🍂🍂🍂
Tentang Dinda.
Namanya Dinda. Dua tahun lebih tua dariku. Cewek cerdas yang hobinya membuat bangga kedua orangtua.
Kehidupan Dinda selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya. Ah, semua orang menyukainya. Pintar, cantik, berprestasi, easy going, tidak sombong, dan mungkin saja suka menolong.
Di sini, aku akan menceritakan bagaimana sebenarnya Dinda itu, di balik kata 'pintar, cantik, berprestasi, easy going, tidak sombong' itu.
Papa dan Mama sangat menyayangi Dinda. Ya, mereka menyayangi ketiga anaknya, walaupun yang paling mencolok rasa sayangnya itu lebih prefer ke Dinda. Aku merasakan itu. Ingin apa saja pasti langsung dituruti. Tinggal menunjukkan nilai sempurnanya saja, semua beres. Tidak sepertiku yang harus merengek dan menangis dulu jika ingin meminta sesuatu.
Dinda ....
Cewek dengan segala kesempurnaannya, hingga dia terjebak dalam zona keburukan. Itu ulahnya sendiri. Tapi kenapa aku harus tahu? Hingga pada akhirnya, aku sendirilah yang sampai saat ini masih menyimpannya di memori. Tanpa sekali pun melupakannya.
Aku tidak membencinya. Biar bagaimanapun, Dinda tetap kakakku, saudara kandungku. Kami memang berbeda, tetapi aku merasa bahwa aku jauh lebih baik daripada dirinya.
Terutama dalam hal pergaulan bebas.
Sepertinya inilah saatnya aku menceritakan semuanya. Tentang aib yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat. Kali ini, aku tidak peduli dianggap jahat karena sudah dengan lancangnya menyebarkan aib seseorang. Tak masalah. Seseorang itu sudah lama tiada. Tidak mungkin dia akan datang untuk menuntutku. Oh, itu hanya ada di film-film.
Baiklah, mari kita mulai saja sekarang. Silakan membaca dengan tenang.
🍂🍂🍂
Saat itu, hujan turun dengan derasnya. Ini hampir mirip dengan saat pertama kali aku bertemu Rayyan di halte. Namun, kala itu aku tidak bertemu cowok ganteng seperti Rayyan, melainkan bertemu dengan Maya. Hh ....
Aku menunggu bus yang lewat lumayan lama. Hari sudah sore, dan hujan belum juga reda dari tadi siang. Jangan mengharapkan Paijo menjemputku, sebab dia lagi ada kegiatan di luar kota. Mama dan Papa juga lagi di luar kota. Sudah ada dua hari aku hanya berdua dengan Dinda di rumah. Cukup bahaya bagi anak perempuan. Namun, Papa dan Mama cukup tega.
Aku tidak pernah menyuruh Dinda untuk menjemputku. Sebab, cewek itu selalu menolaknya, dengan alasan lagi kerja kelompok di rumah teman. Kakak yang munafik.
"Luthfi!"
Seorang cewek berambut ikal memanggilku. Itu Maya, berselimutkan jas hujan sembari duduk di atas motor matic-nya yang masih menyala. "Gue anter pulang, yuk!"
"Hah?" Aku menimbang ajakannya. Rumah kami berbeda arah. Dia termasuk salah satu teman baikku. Merepotkannya sekali tak masalah, kan?
"Ayo! Daripada di sini nunggu bus yang nggak tahu kapan lewatnya, lebih baik pulang bareng gue. Ya ... meskipun lo akan basah kuyup. Gue cuman bawa satu jas hujan. Nggak masalah, kan?"
Aku akhirnya mengangguk. Perihal basah kuyup, bodoh amat. Yang penting tas tidak basah (aku menitipkannya di bagasi motor Maya) dan aku bisa sampai di rumah tidak sampai Magrib.
🍂🍂🍂
"Makasih, ya, May," ucapku ke Maya begitu aku turun dari motornya.
"Sama-sama, Luth," balas Maya.
"Lo nggak pengin singgah ke rumah gue dulu, May?" tawarku.
"Enggak, Luth. Udah sore, nih. Mana hujannya masih deras aja, nih," tolak Maya. "Masuk, gih. Udah basah kuyup gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear You
TeenfikceIni hanyalah sedikit kisah tentangku. Tentangku yang dipertemukan dengan dia. Pertemuan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehku. Aku tahu, ini mungkin kisah yang begitu klise. Namun, berkat pertemuanku dengannya, aku belajar banyak hal yang b...
