part 2

3 0 0
                                        

    “loh Anggista! Tunggu! Kok pergi sih. Ini makanannya belum dimakan. Sia sia dong.”

     “Anggista tunggu. kenapa sih!”
     Keynara berhasil meraih tangan sahabatnya. Langkah Anggista terhenti oleh teriakan Keynara padanya. Anggista hanya bisa terdiam.

     “Anggista, kamu kenapa? Kok tiba tiba pergi gitu aja. Aku nggak mau kita ada masalah karna satu hal yang kamu tutup tutupi dari aku.” Jelas Keynara.

Anggista tak bisa berkata apa apa. Ia masih saja ingin menutupi rasa kecewa pada Keynara. Ia langsung pergi meninggalkan Keynara dengan perasaan yang sama.

     “eh ehh” Keynara tak sempat mengejar Anggista, karna tangannya tertarik oleh seorang laki laki yang tadi pagi mengantar Keynara berangkat kesekolah bersamaan dengannya.

Keynara terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari tarikan Kiki. tetapi Keynara tak berhasil. Ia terus berusaha melepaskan tangannya dari tarikan Kiki karna ia sudah kehilangan jejak Anggsita yang tadi pergi.

     Terakhir kalinya, Keynara mulai mencoba berhenti untuk melepaskan tangannya karna ia berfikir Anggista sudah jauh. Kesal, marah, kecewa ia hadapkan ke wajah si penarik.

Keynara tak mengerti maksud dari Kiki yang menghalanginya untuk mengejar Anggista.

Kiki yang dari tadi menarik narik tangan milik Keynara itu, tiba tiba melepaskan dan beralih melangkah ke tempat yang akan ia tuju. Wajah Keynara penuh dengan kata heran. Entah apa maksud Kiki menariknya tadi

     “kring kring kring..”

     Suara yang berbunyi pada 10.00 itu menandakan jika istirahat berakhir. Semua siswa memasuki kelasnya dan melanjutkan pelajaran. Keynara mengakhiri masuk kekelas setelah semuanya temannya duduk di kursi kelas. Ia tak melihat seseorang yang dicarinya saat istirahat tadi.

Bangkunya kosong, tetapi tasnya masih tergeletak dikursinya. ‘Anggista kemana?’ batin Keynara dibangkunya sembari melirik bangku yang sedang di tinggal oleh pemiliknya.

     Sudah sepuluh menit, Anggista masih belum masuk kelas. Keynara bergegas mencarinya. Ia berhenti seketika Bu Mariya yang sedang menerangkan pelajaran melihat Keynara keluar. Keynara tak bisa melanjutkan mencari Anggista karna ia tidak di izinkan keluar oleh Guru dalam kelas itu. Keynara tak bisa fokus pada pelajaran. Pemikirannya masih tertuju pada Anggista yang tak diketahui keberadaannya.

     Keynara berpura pura sakit kepala. Ia langsung keluar menuju ruang istirahat atau tepatnya UKS.
     Keynara membuka pintu UKS. Dannnnn…

     “Anggista.” Gumamnya ditengah pintu UKS. “itu Anggista sama Fiola ngapain?”

     Ia terkejut melihat seseorang yang dari tadi dicarinya sedang menangis sembari memeluk Fiola yang tak lain itu adalah sepupu Keynara. Ia mengintip dua orang yang sedang berpelukan di UKS dari kaca pintu yang tak terlalu lebar. Air mata Keynara tak bisa ditahan lagi ketika melihat tangan sahabatnya dan juga sepupunya saling mendekap.

     Ia tak bisa berbuat apa apa. Keynara memilih pergi dari tempat itu dan menuju perpustakaan sekolah yang kebetulan sedang sepi dan tak akan diketahui siapapun jika Keynara harus menangis dan marah marah sendiri. Tetapi bukan itu yang ia lakukan. Keynara hanya menangis dan sangat kecewa pada sahabatnya. Ia juga tidak menyangka jika sepupunya sendiri mulai mengambil alih sahabatnya.

     “apa sih maksud mereka? Anggista juga. Kenapa tiba tiba dia bisa sama Fiola. Aku bener bener nggak habis fikir sama Anggista. Kalo emang dia punya masalah sama aku, harusnya di bicarain baik baik. Bukan seperti ini. Apa bener sahabat itu kayak gini? Fiola. Aku bener bener kecewa sama dia. Kenapa sih harus kayak gini caranya?”

JUST A DREAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang