan pergi ke kelasnya. Berjalan dengan lesu, tidak ada semangat untuk hari ini Maura menghembuskan nafasnya berat.
"Maura!" Terkejut, Maura mendapati dua sosok laki-laki di hadapannya saat ini. "Kita satu sekolah juga ternyata," ujar Alvin tetangganya itu. Sedangkan Levin hanya memandang keduanya datar.
"Ada apa kak?" Tanya Maura. Ia mengetahui bahwa Alvin adalah kakak kelasnya karena terlihat bet kelas XII di lengan seragam sebelah kanan nya'.
"Cuma mau sampein terimakasih dari mama, duriannya enak kok," ucapnya "Terimakasih kembali, kak" Maura tersenyum dan melirik Levin yang sedang menatap kearah lain.
"Lo harus tau, gue gak suka durian!" Ketus Levin yang sedari tadi hanya diam. "Terus gue peduli?" Maura sengaja bersikap seperti itu, agar perasaannya kepada Levin tertutupi. Ya, walaupun yang dinanti sudah mengetahui.
"Lo gak usah kirim durian kerumah gue lagi," jelasnya. "Kenapa? Mama Lo juga suka," tidak mau kehilangan kesempatan ini. Maura semakin memperpanjang masalahnya.
"Tapi gue nggak!" "Mama gue ngasih bukan cuma buat Lo kok!" "Gue-" Alvin segera melerai keduanya. Takut pertengkaran antara mereka akan mengundang perhatian murid lainnya.
"Kalian kenapa sih? Kemarin jalan bareng, lah sekarang malah debat kayak gini!" Maura berfikir bahwa apa yang diucapkan oleh Alvin itu ada benarnya juga. Kemarin di kantin Levin bersikap baik kepadanya, tapi didepan rumahnya dia ketus. Terus di halaman komplek Levin kembali baik dan sekarang? Mengapa Levin selalu berubah.