[Completed]
Judulnya 127 Days, berisi 35 bagian cerita yang mengisahkan 127 lembar kertas berisi ungkapan Haechan akan rasa sakit miliknya, diary singkat yang ia tulis sejak kenyataan pahit hampir merenggut mimpinya.
Dengan awal berupa diary, kemud...
Dari kemarin Haechan belum juga kembali ke dorm dream membuat para member khawatir. Para member sudah berulang kali menghubunginya namun tidak diangkat.
Awalnya mereka mengira Haechan akan menginap di dorm 127 mengingat kemarin ia ada masalah dengan member jadi mereka tidak menghubungi para hyung maupun Haechan, tapi ketenangan itu lenyap ketika taeyong menghubungi mereka untuk menanyai Haechan.
"Sial! Ada apa dengannya?!" teriak Mark frustasi sambil terus menerus menelepon haechan walau pemuda manis itu tidak mengangkatnya.
"Ini tidak terlihat seperti Haechan hyung.. Hyung tidak akan menghindari kita meskipun kita bertengkar dengannya" ucap Jisung dengan wajah khawatir miliknya.
Semua member terlihat tidak tenang.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, dan Haechan belum terlihat dimanapun.
"Hyung terakhir kita melihatnya di agensi... Siapa tahu dia ada disana?" Chenle bersuara membuat kelima remaja itu menatap kearahnya.
"kurasa Chenle ada benarnya, kita belum memeriksa agensi terutama ruang latihan." sahut Jeno yang segera diangguki yang lain.
"Aku dan Jeno akan memeriksa kesana, kalian tunggulah disini siapa tahu nanti ia kembali" titah Mark.
"Hyung aku ikut" sahut Jaemin yang hanya diangguki oleh Mark lalu ketiga remaja itu bergegas berangkat menuju agensi mereka.
"kuharap Haechanie hyung baik-baik saja" kata Chenle yang diangguki oleh jisung dan Renjun.
SM Entertainment
Mark, Jeno dan Jaemin telah tiba di dalam gedung agensi. Ketiganya segera bergegas menaiki lift, kemudian menuju ruang latihan.
Ini masih pagi, jadi gedung agensi masih agak sepi apalagi ini merupakan akhir pekan.
Jaemin dengan kasarnya membuka pintu ruang latihan, namun saat pintu terbuka yang ada hanya ruangan itu yang gelap gulita tanpa adanya sisa-sisa kehidupan di sana.
"Chan? " panggil Jaemin lalu melangkah masuk kedalam sambil mencari saklar lampu ruangan tersebut.
"Haechan?/Donghyuck?" panggil Jeno dan Mark bersama.
Tak! (anggap itu suara saklar)
Lalu perlahan ruangan tersebut mulai terang sehingga memperlihatkan secara jelas isi ruangan tersebut.
"Donghyuck!" Seru Jaemin saat melihat Haechan berbaring di atas sofa dengan posisi yang menurutnya sangat tidak nyaman.
"Hey, bangunlah.." Jaemin menggoyangkan pelan tubuh Haechan membuat sang empu tampak terganggu akan perbuatannya.
"Sebentar lagi eomma... aku baru saja tidur.." guman Haechan pelan namun masih terdengar oleh ketiga pemuda itu.
Jaemin memandang kearah Mark, seolah bertanya apa yang harus diperbuat.
"Biarkan saja dulu, sepertinya ia berlatih keras semalaman." Kata Mark pelan agar tidak menggangu tidur Haechan.
"Tapi Hyung, nanti badan Haechan akan sakit kalau tidur disini." Kata Jaemin memandang khawatir pada Haechan, ia jadi merasa bersalah karena marah pada anak ini.
"Kalau begitu biar ku gendong saja" usul Jaemin yang mendapat penolakan keras dari Mark dan Jeno.
"Tidak tidak! Punggung mu belum pulih jadi jangan bertindak macam-macam, biar aku saja!" sahut Mark.
"Biar Aku saja Hyung. Disini aku yang paling sehat, kau pasti sudah lelah dengan jadwalmu yang super padat itu" akhirnya kedua pemuda itu membiarkan Jeno menggendong Haechan.
'Terakhir kali aku menggendongnya tidak seringan ini?' batin Jeno sembari membetulkan posisi Haechan yang ia gendong ala pengantin baru.
***
Setelah meletakkan Haechan di kamarnya, Jeno segera menghampiri Jaemin yang tampak masih memasang wajah menyesal.
"Jaem!" panggil Jeno, Jaemin memandang pemuda itu dengan wajah murungnya. Jeno menghela nafas.