Sekarang tepat pukul Satu siang, dimana Jeno lagi nunggu Bomin Zaini disebuah Cafe dekat kampus. Sebenarnya Jeno sudah bilang sama yang lain supaya berhenti mikirin Hyunjin karena itu memang keputusannya, tapi Jeno sendiri masih penasaran tentang Bandar minuman yang dilakuin Hyunjin dan Han.
"Ada apa nih Jeno Edfano mau ketemu gua?" Bomin datang dan langsung duduk didepannya.
Jeno menatap Bomin, sebenarnya dia sedikit khawatir buat bahas, "lo tau pekerjaan Han tentang... bandar?"
"To the point banget lo. Minum dulu lah baru dateng nih gua." Bomin sedikit tertawa sambil panggil pelayan buat mesen kopi.
"Gua gak punya waktu banyak." Jawab Jeno dingin.
Bomin melongos dengarnya, "kenapa lo malah nanyain Han sama gua?"
"Karena lo temen deketnya."
Bomin malah tertawa, "bukan lagi sejak dia mutusin buat jadi Bandar. Gua sadar gua pun pria brengsek yang suka minum, but a jerk man like me won't think short like him. Gua gak mau masuk jeruji besi yang gak ada cewek seksinya sama sekali."
Bisa Jeno asumsikan disini, kalau Bomin gak tau apapun tentang Bandar yang dilakuin Han.
"Hyunjin ngilang, dan gua takut dia ada main sama Han lagi." Ucap Jeno.
Bomin mengerti sekarang.
"Seharusnya lo dan kawan-kawan lo bisa jaga Hyunjin."
"Maksud lo?"
Bomin sadar perkataannya menyinggung Jeno, pria yang terkenal sedikit sensitif.
"Temen lo itu gampang terpengaruh."
Jeno gak membantah, karena itu memang benar. Hyunjin terlalu mudah buat dibodoh-bodohin orang.
"Lo bilang kayak gini karena tiga bulan yang lalu lo berhasil ngehasut dia dengan mudah buat nyuruh selingkuh sama Ryujin kan? sampai lo rela ngorbanin Maserati lo?"
Jeno ngerti, dia mulai paham sekarang. Dia teringat Siyeon yang sangat sakit hati saat itu.
"Benar. Bodoh kan temen lo itu?" Ucapan Bomin terhenti saat Kopi yang dipesannya datang. "Lo pikir gua juga ngelakuin itu bukan tanpa tujuan?"
"Lo ada dendam sama Ryujin?" Tanya Jeno.
"Gua gak ada urusan sama Ryujin."
"...atau Hyunjin?" Tanya Jeno lagi. Bomin hanya diam.
"Terus kenapa lo lakuin itu? Lo tau kan pasti ada yang sangat sakit hati karena ini? Apa tujuan lo sebenarnya?" Desak Jeno. Dari ucapannya, Bomin tau Jeno sudah emosi.
"My first love, Gladys Siyeon." Jawab Bomin.
Jeno kaget bukan main. Reflek tangannya langsung menarik kerah kemeja Bomin.
"JADI TUJUAN LO BUAT NYAKITIN SIYEON, HAH?!"
Bomin tersenyum kaku, "lebih tepatnya buat Siyeon jatuh kepelukan gue dengan nyingkirin Hyunjin saat itu."
"Cara lo sampah!"
Bomin nahan tangan Jeno saat pria itu mau menonjoknya. "Tunggu bro! Kenapa lo yang marah? Lo suka sama Siyeon? Atau lo suka Ryujin karena gua jadiin cewek itu kambing hitam?"
Jeno terdiam, dia kalah telak. Keadaan kembali menyadarkan dia bahwa dia gak ada hubungan sama Siyeon. Dia gak berhak buat ngelarang Bomin ngedeketin Siyeon.
"Gua sadar cara gua salah. Tapi gua udah kepalang cemburu liat Siyeon yang ternyata udah punya pacar, sedangkan disini keadaan gue makin mengenaskan. Siyeon gak pernah ngeliat gue yang berusaha untuk selalu ada buat dia." Lanjut Bomin.
Jeno kembali duduk perlahan, lagi-lagi dia ditampar kenyataan kalau yang menyukai cewek secantik Siyeon pun bukan hanya dirinya, mungkin semua cowok di kampusnya.
"Tapi tenang. Itu udah berjalan sekitar tiga bulan lalu. Gua gak ada niatan buat milikin Siyeon lagi." Ucap Bomin sambil kembali menyesap kopinya. "Dan gua denger lo juga sahabatnya Siyeon kan?"
Jeno gak jawab, dia cuma liatin Bomin dengan sinis.
"Kebetulan gua mau nanya, lo pasti tau kan tentang rumor Siyeon yang... lost her virgin?"
Sial, Bomin suka banget mancing kemarahan Jeno.
Brak!
Jeno berdiri dengan menendang keras kursi tepat disamping Bomin. Semua pengunjung Cafe sontak kaget dan melihat kearahnya.
"Gua ingetin sekali lagi, lebih baik lo tutup mulut sampah lo itu." Tegas Jeno dengan penekanan.
"Oh lo tau? Berarti bener ya lo sahabat deket Siyeon?" Bukannya takut, Bomin justru merasa tertantang.
Pria itu berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Jeno, sambil berbisik, "itulah kenapa gua gak mau milikin Siyeon lagi. Tapi gua penasaran, gimana desahan seksi dia yang mengerang dibawah tubuh gua."
"BRENGSEK!"
BUG!
BUG!
BUG!
Jeno langsung menghantam wajah Bomin dengan pukulan keras berkali-kali. Saat ini dia gak perduli dengan statusnya yang gak berhak atas Siyeon, dia gak perduli dengan orang sekitar yang sudah histeris melihat mereka. Dia gak perduli apapun.
Karena kalau sudah berkaitan dengan wanita yang sangat dicintainya itu, dia gak bisa tinggal diam.
Jeno juga akan pastikan, mulut Bomin gak akan pernah ngeluarin kata-kata kotor lagi untuk Siyeon-nya.
Bomin terlihat pasrah. Dia tau, bahkan semua orang tau kalau Jeno sudah marah, gak ada yang bisa mengentikannya. Itu terlihat jelas saat dia bertengkar dengan salah satu kating yang berakhir koma tiga minggu di UGD.
"Peringatan terakhir buat lo, gua emang gak ada hak buat marah kayak gini, tapi kalo berani lo ngomong kayak gitu lagi, gua bisa buat bibir busuk lo itu cacat selamanya!"
Jeno mendorong tubuh Bomin kelantai dengan kasar dan pergi begitu saja meninggalkan pria itu.
"Halo, Siyeon?"
"Kenapa Jeno?"
"Lo dirumah kan?"
Ya, Jeno butuh Siyeon yang tersenyum manis buat ngeredain amarahnya saat ini.
☣☣☣
Guys, gua udah cantumin ya diawal kalau cerita ini mengandung unsur DEWASA. Jadi jangan kaget kalau part seterusnya agak agak⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️⚠️
KAMU SEDANG MEMBACA
'TOUCHING' ▪ Jeno x Siyeon ⚠️ ft. 00L ✔
Подростковая литератураKenakalan Remaja, having sex yang mereka lakuin diluar pernikahan, dan lainnya gak selalu berakhir menyenangkan. Bahkan bisa jadi bumerang sendiri untuk mereka.
