H-18 : Kesempatan

11.5K 1.3K 31
                                        

"le.. leukimia? Leukimia Hyung?!"

Tanya Chenle nyaris berteriak. Haechan mengangguk.

"Tolong rahasiakan ini, Chenle-ah" mohon Haechan pada Chenle.

"Tapi Hyung, mereka harus tau.. kau kau tidak boleh kelelahan bukan? Itu kan penyakit berbahaya Hyung! Hyung.. hiks Hyung hiks..."

Haechan memeluk Chenle yang mulai menangis. Inilah alasan dia tidak mau memberitahukan penyakitnya, pasti mereka akan menangis karena dirinya.

Perasaan khawatir serta rasa takut kehilangan. Haechan tidak suka saat ia menjadi alasan seseorang menangis.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Tenanglah"

Haechan menepuk-nepuk pelan punggung Chenle agar pemuda manis itu tenang.

"Maafkan aku.." bisik Haechan.

"Hiks.. hiks.. kenapa kau minta maaf, Hyung? Hiks.."

"Maaf sudah membuatmu khawatir"

Chenle menggeleng kepala cepat.

"Tidak Hyung, ini bukan salahmu, tidak ada yang menginginkan penyakit ini."

Pada akhirnya kedua pemuda itu tertidur setelah kelelahan menangis.

***


Dua hari kemudian, Haechan akhirnya tiba di jeju.

Ia segera memberhentikan taksi, lalu meminta sang sopir untuk membawanya ke alamat Rumah kedua orangtuanya.

Perjalanan dari bandara menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Haechan datang ke Jeju tanpa memberitahu orang tuanya.

"Huh~"

Selama perjalanan, Haechan sesekali membalas pesan dari Chenle dan Renjun, juga pesan dari taeyong.

Ia berusaha menenangkan dan menyiapkan pikiran serta hatinya, karena ia sangat yakin bahwa setelah tiba disana, ia akan berdebat dengan orangtuanya.

"Anda terlihat banyak masalah" sang sopir taksi berucap.

Haechan tersenyum, namun senyumannya terhalang oleh masker yang ia kenakan, namun matanya tak bisa berbohong bahwa ia sedang tersenyum.

"Yah, bisa dibilang seperti itu, ahjussi."

"Apa salah satunya masalah dengan orangtuamu?"

Haechan mengangguk mengiyakan. Membuat pria paruh baya itu tersenyum maklum.

"Apa saat ini kau sedang kabur dari rumah?"

Haechan menggeleng pelan. "Tidak, ahjussi"

"Oh, boleh aku tahu masalahmu?"

haechan tampak berpikir, mungkin tidak jadi masalah menceritakan masalahnya pada ahjussi ini.

" orang tua saya ya ingin saya berhenti dari mimpi saya padahal Awalnya mereka mengizinkan. Sekarang Saya sedang menuju ke rumah untuk membicarakan ini "

Pria itu mengangguk paham, kemudian ia tersenyum ramah.

"kau anak yang berani ternyata, sebaiknya kamu membicarakan ini dengan baik-baik bersama orang tuamu, jelaskan secara perlahan dan sopan--" Saran pria itu sembari memamerkan senyuman bak seorang ayah.

--Dengan begitu bisa saja, orang tuamu kembali mengabulkan keinginan mu"

"Semoga saja, ahjussi."

Tidak lama kemudian, akhirnya Haechan tiba dirumahnya.

Rumah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Taman yang dipenuhi oleh bunga hasil karya sang ibu.

"Terimakasih ahjussi" ucap Haechan pada pria itu.

127 Days | HaechanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang